ULANGAN 4:10
Teks
Musa membawa umat itu kembali ke satu hari tertentu: hari ketika mereka berdiri di hadapan TUHAN di Gunung Horeb. Di sana Allah berkata kepada Musa, "Kumpulkanlah mereka di hadapan-Ku, biarlah mereka mendengarkan yang harus Kukatakan." Tujuannya disebutkan dengan jelas, bahkan dua kali lipat: supaya mereka belajar takut akan Dia seumur hidup, dan supaya apa yang mereka dengar itu diteruskan kepada anak-anak mereka. Jadi ini bukan sekadar kenangan religius yang hangat, melainkan sebuah perintah dari Allah sendiri untuk mengumpulkan, memperdengarkan, dan mewariskan. Satu hari di kaki gunung yang berapi itu dimaksudkan untuk membentuk seluruh generasi yang belum lahir.
Inti
Perhatikan siapa yang mengambil inisiatif. Bukan Israel yang mendaki untuk mencari Allah; Allah yang berkata, "Kumpulkanlah mereka di hadapan-Ku." Kata Ibrani di sini, qahal, berarti menghimpun menjadi satu jemaat. Israel tidak menjadi umat karena mereka berkumpul, melainkan karena Allah menghimpun mereka untuk mendengar suara-Nya. Dan yang lahir dari pendengaran itu bukan informasi, tetapi rasa takut akan Allah: hormat yang mengubah cara seseorang hidup, bekerja, dan mati. Perhatikan juga kata "belajar". Takut akan TUHAN tidak muncul otomatis dari darah atau keturunan; itu dipelajari, melalui firman yang diperdengarkan. Di sinilah seluruh Alkitab sudah menunjuk ke depan: Allah menyelamatkan dengan berbicara, dan umat-Nya dibentuk oleh apa yang mereka dengar, bukan oleh apa yang mereka lihat atau buat sendiri.
Benang Merah
Kata yang dipakai Musa untuk peristiwa Horeb ini kemudian menjadi salah satu kata terpenting dalam Perjanjian Baru. Qahal, himpunan yang dipanggil untuk mendengar, diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sebagai ekklesia, kata yang kita kenal sebagai "jemaat" atau "gereja". Artinya: setiap kali orang percaya berkumpul di sekitar firman, mereka sedang berdiri di kaki gunung yang sama, walaupun asapnya sudah lain. Dan perhatikan apa yang kurang di Horeb. Mereka mendengar suara, tetapi ayat 12 menegaskan, "Kamu mendengar suara-Nya tetapi kamu tidak melihat sesuatu, hanya suara yang terdengar." Suara tanpa rupa. Seluruh Perjanjian Lama hidup dalam ketegangan itu, sampai suara itu mengambil tubuh. Dalam Yesus Kristus, Allah yang dulu bersembunyi di balik awan tebal berdiri di hadapan manusia dengan wajah yang bisa dipandang, disentuh, dan akhirnya disalibkan.
Cermin
Ayat ini menelanjangi satu asumsi yang diam-diam kita pelihara: bahwa iman diwariskan secara otomatis. Anak-anak yang tumbuh di rumah Kristen, ikut ke gereja, tahu lagu-lagunya, dianggap sudah aman. Tetapi Allah berkata bahwa takut akan Dia harus dipelajari, dan bahwa pengajarnya adalah orang tua yang pernah melihat sesuatu dengan mata sendiri. Pertanyaannya jadi tajam: apa yang sebenarnya Anda ceritakan di meja makan? Prestasi, keluhan kantor, harga-harga? Atau pernahkah Anda berkata dengan jujur kepada anak Anda, "Dulu ayah takut sekali soal pekerjaan itu, dan inilah yang Tuhan lakukan"? Ayat 9 memperingatkan: jangan sampai semua itu hilang dari hatimu. Hari ini juga, sebelum tidur, ceritakan kepada satu orang di rumah Anda satu hal konkret yang Anda sendiri lihat Allah kerjakan dalam hidup Anda.
Tokoh Utama
Allah dalam ayat ini bukan tokoh yang pasif menunggu disembah. Dia memerintahkan pengumpulan, Dia menentukan agenda, Dia menyebutkan tujuannya sampai ke generasi yang belum ada. Ada sesuatu yang hampir mengejutkan dalam kerinduan-Nya: Allah yang digambarkan beberapa ayat kemudian sebagai "api yang menghanguskan dan Allah yang pencemburu" ternyata paling ingin didengar, bukan ditakuti dari jauh. Api dan awan gelap itu bukan penghalang, melainkan cara-Nya berbicara tanpa membinasakan. Dan ayat 7 sudah memberi kuncinya: "Tidak ada bangsa lain yang mempunyai ilah yang begitu dekat seperti TUHAN, Allah kita." Kedekatan dan kekudusan bukan dua kutub yang harus dikompromikan dalam diri Allah; keduanya bertemu di gunung yang menyala, dan kelak di bukit Golgota.
Teks Lain
Surat Ibrani pasal 12 mengambil adegan Horeb ini secara langsung: gunung yang menyala, kegelapan, suara yang membuat umat gemetar dan memohon supaya berhenti. Lalu penulisnya berkata bahwa orang percaya tidak datang ke gunung itu, melainkan ke Sion, ke kota Allah yang hidup, dengan Yesus sebagai Pengantara perjanjian yang baru. Perhatikan bahwa yang berubah bukan Allahnya, melainkan tempat berdirinya kita. Bandingkan juga peristiwa di gunung pemuliaan dalam Matius 17: lagi-lagi gunung, lagi-lagi awan, lagi-lagi suara. Tetapi kali ini suara itu tidak mengeja sepuluh perintah; ia menunjuk kepada Anak dan memerintahkan para murid untuk mendengarkan Dia. Perintah Horeb tidak dibatalkan, tetapi diarahkan kepada satu Pribadi.
Pertanyaan
Kalau mendengar suara Allah secara langsung menghasilkan takut akan TUHAN seumur hidup, mengapa generasi yang sama itu jatuh di Baal-Peor, seperti disebut Musa di ayat 3? Mereka mendengar dengan telinga sendiri, dan tetap menyeleweng. Ini pertanyaan yang tidak boleh diperhalus. Rupanya pendengaran saja tidak cukup; api dan guntur pun tidak sanggup mengubah hati manusia dari dalam. Musa sendiri tahu itu, dan karena itu di ayat 29 ia sudah membayangkan pembuangan dan pencarian ulang: "Namun, di sanalah kamu akan mencari TUHAN, Allahmu." Jawaban penuhnya tidak ada di pasal ini. Ia baru muncul ketika perjanjian yang tertulis di loh batu ditulis ulang di dalam hati. Sampai saat itu, kita berdiri bersama Israel: sudah mendengar, belum selesai diubah.
Refleksi
Apa satu peristiwa dalam hidup Anda yang benar-benar Anda "lihat dengan mata sendiri", dan mengapa Anda jarang menceritakannya?
Ketika Anda duduk dalam ibadah hari Minggu, sadarkah Anda bahwa Allah yang menghimpun, bukan Anda yang datang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 4:10
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 4:10?
Tentang apakah ULANGAN 4:10?
Apa konteks historis dari ULANGAN 4:10?
Apa yang ULANGAN 4:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 4:10 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, Engkau tidak pernah menonton dari jauh. Engkau turun, membuka jalan, dan membawa umat-Mu keluar dengan tangan-Mu sendiri. Ingatkan aku akan hal itu saat aku merasa ditinggalkan. Allah yang membebaskan dulu masih Allahku hari ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi