LUKAS 1:1
Teks
Sebelum ada malaikat, sebelum ada Zakharia yang gemetar di depan mazbah, ada seorang laki-laki dengan gulungan kosong di hadapannya dan tinta yang belum kering. Ia tidak mulai dengan "Beginilah firman Tuhan". Ia mulai dengan pengakuan yang nyaris administratif: "Sudah ada banyak orang berusaha menyusun sebuah catatan tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di tengah-tengah kita." Banyak orang. Bukan satu, bukan dua. Lukas tahu ia bukan yang pertama, dan ia mengatakannya terus terang. Ia sedang menulis tentang sesuatu yang sudah lama dibicarakan orang, sudah ditulis sebagian, sudah beredar dalam bentuk catatan-catatan yang mungkin tidak rapi. Dan kalimat itu, dengan segala kesederhanaannya, adalah pintu masuk ke seluruh Injil ini: peristiwa yang terjadi, di tengah-tengah kita, dicatat oleh tangan manusia.
Inti
Perhatikan di mana Lukas menempatkan kisah ini: "di tengah-tengah kita." Bukan di langit, bukan di masa purba yang kabur, bukan dalam dunia dewa-dewa yang tidak pernah bersinggungan dengan jadwal panen dan pajak. Peristiwa-peristiwa itu terjadi di ruang yang sama dengan tempat pembacanya berdiri. Inilah yang membuat iman Kristen begitu rapuh sekaligus begitu kokoh: ia bisa diperiksa. Allah memilih untuk menyelamatkan dengan cara yang meninggalkan jejak, saksi, tanggal, nama kota. Dan karena itu Ia juga memilih untuk dilayani lewat pekerjaan yang tidak terlihat rohani sama sekali: mengumpulkan, membandingkan, menyusun. Kasih karunia tidak turun sebagai gagasan; ia berjalan masuk ke dalam sejarah, dan karena itu ia harus ditulis sebelum ia bisa diberitakan.
Benang Merah
Ayat ini terdengar seperti catatan kaki, padahal ia adalah pernyataan teologis. Allah Israel selalu bekerja dengan cara yang bisa diingat dan diceritakan ulang: keluar dari Mesir pada malam tertentu, perjanjian di gunung tertentu, raja dari kota tertentu. Perjanjian Lama dipenuhi daftar nama dan silsilah justru karena penebusan bukan mitos. Lukas berdiri di garis yang sama. Ia menulis "peristiwa-peristiwa yang telah terjadi", dan kata kerjanya penting: sudah terjadi, selesai, tidak bisa ditarik kembali. Inkarnasi membuat sejarah menjadi tempat tinggal Allah. Dan karena Kristus benar-benar lahir, benar-benar mati, benar-benar bangkit, maka pekerjaan menyusun catatan bukan sekadar urusan arsip; itu adalah pelayanan terhadap kenyataan yang Allah sendiri tanam di dalam waktu.
Cermin
Ada kecenderungan halus dalam diri kita untuk menilai iman dari intensitas perasaan. Kalau pagi ini hati terasa dingin, kita simpulkan Allah sedang jauh. Ayat ini menggeser titik tumpunya. Iman Kristen berdiri di atas sesuatu yang terjadi, bukan di atas suhu batin Anda hari Selasa. Itu kabar baik bagi orang yang sedang lelah, yang mengantar anak ke sekolah dengan kepala penuh tagihan, yang duduk di ruang tunggu rumah sakit dan tidak merasakan apa-apa. Tetapi ayat ini juga menegur: kalau peristiwanya nyata, Anda tidak bisa memperlakukannya sebagai tema renungan yang manis. Ia menuntut diperiksa, dipercaya, diceritakan. Hari ini, ambil secarik kertas dan tulis satu kalimat: satu hal konkret yang Allah lakukan dalam hidup Anda tahun ini, lengkap dengan bulan dan nama orang yang terlibat. Simpan kertas itu di dompet Anda.
Konteks
Lukas menulis puluhan tahun setelah peristiwanya, di dunia Yunani-Romawi di mana sejarawan memang biasa membuka karyanya dengan kata pengantar seperti ini: menyebut pendahulunya, menjelaskan metodenya, menyebut nama penerima. Kalimat pertama Injil ini adalah satu-satunya bagian Lukas yang ditulis dengan gaya Yunani sastra tingkat tinggi; sesudah ayat 4 bahasanya berubah menjadi beraroma Perjanjian Lama. Ia sedang berkata kepada pembaca terdidik: saya tahu aturan main kalian, saya bermain di lapangan kalian. Generasi saksi mata mulai meninggal. Gereja tersebar, dicurigai, kadang dianiaya. Kesaksian lisan yang dulu cukup kini perlu dibukukan sebelum hilang. Di titik itulah seorang bukan-Yahudi, seorang tabib menurut tradisi, mengambil pena.
Intertekstualitas
Ayat berikutnya menjelaskan dari mana bahan Lukas datang: dari "orang-orang yang sejak semula telah menjadi saksi mata dan pemberita Firman." Perhatikan gabungan itu. Melihat saja tidak cukup; mereka juga memberitakan. Rasul Yohanes memakai logika yang sama ketika membuka suratnya yang pertama dengan deretan kata kerja indrawi: yang didengar, dilihat dengan mata sendiri, diraba dengan tangan. Iman para rasul bukan intuisi batin, melainkan laporan. Bandingkan juga dengan Kisah Para Rasul, jilid kedua karya Lukas, yang dibuka dengan menyapa Teofilus lagi; satu tangan menulis dua buku, dan keduanya adalah sejarah keselamatan yang bergerak dari Betlehem ke Roma. Satu penulis, satu alur, satu klaim: ini sungguh terjadi.
Tokoh Utama
Lukas tidak pernah menyebut namanya di dalam Injilnya. Ia muncul hanya sebagai "aku" di ayat 3, lalu menghilang di balik ceritanya selama dua puluh empat pasal. Itu sendiri sudah sebuah potret. Seorang yang rela menghabiskan waktu bertahun-tahun mewawancarai, membandingkan, menyusun ulang, lalu menolak menandatangani hasilnya dengan huruf besar. Ia menghormati pendahulunya tanpa merendahkan mereka: "banyak orang berusaha", katanya, bukan "banyak orang gagal". Namun ia juga tidak puas; ada kegelisahan jujur dalam dirinya bahwa Teofilus pantas mendapat sesuatu yang lebih tertata. Inilah wajah ketaatan yang jarang dipuji di gereja: teliti, sabar, tidak dramatis, bekerja di meja dan bukan di mimbar, dan justru lewat tangan seperti itu Roh Kudus menyerahkan kepada kita kisah Natal yang kita baca setiap tahun.
Refleksi
Kalau iman Anda diperiksa seperti Lukas memeriksa sumber-sumbernya, di mana ia bertumpu: pada peristiwa yang terjadi, atau pada perasaan Anda tentang peristiwa itu?
Pekerjaan sehari-hari Anda yang terasa paling tidak rohani, yang paling mirip "menyusun catatan", bagaimana kalau itu justru tempat Allah memakai Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 1:1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 1:1?
Tentang apakah LUKAS 1:1?
Apa konteks historis dari LUKAS 1:1?
Apa yang LUKAS 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 1:1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Aku adalah Gabriel yang berdiri di hadapan Allah, dan aku diutus untuk berbicara kepadamu dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu."
Perhatikan jarak yang ditempuh. Dari hadapan takhta Allah, turun ke ruang kecil di Bait Allah, untuk satu imam tua yang doanya sudah lama ia hentikan. Surga tidak mengirim Gabriel kepada kaisar, melainkan kepada Zakharia. Dan yang dibawanya bukan teguran lebih dulu, melainkan kabar baik.
Doamu yang kaupikir sudah lewat masanya, masih dicatat di sana.
Bapa, ajar aku hidup lurus di hadapan-Mu, bukan supaya dilihat orang, tapi karena aku mengasihi-Mu. Ada doa yang belum Kaujawab, dan aku lelah menunggu. Tolong aku tetap setia dalam hal-hal kecil hari ini, percaya Engkau melihat.
Beberapa waktu kemudian, Maria bersiap-siap dan pergi dengan segera ke daerah pegunungan, ke sebuah kota di Yehuda." Maria tidak menunggu sampai semuanya masuk akal. Ia bangkit dan menempuh jalan panjang menuju satu orang yang bisa mengerti. Ketika hidupmu berubah tiba-tiba, siapa yang kamu tuju? Tuhan sering menyiapkan seseorang lebih dulu.
Bapa, Engkau mengirim kabar-Mu ke kota kecil yang tak diperhitungkan siapa pun, kepada seorang gadis biasa. Itu menenangkan aku. Kalau Engkau memilih tempat sesederhana itu, mungkin Engkau juga melihat hidupku yang biasa ini. Buat aku siap mendengar saat Engkau datang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi