MATIUS 19:8
Teks
Orang-orang Farisi merasa punya kartu as: kalau perceraian memang melanggar rancangan Allah, mengapa Musa justru mengaturnya? Yesus tidak mengelak dan tidak pula melunak. Jawaban-Nya memutar arah seluruh perdebatan: "Karena kekerasan hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu." Aturan Musa bukan izin yang turun dari langit sebagai hadiah, melainkan pagar yang dipasang di sekeliling kerusakan yang sudah terlanjur ada. Dan Yesus menutup dengan kalimat yang membuat semua argumen hukum mereka terasa seperti perdebatan di atas reruntuhan: "Akan tetapi, pada awalnya tidaklah demikian." Ada keadaan yang lebih tua daripada peraturan, lebih asli daripada kompromi, dan Yesus menunjuk ke sana, bukan ke pasal-pasal yang mereka hafal.
Inti
Perhatikan apa yang Yesus lakukan dengan Kitab Suci di sini. Ia membedakan antara apa yang Allah izinkan dan apa yang Allah kehendaki. Keduanya ada di dalam Taurat, dan keduanya tidak sama. Kata Yunani yang dipakai, sklerokardia, berarti hati yang mengeras seperti jaringan parut: bukan kebodohan, bukan kelemahan, melainkan kekerasan yang sengaja dipelihara. Allah berhadapan dengan manusia semacam itu, dan Ia tidak langsung menghancurkan mereka. Ia memberi aturan yang membatasi kerusakan, melindungi perempuan yang tanpa surat itu akan terbuang tanpa status apa pun. Itu anugerah, tetapi anugerah yang pahit. Dan di sinilah yang menusuk: hukum yang kita anggap sebagai pembenaran diri ternyata adalah bukti penyakit kita. Yesus menolak membiarkan kita berteduh di bawah kelonggaran Allah seolah-olah itu restu-Nya.
Benang Merah
Yesus tidak berargumen dari Ulangan, tetapi dari Kejadian. Ia melompati seluruh perdebatan hukum dan mendarat di taman, sebelum segala sesuatu retak. "Pada awalnya tidaklah demikian" adalah kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang tahu persis bagaimana awalnya, dan yang datang untuk memulihkannya. Nabi Yehezkiel pernah menjanjikan bahwa Allah akan mengambil hati yang keras seperti batu dan menggantinya dengan hati yang hidup; itulah janji perjanjian baru, dan itulah yang membuat ucapan Yesus di sini bukan sekadar moralisme yang lebih ketat. Ia tidak menaikkan standar lalu meninggalkan kita di bawahnya. Ia datang justru untuk mengerjakan operasi jantung yang membuat standar itu mungkin. Hukum Musa mengatur perpisahan; Kristus datang untuk menyatukan apa yang sudah tercerai, termasuk antara Allah dan kita.
Cermin
Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah bercerai. Pertanyaannya: di mana Anda sedang berlindung di balik "yang penting tidak melanggar aturan"? Anda masih tinggal serumah, tetapi sudah lama tidak benar-benar memandang pasangan Anda. Anda tidak berbohong di kantor, tetapi Anda membiarkan orang lain menanggung akibatnya. Anda tidak memutuskan hubungan dengan orang tua Anda, hanya memperpendek telepon sampai tinggal lima menit. Semuanya sah. Tidak satu pun melanggar pasal. Dan justru di situlah kekerasan hati paling nyaman bersembunyi: bukan dalam pelanggaran terbuka, melainkan dalam kepatuhan minimum yang kita sebut kedewasaan. Yesus menyebut nama penyakitnya dan tidak mengizinkan kita menyebutnya realistis.
Hari ini: tulis di secarik kertas nama satu orang yang terhadapnya hati Anda sudah mengeras, lalu ucapkan dengan suara keras, "Pada awalnya tidaklah demikian."
Tokoh Utama
Yang mencolok dari Yesus di sini adalah kata ganti orang kedua. Ia tidak berkata "karena kekerasan hati manusia", melainkan "karena kekerasan hatimu". Para Farisi datang sebagai penanya; mereka pulang sebagai terdakwa. Namun perhatikan juga siapa yang Ia lindungi. Dalam perdebatan itu, satu-satunya pihak yang tidak hadir dan tidak bersuara adalah perempuan yang bisa diceraikan "dengan berbagai alasan". Yesus berdiri di tempat kosong itu. Ia keras terhadap yang kuat justru karena lembut terhadap yang rentan. Dan Ia mengucapkan semua ini dalam perjalanan ke Yerusalem, menuju tempat di mana kekerasan hati manusia akan mencapai bentuk terakhirnya. Ia tahu apa yang akan dilakukan hati batu itu kepada-Nya, dan Ia tetap berjalan ke sana.
Pertanyaan
Jika Allah pernah mengakomodasi kekerasan hati, apakah Ia masih melakukannya untuk kita? Dan apa jadinya dengan mereka yang pernikahannya sudah hancur, yang membaca ayat ini dengan luka yang belum kering? Teks ini tidak menawarkan penghiburan cepat. Ayat berikutnya malah lebih tajam, dan murid-murid sendiri bereaksi panik: lebih baik tidak menikah saja. Yesus tidak menarik kembali ucapan-Nya untuk menenangkan mereka. Tetapi di pasal yang sama, ketika orang banyak bertanya siapa yang masih bisa diselamatkan, Ia menjawab: "Bagi manusia, hal ini mustahil, tetapi bagi Allah, semua hal itu mungkin." Itu bukan penghapusan tuntutan. Itu arah yang berbeda untuk melihat: bukan ke dalam kemampuan kita, melainkan ke dalam kuasa Allah yang melembutkan batu.
Konteks
Yesus baru saja meninggalkan Galilea dan masuk wilayah Yudea di seberang Yordan, daerah kekuasaan Herodes, tempat Yohanes Pembaptis kehilangan kepalanya persis karena berbicara tentang pernikahan. Pertanyaan para Farisi bukan sekadar teologis; itu umpan yang bisa berakhir di penjara. Di belakangnya ada perdebatan rabinik yang sudah lama panas tentang Ulangan 24: sebagian mengizinkan perceraian hanya karena perzinaan, sebagian lain karena hal sepele seperti masakan yang gosong. Kalimat "dengan berbagai alasan" dalam pertanyaan mereka langsung menunjuk ke pandangan yang paling longgar itu. Dalam masyarakat di mana perempuan nyaris tidak punya penghasilan sendiri, surat cerai menentukan apakah ia bisa bertahan hidup atau terbuang. Perdebatan itu terdengar akademis, tetapi taruhannya adalah nasib manusia.
Refleksi
Di bagian mana hidup Anda sedang menggunakan "yang diizinkan" sebagai pengganti "yang dikehendaki Allah", dan apa yang membuat Anda enggan menyebutnya dengan nama yang Yesus pakai?
Jika kekerasan hati tidak hilang dengan tekad, melainkan harus digantikan oleh Allah, doa seperti apa yang perlu Anda ucapkan besok pagi?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 19:8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 19:8?
Tentang apakah MATIUS 19:8?
Apa konteks historis dari MATIUS 19:8?
Apa yang MATIUS 19:8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 19:8 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Guru, perbuatan baik apa yang harus aku lakukan supaya aku memperoleh hidup yang kekal?" Perhatikan kata "lakukan". Orang ini berpikir hidup kekal adalah satu item terakhir yang perlu dicentang. Tapi Yesus justru menyuruhnya melepaskan, bukan menambah. Bagaimana denganmu? Apa yang masih kaugenggam sambil berkata, "Aku sudah melakukan semuanya"?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi