ROMA 8:9
Teks
Paulus menutup rangkaian argumennya tentang daging dan Roh dengan sebuah pembalikan: "Namun demikian, kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika Roh Allah memang hidup dalam kamu." Setelah delapan ayat yang terdengar seperti vonis, ia berkata kepada pembacanya: bukan itu keadaanmu. Lalu datang kalimat yang membuat ruangan hening: "Siapa tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya." Satu ayat, dua sisi. Sisi pertama adalah kepastian yang diberikan, sisi kedua adalah garis yang ditarik. Dan perhatikan cara Paulus menyebut Roh itu: Roh Allah, lalu Roh Kristus, seolah kedua nama itu bisa saling menggantikan tanpa penjelasan.
Konteks
Bayangkan sebuah ruang sewaan di lantai tiga sebuah insula di Roma, sekitar tahun 56. Bau minyak lampu, suara gerobak di jalan sempit di bawah, dua puluh orang duduk berdesakan. Sebagian budak rumah tangga yang baru selesai bekerja, sebagian pedagang kecil, beberapa orang Yahudi yang baru kembali setelah Kaisar Klaudius mengusir mereka dari kota beberapa tahun sebelumnya. Mereka kembali dan menemukan jemaat yang sudah berubah: kini didominasi orang bukan Yahudi yang tidak disunat, tidak menjaga Sabat, tidak tahu apa-apa tentang Hukum Taurat. Siapa sebenarnya umat Allah di sini? Pertanyaan itu berdenyut di seluruh surat Roma. Ayat 9 adalah salah satu jawaban Paulus yang paling telanjang, dan jawabannya tidak menyenangkan salah satu pihak mana pun.
Inti
Paulus memindahkan tanda pengenal umat Allah dari luar ke dalam. Bukan sunat, bukan garis keturunan, bukan status sosial, melainkan kehadiran Roh. Dan perhatikan: Roh itu bukan sekadar kekuatan yang menolong dari luar, melainkan yang "hidup dalam kamu", tinggal, menetap, mendiami. Kata yang Paulus pakai adalah kata untuk menghuni rumah. Tubuh manusia biasa menjadi tempat tinggal Allah sendiri. Bagi telinga Yahudi ini nyaris tak terpikirkan: kemuliaan yang dulu memenuhi Bait Suci kini memenuhi seorang budak dapur di Roma. Dan bagi telinga Yunani-Romawi ini juga aneh: dewa-dewa tidak pindah ke dalam manusia, mereka minta dilayani di kuil. Injil membalik arah aliran itu. Allah yang datang dan menetap.
Cermin
"Siapa tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik-Nya." Kalimat ini membuat kita gelisah, dan seharusnya begitu. Tetapi perhatikan arah kegelisahannya. Paulus tidak berkata: siapa yang tidak cukup rohani, tidak cukup disiplin doanya, tidak cukup bersih hidupnya. Ia berkata: siapa tidak memiliki. Ini soal kepemilikan, bukan prestasi. Pertanyaannya bukan seberapa jauh Anda sudah maju pagi ini, melainkan Roh siapa yang tinggal di dalam Anda. Bagi Anda yang bangun dengan rasa bersalah karena semalam kembali marah pada anak, atau karena bulan ini lagi-lagi memilih uang di atas kejujuran, ayat ini tidak menghitung skor. Ia bertanya milik siapa Anda. Dan ayat 1 sudah menjawab: tidak ada lagi penghukuman bagi yang ada dalam Kristus.
Benang Merah
Nabi-nabi menjanjikan hari ketika Allah menaruh Roh-Nya di dalam umat-Nya sehingga mereka akhirnya sanggup berjalan menurut ketetapan-Nya, bukan karena hukum diperketat melainkan karena hati diganti. Paulus mengumumkan bahwa hari itu sudah tiba, dan ia menyebut Roh itu "Roh Kristus". Di situlah benang merahnya mengencang. Roh yang dijanjikan kepada Israel kini datang melalui seorang Yahudi yang disalibkan dan dibangkitkan, dan Ia membawa serta seluruh isi karya-Nya. Karena itu ayat 11 bisa berkata bahwa Roh yang membangkitkan Yesus juga akan memberi hidup kepada tubuh kita yang fana. Kehadiran Roh bukan bonus rohani; ia adalah uang muka kebangkitan, potongan pertama dari dunia yang akan datang, sudah ditanam di dalam tubuh yang masih akan mati.
Pertanyaan
Bagaimana saya tahu Roh itu ada dalam saya? Paulus tidak memberi daftar periksa di ayat ini, dan setiap usaha kita membuatnya cenderung mencelakakan orang yang paling sungguh-sungguh. Yang ia berikan justru di ayat-ayat berikutnya: mereka yang dipimpin Roh berseru "Abba, Bapa", dan Roh sendiri bersaksi bersama roh kita. Artinya, tanda kehadiran Roh bukan terutama pengalaman spektakuler melainkan kesanggupan memanggil Allah sebagai Bapa dan tidak bisa berhenti melakukannya. Tetapi saya tidak akan berpura-pura ini menutup semua keraguan. Ada orang percaya yang bertahun-tahun tidak merasakan apa pun. Paulus tampaknya lebih mempercayai kesaksian Roh daripada suasana hati kita. Kegelisahan Anda tentang pertanyaan ini mungkin justru bukan tanda ketiadaan-Nya.
Profil
Untuk seorang budak yang duduk di ruangan itu, kata "milik" bukan metafora. Ia mungkin memakai kalung logam bertuliskan nama tuannya dan alamat pengembaliannya bila ia melarikan diri. Seluruh hidupnya ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan: engkau milik siapa. Lalu ia mendengar Paulus berkata bahwa ada Roh yang tinggal di dalam dirinya dan menjadikannya milik Kristus, sesuatu yang tuannya tidak bisa jual, sita, atau warisi. Dan di sisi lain ruangan duduk seorang Yahudi terhormat yang baru kembali dari pengasingan, yang harus mendengar bahwa keunggulannya tidak terletak pada apa yang ia bawa dari Yerusalem. Satu ayat merendahkan yang satu dan mengangkat yang lain, lalu mendudukkan keduanya di lantai yang sama.
Refleksi
Kalau pertanyaan Paulus bukan "seberapa baik hidupmu" melainkan "milik siapa engkau", apa yang berubah dalam cara Anda memulai hari besok?
Di mana dalam hidup Anda sekarang masih ada kalung nama tuan lama, sesuatu yang mengklaim kepemilikan atas Anda meskipun Anda sudah milik Kristus?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 8:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 8:9?
Tentang apakah ROMA 8:9?
Apa konteks historis dari ROMA 8:9?
Apa yang ROMA 8:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 8:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 8
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Karena itu, sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus." Perhatikan kata "sekarang". Bukan nanti kalau kamu sudah lebih baik. Paulus baru saja mengaku bahwa ia melakukan hal yang tidak ia inginkan. Dari titik terendah itulah kalimat ini lahir. Suara yang terus menuduhmu pagi ini bukan suara Allah.
Bapa, hari ini rasanya berat dan aku tidak selalu kuat menanggungnya. Tolong ingatkan aku bahwa apa yang kualami sekarang tidak sebanding dengan keindahan yang Engkau siapkan. Beri aku hati yang mampu bertahan sedikit lebih lama, sambil memandang ke depan bersama-Mu.
Bapa, sulit kupercaya bahwa Engkau lebih dulu memilihku, memanggilku, dan menyatakan aku benar di hadapan-Mu. Aku sering merasa tak layak, tapi Engkau tidak pernah setengah hati menyelesaikan apa yang Kau mulai dalam hidupku. Tolong aku hidup dari kepastian itu hari ini.
Terima kasih, Tuhan, karena dalam pengharapan inilah kami diselamatkan. Aku bersyukur untuk hari-hari ketika jawaban-Mu belum terlihat, namun hatiku tetap Kaujaga untuk menanti. Engkau memberiku kekuatan berpegang pada yang belum kulihat.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi