YESAYA 29
Teks
Nubuat ini dibuka dengan nama yang aneh: "Celakalah Ariel, Ariel, kota tempat Daud berkemah." Kota itu akan dikepung sampai suaranya tinggal bisikan dari debu, tetapi pasukan yang mengepungnya akan lenyap secepat mimpi orang lapar yang bangun dengan perut kosong. Di tengah nubuat itu Tuhan menyingkap penyakit yang sebenarnya: sebuah bangsa yang mulutnya dekat tetapi hatinya jauh, yang penglihatannya tersegel seperti kitab yang tak bisa dibaca siapa pun. Dan pasal ini berakhir bukan dengan hukuman, melainkan dengan pembalikan total: orang tuli mendengar, orang buta melihat, orang miskin bersukacita, dan mereka yang pikirannya sesat justru mendapat pengertian.
Inti
Nama "Ariel" dalam bahasa Ibrani kemungkinan besar berarti tungku perapian mezbah, tempat korban dibakar. Yesaya memanggil Yerusalem dengan nama mezbahnya sendiri, lalu berkata: Aku akan membuatmu menjadi apa yang selama ini kaulakukan pada binatang korbanmu. Kota yang membakar korban akan menjadi tempat pembakaran. Itulah inti yang menusuk: ibadah yang rutin tidak melindungi siapa pun dari Allah yang disembahnya. "Tahun demi tahun, biarlah perayaan-perayaan terus berlangsung" bukan pujian, itu sindiran. Allah di sini bukan penjaga sistem religius, Dia adalah pihak yang berperkara dengan sistem itu. Dan justru karena Dia berperkara, Dia tidak melepaskan: "dia akan tetap menjadi Ariel bagi-Ku."
Benang Merah
Ayat 13 adalah ayat yang dikutip Yesus ketika Ia berhadapan dengan orang Farisi soal cuci tangan: umat yang menghormati Allah dengan bibir sementara hatinya jauh, dengan penghormatan yang "hanyalah perintah yang diajarkan manusia." Yesus tidak sedang menemukan kritik baru; Ia sedang berkata bahwa penyakit Ariel belum sembuh setelah tujuh abad. Tetapi Ia juga menggenapi sisi lain pasal ini. Ketika Yohanes Pembaptis bertanya dari penjara siapa Yesus sebenarnya, jawaban Yesus adalah daftar dari ayat 18 dan 19: orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang miskin menerima kabar baik. Kitab yang tersegel itu akhirnya dibuka, dan yang membukanya adalah Dia yang dilempar keluar oleh para bijak Yerusalem.
Cermin
Bacalah ayat 15 pelan-pelan: "Siapa yang akan melihat kita? Siapa yang akan mengetahui apa yang kita lakukan?" Itu bukan bahasa ateis, itu bahasa orang beriman yang membuat perhitungan. Kita mengenalnya. Angka yang sedikit digeser dalam laporan keuangan gereja atau kantor. Percakapan yang tidak akan pernah kita ceritakan kepada pasangan. Kesan rohani yang kita bangun di grup WhatsApp sementara di rumah kita dingin dan tajam. Yesaya menyebutnya "memutarbalikkan segala sesuatu": tanah liat yang berpikir ia bisa menilai penjunan. Yang menakutkan bukan bahwa Allah marah, melainkan bahwa Dia bisa membiarkan mata kita tertutup, mencurahkan "roh yang membuat kamu tidur nyenyak," sehingga kita tetap rajin beribadah tanpa merasakan apa-apa lagi.
Pertanyaan
Ayat 10 sulit dilewati begitu saja. Tuhan sendiri yang menutup mata para nabi dan menyelubungi kepala para pelihat. Bukan Asyur, bukan setan, bukan kebodohan manusia: Tuhan. Apakah Allah membutakan orang lalu menghukum mereka karena buta? Teks ini tidak memberi kita jalan keluar yang rapi. Yang bisa kita lihat adalah urutannya: ayat 9 lebih dulu berkata "Butakan dirimu sendiri dan jadilah buta." Ada pilihan manusia yang mendahului, dan penghakiman Allah di sini berbentuk penyerahan, membiarkan orang menjadi persis seperti yang ia pilih. Itu tetap mengerikan. Tetapi perhatikan bahwa pasal yang sama diakhiri dengan Allah yang membuka mata orang buta. Kegelapan itu bukan kata terakhir-Nya, dan itulah satu-satunya penghiburan yang jujur di sini.
Konteks
Kita berada sekitar tahun 701 sebelum Masehi, di Yerusalem masa Hizkia. Asyur adalah mesin perang paling efisien yang pernah dilihat dunia kuno, dan relief-relief istana mereka memang sengaja dibuat untuk menakuti: tawanan disula, kota dibakar, benteng dirobohkan dengan menara pengepungan. Kota-kota Yehuda satu per satu jatuh. Di dalam tembok Yerusalem, para penasihat berunding diam-diam soal persekutuan dengan Mesir, rencana yang disembunyikan "dalam gelap" (ayat 15) karena Yesaya jelas menentangnya. Sementara itu asap korban tetap naik dari mezbah, hari-hari raya tetap berjalan, imam tetap bertugas. Semua tampak normal. Justru kenormalan itulah yang membuat kata "Celakalah" terdengar seperti kaca pecah di tengah kebaktian.
Profil Pendengar
Bayangkan Anda berdiri di halaman Bait Allah, mencium bau lemak yang terbakar dan darah, mendengar suara orang banyak. Yerusalem adalah kota Daud, kota yang tak terkalahkan menurut teologi resmi. Lalu seorang nabi menyebut kota itu dengan nama tungku mezbah dan berkata bahwa Tuhan sendiri yang akan berkemah mengelilinginya. Bagi pendengar pertama, kalimat itu memutarbalikkan segalanya: Allah pindah ke pihak musuh. Tetapi mereka juga mendengar ayat 5 sampai 8, dan itu pasti membuat mereka menahan napas: seluruh pasukan Asyur akan lenyap seperti mimpi. Beberapa bulan kemudian tenda-tenda Asyur memang kosong. Mereka menyaksikan sendiri bahwa nabi ini benar, dan itu membuat ayat 13 tidak bisa lagi mereka abaikan.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda diam-diam berharap bahwa "siapa yang akan melihat kita?" itu benar, dan apa yang berubah jika Anda mengakui bahwa Penjunan mengenal tanah liatnya sampai ke dalam?
Ibadah rutin bisa menjadi tempat perjumpaan atau tempat persembunyian. Kapan terakhir kali hati Anda benar-benar ikut mendekat, bukan hanya bibir Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 29
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 29?
Tentang apakah YESAYA 29?
Apa konteks historis dari YESAYA 29?
Apa yang YESAYA 29 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 29 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 29
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena firman-Mu tidak lagi seperti kitab yang termeterai bagiku. Ada saat aku membaca dan tidak mengerti apa apa, tetapi Engkau membuka mataku dan menaruh terang di halaman yang sama. Setiap pengertian kecil yang Kauberi hari ini sungguh anugerah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
