ROMA 11
The Text
"Jangan menjadi sombong terhadap cabang-cabang itu." Itulah perintah etis yang berdiri di tengah pasal ini, dan Paulus menulisnya kepada orang-orang Kristen non-Yahudi di Roma yang mulai merasa diri lebih rohani daripada bangsa Israel yang menolak Yesus. Paulus menjawab satu pertanyaan tajam: apakah Allah membuang umat-Nya? Tidak, kata dia, sebab selalu ada sisa yang dipilih karena anugerah, sebagaimana pada zaman Elia masih ada tujuh ribu orang. Kejatuhan Israel justru membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain, tetapi bangsa-bangsa lain itu hanyalah tunas liar yang dicangkokkan pada akar milik orang lain. Pasal ditutup dengan pujian: segala sesuatu berasal dari Allah, oleh Allah, dan kembali kepada Allah.
Inti
Yang dipertaruhkan di sini bukan sekadar teori tentang Israel, melainkan apakah Allah bisa dipercaya. Kalau Allah bisa membatalkan janji-Nya kepada satu bangsa karena bangsa itu gagal, maka janji-Nya kepada Anda juga tidak lebih kuat daripada catatan kesetiaan Anda sendiri. Paulus menutup celah itu dengan satu kalimat: "anugerah dan panggilan Allah tidak dapat dibatalkan." Tetapi perhatikan bahwa kepastian ini tidak berhenti pada rasa aman; ia langsung berubah menjadi etika. Karena Anda berdiri semata-mata karena kemurahan, Anda kehilangan hak untuk memandang rendah siapa pun yang belum berdiri. Anugerah yang benar-benar dipahami membuat orang lembut terhadap orang lain dan serius terhadap dirinya sendiri, bukan sebaliknya.
Benang Merah
Pohon zaitun itu satu, akarnya satu, dan akar itu adalah janji kepada Abraham, Ishak, Yakub. Kristus tidak memulai proyek baru dengan mencabut yang lama; Ia adalah penggenapan janji yang sudah berakar berabad-abad. Karena itu Paulus mengutip Yesaya: "Penebus akan datang dari Sion, dan Ia akan menyingkirkan kefasikan dari Yakub." Penebus itu tidak jatuh dari langit ke ruang kosong; Ia tumbuh dari pohon yang sama. Ini berarti gereja bukan penemuan abad pertama, melainkan cabang yang dicangkokkan ke dalam kisah yang jauh lebih tua daripada dirinya. Setiap kali kita berbicara seolah iman kita dimulai dari kita, kita salah membaca peta.
Cermin
Sombong rohani jarang terdengar sombong. Ia berbunyi seperti keluhan wajar: keluarga yang belum percaya dan sudah lelah Anda doakan, rekan kerja yang sinis soal gereja, anak remaja yang berhenti ikut kebaktian, mantan jemaat yang sekarang mengkritik. Diam-diam Anda menyusun daftar orang yang "sudah dipatahkan" dan menempatkan diri di sisi yang benar. Paulus memotong itu dengan kalimat yang tidak nyaman: "Jangan sombong, tetapi takutlah." Bukan takut kehilangan keselamatan, tetapi takut lupa dari mana Anda datang. Secara konkret: berhenti berbicara tentang orang yang menjauh dari iman dengan nada menang. Doakan mereka dengan nama, bukan sebagai kategori. Dan periksa apakah kemurahan yang Anda terima sudah pernah mengalir keluar berupa uang, waktu, atau kesediaan menerima kembali orang yang mengecewakan Anda.
Sang Tokoh Utama
Allah dalam pasal ini bukan sosok yang bisa diprediksi. Ia mengeraskan hati, dan Ia berbelas kasih; Ia memotong cabang, dan Ia mencangkokkan kembali. Paulus menolak melunakkan salah satu sisi: "perhatikanlah kebaikan dan kekerasan Allah." Kita ingin memilih satu, tetapi teks memaksa kita memandang keduanya sekaligus, seperti memandang matahari yang menghangatkan dan membakar. Yang mengejutkan, tujuan akhir dari seluruh gerak yang rumit itu dinyatakan tanpa ambiguitas: "supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya kepada semua orang." Kekerasan Allah tidak berdiri sendiri; ia melayani kemurahan. Karena itu Paulus tidak berakhir dengan skema, tetapi dengan seruan, "Oh, alangkah dalamnya kekayaan dan kebijaksanaan dan pengetahuan Allah!" Teologi yang benar akhirnya berhenti menjelaskan dan mulai memuji.
Konteks
Roma, sekitar tahun 57. Jemaat di kota itu campuran, dan campuran itu tegang. Beberapa tahun sebelumnya orang Yahudi diusir dari Roma oleh kaisar, dan ketika mereka kembali, jemaat yang mereka tinggalkan sudah didominasi orang non-Yahudi dengan kebiasaan dan pemimpin baru. Mudah dibayangkan siapa merasa jadi tuan rumah dan siapa merasa jadi tamu. Ke situlah Paulus menulis, dan ia menulis sebagai orang Yahudi: "Aku sendiri adalah seorang Israel, keturunan Abraham, anggota suku Benyamin." Ia tidak berdebat dari jarak aman. Perintah agar jangan sombong bukan nasihat umum, melainkan intervensi terhadap dinamika kuasa yang sangat nyata di ruang-ruang pertemuan Roma.
Detail
Kata yang paling menusuk ada di ayat 20: "takutlah." Dalam bahasa aslinya, phobou, sebuah perintah, bukan saran. Paulus tidak berkata "berhati-hatilah sedikit"; ia menaruh rasa takut sebagai lawan langsung dari kesombongan. Ini menarik, karena beberapa pasal sebelumnya ia menulis bahwa kita tidak menerima roh perhambaan yang membuat takut. Jadi takut yang mana? Bukan takut kepada Allah sebagai hakim yang mengintai, tetapi takut yang muncul ketika Anda menyadari betapa tipis dasar posisi Anda: Anda tunas liar, dicangkokkan, "yang berlawanan dengan sifatmu." Orang yang tahu ia dicangkokkan tidak berdiri dengan dada terangkat. Ia berdiri dengan tangan terbuka, dan itu mengubah cara ia berbicara tentang orang lain.
Refleksi
Siapa yang diam-diam saya anggap "cabang yang sudah dipatahkan", dan apa yang berubah jika saya benar-benar percaya Allah berkuasa mencangkokkan mereka kembali?
Di mana dalam hidup saya minggu ini kemurahan yang saya terima harus berubah menjadi kemurahan yang saya berikan, secara konkret dalam waktu, uang, atau kata-kata?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 11
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 11?
Tentang apakah ROMA 11?
Apa konteks historis dari ROMA 11?
Apa yang ROMA 11 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 11 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 11
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Punggung yang membungkuk terus-menerus tidak bisa memandang ke atas. Itulah gambaran yang dipakai Paulus: "Biarlah mata mereka menjadi gelap sehingga tidak dapat melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk." Berat, ya. Tapi jangan berhenti di situ. Ayat berikutnya bertanya apakah mereka jatuh untuk binasa, dan jawabannya tidak. Kadang Tuhan membiarkan kita tertunduk sebentar, supaya akhirnya kita mau mengangkat wajah kepada-Nya.
Apa yang dicari Israel tidak diperolehnya, tetapi orang-orang pilihan memperolehnya." Sungguh mengejutkan: mereka mencari dengan sungguh, namun tidak mendapat. Sebab yang dicari adalah kebenaran yang harus diusahakan, padahal Allah menawarkannya sebagai anugerah. Mungkin kamu pun sedang lelah membuktikan diri kepada Tuhan. Berhentilah mengejar. Terimalah.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi