YEREMIA 17:17
Teks
Yeremia berdiri dengan kerumunan yang mengejek di sekelilingnya, "Di manakah firman TUHAN? Biarlah itu datang!" dan ia berbalik, bukan kepada mereka, melainkan kepada Allah yang mengutusnya. Doanya pendek, nyaris tersendat: "Jangan menjadi kengerian bagiku, Engkau adalah tempat pengungsianku pada masa kesukaran." Dua kalimat, dan di antara keduanya terbentang seluruh pergumulan seorang nabi: Allah yang sama yang menyuruhnya mengumumkan malapetaka adalah satu-satunya tempat ia bisa bersembunyi dari malapetaka itu. Ia tidak meminta agar nubuatnya dibatalkan. Ia meminta agar, ketika api itu datang, wajah Allah baginya bukan wajah kengerian melainkan wajah perlindungan. Doa ini diucapkan oleh orang yang tahu persis betapa seriusnya ancaman yang baru saja keluar dari bibirnya sendiri.
Inti
Perhatikan apa yang sedang dipertaruhkan di sini. Yeremia tidak takut kepada musuh-musuhnya terlebih dahulu; ia takut kepada Allah. Kata yang ia pakai, kengerian, adalah kata untuk sesuatu yang membuat orang gemetar dan lari, dan ia memakainya tentang TUHAN. Inilah kejujuran yang jarang kita izinkan masuk ke dalam doa kita: bahwa Allah yang kudus sungguh menakutkan, dan bahwa tidak ada tempat lari dari Dia kecuali kepada Dia. Yeremia tidak memecah Allah menjadi dua, yang menghukum dan yang menyelamatkan. Ia memegang keduanya dalam satu napas dan berkata: Engkaulah tempat pengungsianku. Di sinilah iman diuji bukan dengan perasaan hangat, melainkan dengan keberanian berlindung pada Pribadi yang tangan-Nya sedang terangkat. Seluruh pasal ini sudah menyiapkannya: hati yang "licik melebihi segala sesuatu" tidak punya benteng lain selain Allah yang menyelidiki hati itu.
Benang Merah
Doa ini membuka sebuah pola yang berjalan jauh melampaui Yeremia. Seorang nabi yang setia berdiri di antara Allah dan bangsa yang menolaknya, menanggung ejekan karena pesan yang bukan miliknya, lalu berseru agar ia sendiri tidak dihancurkan oleh hari yang ia beritakan. Berabad-abad kemudian ada Seorang yang berdiri di tempat yang sama, menangisi kota yang sama, dan berdoa agar cawan itu lewat, dan tidak dilewatkan. Perbedaannya menentukan segalanya: Yeremia berdoa agar ia jangan mengalami kengerian itu, dan doanya dikabulkan; Kristus berdoa dan kengerian itu justru ditimpakan kepada-Nya. Di salib Allah menjadi kengerian bagi Anak-Nya sendiri, supaya Dia tidak pernah lagi menjadi kengerian bagi kita. Tempat pengungsian yang dicari Yeremia ternyata berdiri terbuka karena Seorang lain kehilangannya.
Cermin
Kita jarang mengakui bahwa sebagian ketakutan kita bukan tentang keadaan, melainkan tentang Allah. Ketika hasil biopsi belum keluar, ketika perusahaan mengumumkan pemangkasan dan nama Anda mungkin ada di daftar, ketika anak Anda menjauh dan Anda tidak tahu mengapa, ada suara halus yang berbisik bahwa semua ini mungkin bentuk murka. Dan kita menutupinya dengan bahasa rohani yang rapi, karena merasa tidak sopan mengatakannya kepada Allah. Yeremia mengatakannya. Ia tidak berpura-pura bahwa Allah hanya lembut, dan justru karena itu ia sungguh-sungguh berlindung. Doa yang jujur tentang ketakutan kepada Allah selalu lebih dekat kepada iman daripada pujian yang dipaksakan. Hari ini, sebelum matahari terbenam, ucapkan dengan suara keras satu kalimat ini kepada Allah: sebutkan hal yang paling Anda takutkan sekarang, lalu tutup dengan kata-kata Yeremia, "Engkau adalah tempat pengungsianku pada masa kesukaran."
Profil
Pendengar pertama Yeremia bukan jemaat yang merindukan penghiburan, melainkan orang-orang Yerusalem yang yakin kota mereka tidak mungkin jatuh. Bait Allah berdiri, raja dari keturunan Daud duduk di takhta, ibadah berjalan seperti biasa. Bagi mereka, nabi yang terus meramalkan kehancuran bukan hanya salah, melainkan berbahaya: ia merusak moral bangsa di tengah tekanan politik yang mematikan. Karena itu mereka mengejek, "Di manakah firman TUHAN? Biarlah itu datang!" Ejekan itu bukan lelucon, melainkan tuduhan bahwa Yeremia pembohong. Yang luput dari kita adalah betapa kesepiannya posisi ini. Ia tidak punya kelompok pendukung, tidak punya nabi rekan yang membenarkannya, tidak punya bukti apa pun selain firman yang belum terbukti. Doanya adalah doa orang yang kredibilitasnya tergantung sepenuhnya pada Allah.
Konteks
Kita berada di Yerusalem pada tahun-tahun terakhir Yehuda, kemungkinan besar di masa Yoyakim, ketika Babel sudah menjadi bayangan di cakrawala dan para pejabat masih bertaruh pada aliansi dengan Mesir. Pasal ini menumpuk gambaran demi gambaran: dosa yang terukir dengan "pena besi" pada hati, semak kering di padang gurun, pohon di tepi air, ayam hutan yang mengerami telur yang bukan miliknya. Lalu nada berubah di ayat 14, dan kita tiba-tiba mendengar suara pribadi sang nabi. Inilah salah satu dari apa yang sering disebut pengakuan Yeremia: jendela ke dalam batinnya. Secara sosial ia berada di posisi yang rapuh, berasal dari keluarga imam di Anatot namun ditolak kota dan bahkan kampung halamannya sendiri.
Detail
Kata "tempat pengungsian" membawa gambaran yang konkret: tempat berlindung ketika badai turun atau musuh datang, bukan metafora yang manis. Yang menarik adalah di mana Yeremia meletakkannya. Di ayat 13 ia baru saja menyebut TUHAN "sumber air hidup", dan di ayat 8 ia melukiskan orang percaya sebagai pohon yang akarnya menjangkau sungai sehingga tidak takut "ketika panas datang". Panas itu kini benar-benar datang, dan Yeremia sedang menguji gambarannya sendiri dengan tubuhnya. Ia tidak mengutip puisi indah; ia merangkak masuk ke dalamnya. Perlindungan dalam Alkitab hampir tidak pernah berarti luput dari badai, melainkan ada sesuatu yang memegang kita di tengahnya. Yeremia tetap akan melihat Yerusalem terbakar. Ia tidak akan terbakar bersamanya.
Refleksi
Ketakutan mana dalam hidup Anda yang sebenarnya adalah ketakutan terhadap Allah sendiri, dan kapan terakhir kali Anda mengatakannya kepada-Nya dengan terus terang?
Yeremia berlindung pada Allah yang tangan-Nya sedang terangkat. Apa yang berubah dalam doa Anda jika Anda berhenti memilih antara Allah yang menghakimi dan Allah yang menyelamatkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 17:17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 17:17?
Tentang apakah YEREMIA 17:17?
Apa konteks historis dari YEREMIA 17:17?
Apa yang YEREMIA 17:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 17:17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 17
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau melihat apa yang terukir paling dalam di hatiku, dosa yang tertulis "dengan pena besi, dengan mata intan", dan Engkau tidak berpaling. Kau sendiri yang menghapusnya lewat darah Yesus dan memberi aku hati yang baru.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menanam aku di tepi air dan membiarkan akarku menjangkau sungai-Mu. Saat panas hidup datang, daunku tetap hijau; di tahun kekeringan pun aku tidak berhenti berbuah, sebab sumberku ada pada-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi