MATIUS 5:4
Teks
Di lereng bukit itu, di hadapan murid-murid yang baru saja mendengar bahwa orang miskin dalam roh memiliki Kerajaan Surga, Yesus melanjutkan dengan kalimat yang terdengar hampir mustahil: "Diberkatilah mereka yang berdukacita sebab mereka akan dihibur." Ia tidak berkata bahwa dukacita itu baik, dan Ia tidak menjanjikan bahwa penyebab air mata itu akan segera hilang. Ia menempatkan orang yang sedang menangis di dalam daftar orang yang diberkati, dan alasannya bukan terletak pada kualitas tangisnya, melainkan pada sesuatu yang akan datang dari luar dirinya: penghiburan. Kalimat ini pendek, tetapi susunannya menohok. Berkat diucapkan sekarang, di tengah ratapan; penghiburan disebut sebagai masa depan yang pasti. Antara keduanya terbentang jarak yang justru menjadi ruang tempat iman bernapas.
Inti
Perhatikan siapa yang bertindak dalam kalimat ini. "Mereka akan dihibur" adalah kalimat pasif tanpa pelaku yang disebut, dan dalam cara bicara Yahudi itu adalah sopan santun untuk menyebut Allah tanpa menyebut nama-Nya. Artinya: Allah sendirilah yang akan menghibur. Di sinilah teks ini menyentuh jantung Injil. Berkat di sini bukan upah bagi orang yang cukup sedih, melainkan anugerah yang diberikan kepada orang yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain kehilangannya. Dukacita yang dimaksud Yesus lebih luas daripada kedukaan karena kematian; ia mencakup ratapan atas dunia yang retak, atas dosa sendiri, atas umat yang tersesat. Orang yang berdukacita adalah orang yang menolak berdamai dengan keadaan dunia sebagaimana adanya, dan justru karena itu ia sudah hidup dari kerinduan akan Kerajaan yang sedang datang.
Benang Merah
Kalimat Yesus ini bukan penemuan baru; ia mengangkat kembali janji yang sudah lama tergantung di udara. Yesaya berbicara tentang seorang yang diurapi untuk "menghibur semua orang berkabung," dan seluruh pengharapan Israel setelah pembuangan bergantung pada janji itu: bahwa Allah akan datang sendiri kepada umat yang berkabung dan membalikkan keadaan mereka. Ketika Yesus mengucapkan ucapan bahagia ini, Ia sebenarnya sedang berkata bahwa waktu penghiburan itu sudah mulai, karena Sang Penghibur sedang berdiri di lereng bukit. Dan garis itu tidak berhenti di sana. Ia melewati Getsemani, tempat Yesus sendiri berdukacita sampai ke dasar, dan berakhir di Wahyu, di mana Allah menghapus segala air mata. Penghiburan bukan penghapusan kenangan, melainkan penciptaan ulang dunia tempat air mata tidak lagi punya sebab.
Cermin
Kita punya banyak cara untuk tidak berdukacita. Kita menyibukkan diri, kita menyebut kehilangan sebagai "proses," kita mengirim pesan singkat kepada orang yang berkabung supaya tidak perlu duduk di sampingnya. Di gereja pun kita kerap terburu-buru menempelkan ayat pada luka yang belum sempat dibersihkan. Yesus tidak melakukan itu. Ia tidak menyuruh orang berhenti menangis; Ia menyebut mereka diberkati sementara mereka masih menangis. Itu berarti dukacitamu atas pernikahan yang mendingin, atas anak yang menjauh dari iman, atas tubuh yang tidak lagi bisa diandalkan, atas dosa yang berulang meski sudah puluhan kali kau sesali, bukan tanda bahwa imanmu gagal. Justru air mata itu adalah cara jujurmu mengakui bahwa dunia belum seperti yang Allah maksudkan. Hari ini: sebutkan dengan suara keras, sendirian di kamar atau di mobil, satu kehilangan yang selama ini kau perhalus di hadapan Allah, dan katakan apa adanya tanpa menambahkan kalimat penenang.
Profil
Yang duduk di lereng bukit itu bukan orang-orang yang hidupnya nyaman. Mereka petani dan nelayan Galilea yang membayar pajak berlapis, kepada Herodes dan kepada Roma, sering kehilangan tanah warisan karena utang. Banyak dari mereka mengubur anak sebelum anak itu dewasa. Ratapan bukan konsep rohani bagi mereka, melainkan suara yang terdengar di kampung sebelah minggu lalu. Dan di atas semua itu ada dukacita bersama: umat perjanjian hidup di bawah kaki bangsa kafir, dan Bait Allah berdiri di bawah pengawasan tentara asing. Ketika Yesus menyebut "mereka yang berdukacita," telinga mereka menangkap dua hal sekaligus, kesedihan pribadi dan penantian nasional. Yang mengejutkan bagi mereka bukanlah bahwa Allah akan menghibur, melainkan bahwa Ia menyebut mereka diberkati sekarang, sebelum satu pun keadaan berubah.
Konteks
Adegan ini terjadi di awal pelayanan Yesus di Galilea, ketika orang banyak mulai berdatangan karena penyembuhan. Ia naik ke bukit dan duduk, dan duduk adalah posisi resmi seorang guru yang hendak mengajar dengan otoritas, bukan berpidato spontan. Murid-murid mendekat; orang banyak mendengar dari jarak yang lebih jauh. Yang Ia buka bukan daftar syarat masuk Kerajaan, melainkan gambaran tentang siapa yang ternyata sudah dirangkul Kerajaan itu. Dalam masyarakat yang mengukur berkat dengan panen, keturunan, dan kehormatan keluarga, urutan Yesus terbalik total. Ucapan bahagia kedua ini berdiri tepat setelah "miskin dalam roh," dan itu bukan kebetulan: kemiskinan rohani menghasilkan ratapan. Orang yang tahu ia bangkrut di hadapan Allah tidak bisa tidak berkabung.
Pertanyaan
Lalu kapan penghiburan itu datang? Ada orang yang berdukacita seumur hidup dan mati dengan luka yang sama. Kata kerja Yesus berbentuk masa depan, dan itu jujur sekaligus keras: Ia tidak menjanjikan bahwa besok pagi rasanya akan lebih ringan. Kita boleh mengakui bahwa janji ini kadang terasa terlalu jauh untuk digenggam pukul tiga pagi. Yang menahan kita dari sinisme bukanlah argumen, melainkan kenyataan bahwa Sang Pengucap janji ini sendiri masuk ke dalam dukacita terdalam dan tidak diluputkan darinya. Allah tidak menghibur dari kejauhan. Ia menghibur sebagai Dia yang pernah menangis di depan kubur sahabat-Nya. Sisanya tetap misteri, dan misteri itu tidak boleh kita tutup dengan kalimat manis.
Refleksi
Dukacita mana dalam hidupmu yang selama ini kau anggap sebagai tanda iman yang lemah, padahal mungkin justru itulah tempat Yesus menyebutmu diberkati?
Kalau penghiburan itu datang dari luar dirimu, apa yang harus berhenti kau lakukan supaya kau bisa menerimanya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 5:4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 5:4?
Tentang apakah MATIUS 5:4?
Apa konteks historis dari MATIUS 5:4?
Apa yang MATIUS 5:4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 5:4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
What strikes me most about the Sermon on the Mount is not the content but the listeners. No rabbis, no scribes, just fishermen and beggars and the sick. Jesus gave his deepest teaching to people nobody took seriously. That comforts me whenever I feel too small for the Kingdom again.
Kamu telah mendengar firman yang mengatakan, 'Kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu.'" Perhatikan: bagian kedua itu tidak pernah Allah firmankan. Manusia yang menambahkannya, karena lebih mudah mengasihi kalau ada daftar orang yang boleh dibenci. Adakah nama yang diam-diam kamu taruh di daftar itu? Yesus datang menghapusnya.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi