LUKAS 11:13
Teks
Yesus menutup rangkaian pengajaran-Nya tentang doa dengan sebuah perbandingan yang sengaja dibuat timpang. Seorang ayah biasa, kata-Nya, yang di mata Yesus tetap masuk kategori "kamu yang jahat," toh tidak pernah menyodorkan ular kepada anaknya yang minta ikan, atau kalajengking ketika anaknya minta telur. Ia tahu memberi yang baik, meski hatinya tidak bersih. Lalu Yesus menarik garis ke atas: "apalagi Bapamu yang di surga." Dan yang dijanjikan di ujung kalimat ini bukan ikan, bukan telur, bukan roti seperti dalam perumpamaan sahabat yang mengetuk tengah malam, melainkan Roh Kudus, diberikan "kepada orang-orang yang meminta kepada-Nya." Permintaan manusia dijawab dengan pemberian Allah sendiri.
Inti
Perhatikan bahwa Yesus tidak membujuk kita dengan menyanjung manusia. Ia justru menyebut para pendengar-Nya jahat, apa adanya, tanpa penghalusan, dan dari situlah Ia membangun argumen. Logikanya bukan "Allah baik seperti kamu," melainkan "jika kebaikanmu yang retak saja masih bisa diandalkan oleh anakmu, seberapa jauh lebih Bapa yang tidak retak sama sekali." Inilah intinya: keyakinan dalam doa tidak bersandar pada kualitas kita, tidak pada ketulusan motif atau rapinya hidup kita, melainkan pada karakter Sang Pemberi. Dan pemberian itu ternyata bukan sekadar bantuan dari luar. Allah tidak melemparkan paket lalu menutup pintu; Ia memberikan Roh Kudus, yaitu diri-Nya sendiri, hadir di dalam orang yang meminta. Doa, pada akhirnya, bukan mesin untuk mendapatkan sesuatu dari Allah, melainkan jalan masuk untuk mendapatkan Allah.
Benang Merah
Dalam Perjanjian Lama, Roh Allah adalah sesuatu yang turun pada orang tertentu, pada saat tertentu, untuk tugas tertentu: hakim, raja, nabi. Ia datang dan Ia bisa pergi, dan Daud pernah memohon dengan gentar agar Roh itu tidak diambil darinya. Para nabi kemudian menjanjikan hari ketika Allah menaruh Roh-Nya di dalam umat-Nya, bukan di atas segelintir pilihan, melainkan di dalam hati yang diganti dari batu menjadi daging. Yehezkiel menubuatkannya; Yoel memperluasnya kepada anak-anak, orang tua, bahkan hamba-hamba. Ketika Yesus mengatakan bahwa Bapa "akan memberikan Roh Kudus kepada orang-orang yang meminta kepada-Nya," Ia sedang membuka pintu nubuat itu dan menunjuk ke depan, ke arah Pentakosta yang akan ditulis Lukas sendiri dalam jilid keduanya. Janji ini mahal: untuk membuatnya terjadi, Anak harus lebih dulu diserahkan. Bapa memberi Roh kepada kita karena Ia tidak menahan Anak-Nya dari kita.
Cermin
Sebut saja apa yang sebenarnya ingin kauminta pagi ini. Hasil biopsi yang belum keluar. Anak yang sudah dua tahun tidak mau diajak bicara. Gaji yang selalu habis sebelum tanggal dua puluh. Dan di balik semua itu, kecurigaan tua yang jarang kauucapkan: bahwa Allah mungkin baik, tetapi tidak sebaik itu kepadaku; bahwa kalau aku membuka tangan, yang jatuh ke situ mungkin bukan ikan. Yesus menyebut kita jahat dan justru di situ Ia membebaskan: engkau tidak perlu membereskan dirimu dulu supaya layak meminta. Tetapi Ia juga menusuk kebanggaan kita yang lain, yaitu rasa mandiri. Orang yang tidak pernah meminta apa-apa kepada Allah bukan orang kuat; ia hanya belum sadar sedang kelaparan. Dan perhatikan: jawaban yang dijanjikan bukan solusi, melainkan kehadiran. Itu sering terasa seperti tukar barang yang merugikan, sampai kita menyadari bahwa yang paling kita butuhkan dalam ruang tunggu rumah sakit bukan informasi, melainkan Allah sendiri di dalam kita.
Hari ini juga, tuliskan di secarik kertas satu permintaan yang sudah lama kaudoakan tanpa jawaban, lalu di bawahnya tulis satu kalimat ini dan ucapkan keras-keras: "Bapa, berikan Roh Kudus-Mu kepadaku."
Konteks
Ayat ini adalah penutup dari satu blok pengajaran yang dimulai ketika seorang murid melihat Yesus selesai berdoa dan berkata, "Tuhan, ajarilah kami berdoa sama seperti Yohanes mengajar murid-muridnya." Permintaan itu wajar di dunia Yahudi abad pertama: setiap guru memberi murid-muridnya pola doa yang menandai identitas kelompok. Yesus menjawab dengan doa yang sangat pendek, lalu dengan cerita tentang tetangga yang diketuk pintunya tengah malam. Di desa Galilea, rumah kecil berarti seluruh keluarga tidur di satu ruang; membuka pintu berarti membangunkan semua anak. Dan menolak tamu yang datang berarti mempermalukan seluruh kampung, sebab keramahtamahan adalah kehormatan bersama. Latar seluruh pasal ini juga penting: Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem, menuju salib, dan sebentar lagi, di ayat 15, Ia akan dituduh bekerja dengan kuasa Beelzebul. Pengajaran tentang Bapa yang murah hati diucapkan di tengah permusuhan yang sedang mengeras.
Detail
Berhentilah sejenak pada pasangan telur dan kalajengking. Ular dan ikan masih bisa kita bayangkan: bentuknya memanjang, sama-sama dari air atau tanah, mudah dipertukarkan dalam gelap. Tetapi kalajengking dan telur? Di Palestina ada kalajengking pucat yang, ketika kaki dan ekornya terlipat rapat, tampak seperti gumpalan bulat kecil berwarna krem, mirip telur di telapak tangan. Itulah kengerian gambaran Yesus: bukan pemberian yang jelas-jelas buruk, melainkan pemberian yang kelihatan persis seperti yang kauminta, sampai jari-jarimu menyentuhnya. Dan di situlah ketakutan paling dalam kita tentang Allah bersembunyi. Bukan takut Ia menolak, melainkan takut Ia menjawab dengan sesuatu yang kelihatan baik dan ternyata menyengat. Yesus menyebut ketakutan itu, menamainya, lalu menyingkirkannya dengan satu kata: apalagi.
Tokoh Utama
Yang berdiri di tengah ayat ini adalah Bapa, dan Yesus melukis-Nya dengan sangat hati-hati sebagai bukan tetangga yang mengantuk. Dalam perumpamaan sebelumnya, sahabat itu bangun karena terganggu, karena "kamu terus memohon," bukan karena ia ingin. Tetapi Bapa tidak digambarkan terganggu sama sekali. Ia dibandingkan dengan ayah yang refleks memberi makanan kepada anaknya, tanpa dihitung-hitung, tanpa diminta dua kali. Lukas hendak menegaskan bahwa ketekunan dalam doa bukan cara melunakkan Allah yang keras kepala, melainkan cara kita bertahan di hadapan Allah yang memang sudah ingin memberi. Dan karakter Bapa ini terbukti bukan pada ukuran pemberian-Nya, melainkan pada isinya: Ia memberikan Roh-Nya sendiri. Hanya Pribadi yang benar-benar mengasihi berani memberikan diri-Nya, bukan sekadar barang-Nya.
Intertekstual
Matius mencatat ucapan yang sangat mirip, tetapi di sana Bapa disebut memberikan hal-hal yang baik kepada mereka yang meminta. Lukas menukar frasa itu dengan "Roh Kudus," dan perbedaan ini bukan pertentangan melainkan penajaman: Lukas memberi tahu kita apa isi utama dari semua hal baik itu. Bagi Lukas, yang akan menulis Kisah Para Rasul, segala kebaikan Allah bermuara pada pencurahan Roh. Bandingkan juga dengan doa di awal pasal ini: "Berikanlah kepada kami makanan yang secukupnya setiap hari." Yesus tidak meremehkan roti; Ia mengajarkan kita memintanya. Tetapi Ia menutup pengajaran-Nya dengan mengangkat pandangan kita lebih tinggi daripada meja makan. Roti untuk hari ini, Roh untuk selamanya, dan keduanya berasal dari tangan Bapa yang sama.
Profil
Lukas menulis untuk pembaca seperti Teofilus, orang-orang yang sebagian besar bukan Yahudi, yang hidup puluhan tahun setelah Pentakosta, di kota-kota Kekaisaran Romawi, sering sebagai minoritas yang dicurigai. Mereka membaca ayat ini bukan sebagai janji masa depan yang kabur, melainkan sebagai penjelasan atas sesuatu yang sudah mereka alami: Roh yang menyatukan orang Yahudi dan Yunani dalam satu rumah, yang memberi keberanian kepada budak untuk menyebut Allah sebagai Bapa. Bagi telinga mereka, kata "Bapa" di ayat 2 juga bermuatan berat. Dalam dunia Romawi, sang ayah memiliki kuasa hukum atas hidup dan mati anaknya; banyak anak dibuang sejak lahir karena cacat atau karena perempuan. Mendengar bahwa Bapa di surga justru memberi dengan murah hati, bukan menuntut, bukan membuang, itu bukan kalimat manis bagi mereka. Itu pembalikan dunia.
Pertanyaan
Lalu bagaimana dengan permintaan yang tidak pernah dijawab? Kita semua punya daftarnya, dan sebagian berisi nama orang yang sudah dikubur. Jujur saja: ayat ini tidak menjanjikan bahwa setiap ikan yang kauminta akan kaudapat. Yang dijanjikan secara eksplisit hanya satu, Roh Kudus. Sebagian orang akan merasa itu seperti dagangan yang ditukar diam-diam, dan rasa itu tidak boleh buru-buru dihibur. Tetapi perhatikan apa yang Yesus ajarkan untuk didoakan beberapa ayat sebelumnya: "janganlah membawa kami ke dalam pencobaan." Artinya Ia sendiri tahu bahwa jalan kita akan melewati tempat-tempat yang gelap, dan Ia tidak pernah menjanjikan jalan memutar. Yang Ia janjikan adalah bahwa di tempat gelap itu kita tidak sendirian, karena Allah sendiri ada di dalam kita. Itu bukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahu kita. Tetapi itu jawaban yang bisa menopang orang di tengah malam.
Refleksi
Permintaan apa yang sudah lama tidak lagi kauucapkan kepada Allah, dan apa sebenarnya alasan diammu: kecewa, malu, atau rasa tidak layak?
Jika Allah menjawab doamu hari ini dengan memberikan diri-Nya sendiri dan bukan dengan mengubah keadaanmu, apakah itu akan terasa cukup? Mengapa?
Yesus menyebut pendengar-Nya "jahat" dan tetap menyuruh mereka meminta. Bagian mana dari hidupmu yang kaupikir harus beres dulu sebelum kau pantas datang kepada Bapa?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 11:13
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 11:13?
Tentang apakah LUKAS 11:13?
Apa konteks historis dari LUKAS 11:13?
Apa yang LUKAS 11:13 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 11:13 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Luke 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, kadang aku takut yang Kauberikan justru menyakitiku. Tapi Engkau bukan Pribadi yang menaruh racun di tangan anak-Mu. Ajar aku percaya bahwa apa pun yang Kautaruh dalam hidupku lahir dari hati yang baik, bukan untuk melukai.
Perhatikan betapa beraninya Yesus menyebut kita: "jika kamu yang jahat tahu bagaimana memberikan pemberian yang baik kepada anak-anakmu." Bahkan hati kita yang rusak pun masih bisa mengasihi anak. Lalu bayangkan hati Bapa. Dan lihat apa yang Dia janjikan: bukan sekadar barang yang kauminta, melainkan Roh Kudus, diri-Nya sendiri. Sudahkah kau meminta yang itu?
Seorang perempuan berseru memuji rahim yang mengandung Yesus. Pujian yang tulus, tetapi Yesus mengalihkannya: "Lebih berbahagia lagi orang yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya!" Kedekatan dengan Yesus tidak diukur dari darah atau kekaguman, melainkan dari telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau taat. Firman apa yang sudah kamu dengar minggu ini, tapi belum kamu lakukan?
Orang Niniwe tidak menyaksikan mukjizat apa pun. Mereka hanya mendengar khotbah singkat dari nabi yang sebenarnya enggan datang, dan mereka bertobat. Yesus berkata, "lihatlah, yang lebih besar daripada Yunus ada di sini." Kita punya Injil lengkap, banyak khotbah, banyak lagu. Namun kadang kita masih menunggu satu tanda lagi sebelum benar-benar berubah. Apa sebenarnya yang sedang kita tunggu?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi