2 KORINTUS 5:17
Teks
Paulus baru saja berbicara tentang kematian satu orang yang menyeret semua orang ke dalam kematian itu, lalu ia menarik kesimpulannya: siapa pun yang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Yang lama, cara lama menilai orang, cara lama menilai Kristus sendiri, cara lama menghitung siapa yang berharga dan siapa yang tidak, sudah lewat. Dan Paulus tidak berkata "akan datang", ia berkata "lihatlah", seolah menunjuk ke sesuatu yang sedang berdiri di depan mata jemaat Korintus yang keras kepala itu. Bayangkan tangannya terangkat, jarinya menunjuk ke arah mereka sendiri: inilah barang barunya. Kalian. Jemaat yang ribut soal siapa rasul sejati dan siapa pembicara yang lebih memukau. Ciptaan baru itu kelihatan sepele, tetapi Paulus bersikeras: itu ciptaan.
Inti
Kata yang dipakai Paulus adalah ktisis, ciptaan, kata yang sama yang dipakai untuk langit dan bumi. Ia tidak sedang berkata bahwa orang percaya mendapat kesempatan kedua, atau lembaran kosong untuk diisi lebih rapi. Ia berkata bahwa Allah sedang melakukan hal yang sama seperti ketika terang dipanggil dari kegelapan: mencipta, bukan memperbaiki. Dan itu sebabnya klaim ini begitu mengganggu. Kita lebih suka bahasa perbaikan, karena perbaikan menyisakan ruang bagi usaha kita, bagi kemajuan yang bisa diukur, bagi rasa bangga yang halus. Penciptaan tidak menyisakan apa pun bagi yang dicipta. Ayat berikutnya menutup celah itu dengan tegas: "Semua hal ini adalah dari Allah." Yang menentukan statusmu bukan perubahan yang kaurasakan, melainkan di mana kau berdiri: "di dalam Kristus". Di situ, dan hanya di situ, yang lama benar-benar sudah berlalu.
Benang Merah
Bahasa yang dipilih Paulus bukan bahasa keagamaan, melainkan bahasa halaman pertama Alkitab. Di Kejadian, Allah berhadapan dengan kekosongan dan kegelapan, lalu Ia berfirman, dan ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Nabi Yesaya kemudian memakai kata kerja yang sama untuk masa depan: Allah akan mencipta lagi, langit baru, bumi baru, umat yang dikembalikan dari pembuangan. Yang mengejutkan dalam kalimat Paulus adalah penempatan waktunya. Masa depan itu tidak ditunda sampai akhir zaman; ia sudah pecah masuk, dan tempat pecahnya adalah orang-orang biasa yang berada di dalam Kristus. Kematian dan kebangkitan Yesus bukan sekadar menyelesaikan utang dosa, melainkan membuka dunia baru dan menarik kita masuk ke dalamnya. Karena itu Paulus langsung melanjutkan ke pendamaian: ciptaan baru dan dunia yang didamaikan dengan Allah adalah satu peristiwa yang sama, dilihat dari dua sisi.
Cermin
Pertanyaan yang paling tajam dari ayat ini bukan "apakah saya sudah berubah", melainkan "dengan ukuran apa saya menilai orang". Paulus baru saja berkata bahwa ia tidak lagi mengenal siapa pun menurut keadaan lahiriahnya. Kita melakukannya sepanjang hari tanpa sadar: menilai rekan kerja dari produktivitasnya, menilai anak dari nilai rapornya, menilai saudara seiman dari kerapian hidupnya, menilai diri sendiri dari jumlah hal yang berhasil diselesaikan minggu ini. Ada seseorang yang sudah lama kauletakkan dalam kategori: yang sulit, yang gagal, yang mengecewakan, yang tidak akan berubah. Paulus berkata kategori itu termasuk "hal-hal yang lama". Hari ini, tuliskan satu nama orang yang diam-diam sudah kauhakimi tidak mungkin berubah, lalu ucapkan dengan suara keras di depan nama itu: "Orang ini ciptaan baru di dalam Kristus," dan doakan dia satu kalimat. Sepuluh menit, tidak lebih.
Intertekstual
Dua gema patut didengar. Yang pertama, Kejadian 1: Roh Allah melayang di atas air yang kacau, dan terang dipanggil keluar dari kegelapan. Paulus sendiri sudah memakai gambar itu lebih awal dalam surat ini ketika ia berbicara tentang terang yang bersinar di dalam hati. Ciptaan baru bukan metafora manis; itu klaim bahwa Allah sedang bekerja di dalam diri manusia dengan kuasa yang sama seperti ketika alam semesta dimulai. Yang kedua, Yehezkiel 36, di mana Allah berjanji mengganti hati batu dengan hati daging dan menaruh Roh-Nya dalam umat-Nya. Janji itu menjelaskan mengapa Paulus menyebut Roh sebagai "jaminan" di ayat lima. Yang baru itu belum lengkap, tetapi uang mukanya sudah dibayar, dan uang muka selalu mengikat pihak yang membayarnya.
Konteks
Korintus adalah kota pelabuhan yang hidup dari perdagangan, gengsi, dan reputasi. Siapa yang pandai berbicara mendapat pengikut; siapa yang tampil lemah dianggap tidak layak didengar. Ke dalam budaya itu masuk Paulus, yang tubuhnya babak belur, yang pekerjaannya membuat tenda, yang dalam bab-bab sebelumnya mengakui bahwa ia tertekan dan hampir putus asa. Lawan-lawannya di jemaat membanggakan "hal-hal lahiriah", surat rekomendasi, karisma, penampilan. Mereka menilai Paulus persis seperti kota itu menilai segalanya. Jadi ketika Paulus menulis tentang ciptaan baru, ia tidak sedang menyampaikan renungan umum tentang pertobatan pribadi. Ia sedang membela cara pandang yang terbalik: di dalam Kristus, daftar peringkat kota itu sudah kedaluwarsa, termasuk daftar yang dipakai jemaat untuk mengukur rasulnya sendiri.
Pertanyaan
Lalu mengapa yang lama terasa begitu hidup? Kemarahan yang sama, kebiasaan yang sama, kecemasan yang sama bangun bersamamu pagi ini. Paulus tidak menutupi ketegangan itu; justru di bab yang sama ia menulis bahwa kita mengeluh dan terbebani dalam tubuh ini, dan bahwa kita hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan. Artinya: "lihatlah" dalam ayat tujuh belas bukan undangan untuk memeriksa perasaanmu, melainkan untuk memandang ke arah Kristus. Yang lama sudah berlalu sebagai vonis Allah, bukan sebagai laporan survei tentang kondisi batinmu. Itu tidak menghapus pergumulan, dan Paulus tidak berpura-pura demikian. Ia hanya menolak membiarkan pergumulan itu menentukan identitasmu. Kau bukan proyek renovasi yang mandek. Kau ciptaan yang belum selesai dibuka.
Refleksi
Kalau Allah tidak lagi menilaimu "menurut keadaan lahiriahnya", ukuran mana yang masih kaupakai untuk diam-diam menilai dirimu sendiri?
Di bagian hidupmu yang mana kau lebih suka bahasa perbaikan daripada bahasa penciptaan, dan mengapa?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 5:17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 KORINTUS 5:17?
Tentang apakah 2 KORINTUS 5:17?
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 5:17?
Apa yang 2 KORINTUS 5:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 KORINTUS 5:17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ada rindu dalam diriku yang tidak bisa dipuaskan apa pun di dunia ini. Tubuh ini lelah, hatiku sering mengeluh. Tetapi aku tahu Engkau menyiapkan rumah bagiku. Tolong aku menanti dengan sabar, dan tetap percaya hari itu sungguh datang.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau sendiri yang mengambil langkah pertama dan mendamaikan aku dengan diri-Mu melalui Kristus. Aku tidak perlu lagi hidup sebagai musuh-Mu. Terima kasih juga karena Engkau mempercayakan pelayanan pendamaian itu ke tanganku yang lemah ini.
Paulus menyebut tubuh ini "kemah", bukan rumah. Kemah itu dipasang sebentar, digoyang angin, lalu dibongkar. Mungkin kamu merasakannya: tubuh yang makin lelah, sakit yang tak kunjung pergi. Tapi dengar apa yang dia tahu: "kami mempunyai suatu bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat oleh tangan manusia." Bukan akan punya. Sudah punya. Yang rapuh padamu bukan akhir ceritamu.
Dan, Dia telah mati bagi semua orang supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup bagi diri mereka sendiri, melainkan bagi Dia yang telah mati dan bangkit bagi mereka."
Perhatikan: Kristus mati bukan hanya supaya kamu selamat, tetapi supaya arah hidupmu berubah. Coba jujur hari ini, keputusan-keputusan kecilmu tadi, untuk siapa kamu ambil?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi