EFESUS 6
Teks
Paulus menutup suratnya dengan menurunkan teologi besarnya ke lantai rumah: anak-anak taat, ayah tidak memancing amarah anak, budak bekerja dengan hati, tuan berhenti mengancam, sebab keduanya punya Tuan yang sama di surga. Lalu ia mengangkat pandangan ke medan yang tak terlihat: pakailah seluruh perlengkapan senjata Allah, karena perjuangan kita bukan melawan daging dan darah. Dan setelah semua senjata itu disebut, yang tersisa hanyalah doa, termasuk doa bagi seorang rasul yang sedang dirantai.
Intinya
Perhatikan bahwa senjata itu disebut "perlengkapan senjata Allah", bukan senjata milik kita yang dipinjamkan Allah. Nabi Yesaya pernah menggambarkan Allah sendiri mengenakan keadilan sebagai baju zirah dan keselamatan sebagai ketopong ketika Ia turun membela umat-Nya yang tak punya penolong. Paulus mengambil gambaran itu dan memakaikannya pada jemaat. Artinya: yang dipakai orang percaya bukan kesalehan buatan sendiri, melainkan sifat dan karya Allah yang sudah dikenakan pada mereka. Karena itu perintahnya bukan "menang", melainkan "berdirilah teguh". Kemenangan sudah menjadi milik Kristus; tugas kita bertahan di posisi yang telah Ia rebut. Ini bukan pasifisme, tetapi realisme iman: kekuatan kita adalah kekuatan pinjaman, dan justru itulah yang membuatnya dapat dipercaya.
Benang Merah
Ada dua garis panjang yang bertemu di pasal ini. Yang pertama garis Sinai: Paulus mengutip hukum kelima, "Hormatilah ayah dan ibumu," dan menyebutnya perintah pertama yang disertai janji. Hukum yang diberikan kepada Israel di gunung itu kini diterapkan pada anak-anak Yunani di Efesus, bukti bahwa Injil tidak membatalkan kehendak Allah tetapi memindahkannya ke dalam hati yang baru. Garis kedua adalah garis nabi: Allah sang pejuang yang mengenakan senjata untuk menyelamatkan umat-Nya. Dalam Kristus, Pejuang itu telah datang, dan pakaian perang-Nya sekarang dibagikan kepada tubuh-Nya. Rumah tangga dan medan perang rohani ternyata satu proyek yang sama: Allah memulihkan dunia mulai dari meja makan sampai ke "langit" tempat kuasa kegelapan bercokol.
Cermin
Paulus tidak berkata kepada anak-anak "jangan membangkang" saja; ia juga menoleh kepada para ayah: jangan memicu anak-anakmu menjadi marah. Kalimat itu masih menusuk. Banyak dari kita tahu persis bagaimana rasanya menjadi anak yang dibuat marah oleh orang yang seharusnya melindungi, dan tanpa sadar mengulanginya di rumah sendiri, dengan suara yang meninggi karena hari kerja yang buruk. Lalu ada kata kepada para tuan: berhentilah mengancam. Ancaman adalah senjata orang yang punya kuasa dan malas memakai kasih. Kita memakainya di kantor, di kelas, di grup chat pengurus gereja. Dan jika benar bahwa Tuan kita tidak pilih kasih, maka setiap ancaman yang kita lontarkan ke bawah sedang didengar dari atas.
Tokoh Utama
Yang paling telanjang di pasal ini justru Paulus sendiri. Ia menyebut dirinya "utusan yang terbelenggu", sebuah kalimat yang seharusnya mustahil: seorang duta besar kekaisaran justru kebal ditangkap. Paulus adalah duta yang dirantai, dan ia tidak menutupinya dengan bahasa kemenangan. Yang ia minta bukan pembebasan, melainkan keberanian membuka mulut. Ia yang baru saja menulis tentang pedang Roh mengaku bahwa kata-kata itu harus dikaruniakan kepadanya; ia tidak memilikinya sebagai stok pribadi. Dan ia menitipkan penghiburan jemaat bukan pada dirinya, tetapi pada Tikhikus, seorang saudara yang setia mengantar kabar. Inilah lanskap batin seorang rasul: kuat dalam Tuhan, tetapi cukup jujur untuk meminta didoakan.
Intertekstualitas
Kutipan hukum kelima itu membawa serta janjinya: "supaya hidupmu baik dan kamu akan berumur panjang di bumi". Bacalah itu berdampingan dengan penulisnya yang sedang menunggu eksekusi di Roma, dan Anda merasakan ketegangannya. Paulus tidak berumur panjang. Apakah janji itu gagal? Justru di sini Perjanjian Lama dan Baru saling menjelaskan: janji tanah dan umur panjang di Sinai adalah bentuk awal dari warisan yang lebih besar, dan Paulus sudah menyebut jaminan warisan itu di awal suratnya. Ketegangan kedua lebih tajam: Paulus menyuruh budak taat, bukan menyuruh tuan membebaskan. Namun ia menempatkan keduanya di bawah satu Tuan yang tidak pilih kasih, dan dalam suratnya kepada Filemon ia menagih konsekuensinya secara pribadi, dengan meminta agar seorang budak diterima sebagai saudara. Injil di sini bekerja seperti akar di bawah aspal: lambat, tetapi mengangkat seluruh permukaan.
Konteks
Efesus adalah kota kuil Artemis, pusat sihir dan jimat; naskah-naskah magis diperjualbelikan di sana. Ketika Paulus menyebut "pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, kekuatan-kekuatan dunia kegelapan ini", pembacanya tidak mendengar metafora, mereka mendengar dunia yang mereka baru tinggalkan. Dan mereka mendengarnya sebagai orang yang tinggal di rumah tangga Romawi, di mana kepala keluarga secara hukum memiliki kuasa hampir mutlak atas anak dan budak. Bahwa Paulus berbicara langsung kepada anak-anak dan budak, memanggil mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab di hadapan Kristus, sudah mengguncang tatanan itu. Bahwa ia lalu memerintahkan para tuan berhenti mengancam, karena ada Tuan di atas mereka, adalah pembongkaran yang dimulai dari dalam, ditulis oleh seorang tahanan yang menyebut dirinya duta.
Refleksi
Senjata mana dari daftar Paulus yang paling jarang saya pakai, dan apa yang itu ungkapkan tentang di mana saya sebenarnya mencari kekuatan?
Di relasi mana saya sedang memegang kuasa, dan kapan terakhir kali saya memakai ancaman, entah halus atau terbuka, terhadap orang yang berada di bawah saya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 6?
Tentang apakah EFESUS 6?
Apa konteks historis dari EFESUS 6?
Apa yang EFESUS 6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Setelah menyebut perlengkapan senjata satu per satu, Paulus tidak menutup dengan perintah menyerang, melainkan dengan doa: "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dengan segala doa dan permohonan." Dan doa itu bukan terutama untuk dirimu sendiri, tetapi "untuk semua orang kudus." Di tengah pertempuran, kamu berjaga sambil menyebut nama saudaramu. Siapa nama yang kamu bawa hari ini?
Kakimu berkasutkan kesiapsediaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera." Perhatikan: yang dipakai di kaki bukan pedang, melainkan damai. Sepatu prajurit dibuat supaya ia tidak tergelincir saat tanah licin. Jadi kalau hari ini kakimu goyah, tanyakan: masihkah damai dari Injil itu yang kau injak? Dan ke arah mana kaki itu kau langkahkan?
Ambillah juga ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah." Perhatikan, dari seluruh perlengkapan itu, hanya satu yang menyerang, dan itu bukan milikmu. Pedang itu milik Roh. Yesus sendiri memakainya di padang gurun: firman yang Dia hafal, bukan yang Dia karang. Kalau hari ini kamu merasa tak punya senjata, mungkin bukan kekuatan yang kurang, melainkan firman yang jarang kamu simpan.
Terima kasih, Tuhan, karena pekerjaan yang biasa saja pun berharga di mata-Mu. Aku bersyukur boleh melayani dengan hati yang baik, seperti kepada-Mu dan bukan kepada manusia, sehingga tugas kecil hari ini tidak pernah sia sia.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
