ROMA 9:32
Teks
Paulus baru saja melontarkan sesuatu yang pasti terasa menyakitkan di telinga pendengar Yahudi di Roma: bangsa-bangsa lain yang tidak pernah repot mencari kebenaran justru mendapatkannya, sementara Israel yang mengejar Taurat siang dan malam tidak sampai. Ayat 32 adalah jawabannya atas pertanyaan "Mengapa?" yang menggantung. Jawaban Paulus singkat dan tanpa bantalan: "Karena mereka tidak mencarinya dengan iman, melainkan dengan berdasar pada perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan." Bukan karena kurang serius, bukan karena kurang taat, bukan karena Allah lalai memenuhi janji-Nya. Melainkan karena cara mereka mencari. Dan yang membuat kalimat ini pedih: batu yang membuat mereka jatuh bukan batu asing yang tergeletak di jalan orang lain. Batu itu diletakkan Allah sendiri di Sion, di jantung tanah mereka, di pusat kebanggaan mereka.
Inti
Bayangkan sebuah rumah sewa bertingkat di Roma, lantai bawah berbau ikan asin dan asap, dua puluh orang berdesakan setelah hari kerja. Sebagian orang Yahudi yang baru pulang dari pengasingan Kaisar Klaudius, sebagian orang bukan Yahudi yang lima tahun lalu masih membakar dupa di depan patung. Bagi orang Yahudi itu, hidup dengan Taurat bukan legalisme dingin; itu identitas yang mereka pertahankan dengan risiko diusir dari kota. Justru di situ letak sengatannya. Paulus tidak sedang mencela usaha yang malas, melainkan usaha yang paling sungguh-sungguh. Inti teologisnya keras: kebenaran di hadapan Allah tidak pernah menjadi hasil kerja, sekalipun kerja itu suci, mahal, dan setia. Iman bukan lawan dari ketaatan, tetapi lawan dari klaim. Dan Kristus, batu itu, tidak bisa dipanjat; Dia hanya bisa dipercayai atau ditabrak.
Benang Merah
Batu itu punya sejarah panjang. Yesaya berbicara tentang batu di Sion pada masa ketika Yerusalem panik menghadapi tentara Asyur dan para pemimpinnya sibuk mencari jaminan di tempat lain: perjanjian dengan Mesir, tembok yang lebih tebal, apa saja asal terasa aman di tangan sendiri. Kepada mereka Allah berkata bahwa Dialah tempat perlindungan, dan sekaligus batu yang membuat orang jatuh. Yang menyelamatkan dan yang menyandung ternyata benda yang sama; bedanya hanya pada apakah orang bersandar padanya atau menabraknya sambil berlari mengejar keamanan sendiri. Paulus mengambil garis itu dan menariknya sampai ke Golgota. Mesias yang disalibkan adalah bentuk paling ekstrem dari batu yang tak bisa dipakai untuk membangun reputasi. Tidak ada yang bisa membanggakan diri karena bersandar pada orang yang digantung. Itulah sebabnya Dia menyelamatkan tanpa sisa ruang untuk klaim.
Cermin
Kita mudah membaca ayat ini sebagai kritik terhadap orang lain, terhadap agama yang kaku, terhadap orang-orang zaman dulu. Tetapi coba periksa hal-hal yang membuat Anda merasa layak: catatan kehadiran ibadah yang rapi, anak-anak yang tidak menyusahkan, keuangan yang bersih, pelayanan yang tidak pernah Anda tinggalkan meski lelah. Semuanya baik. Israel juga baik. Pertanyaannya bukan apakah hal-hal itu benar, melainkan apa yang Anda lakukan dengannya di hadapan Allah. Ada momen jujur yang menyingkap semuanya: ketika doa Anda tidak dijawab dan diam-diam muncul pikiran, "Padahal aku sudah begitu setia." Kalimat itu adalah suara orang yang mencari kebenaran "berdasar pada perbuatan". Di situ batu itu tepat di depan kaki Anda, dan Anda sedang berlari dengan mata tertuju ke prestasi sendiri.
Detail
Kata "tersandung" pantas ditahan sebentar. Tersandung bukan tindakan sadar. Tidak ada orang yang memutuskan untuk tersandung; itu terjadi justru pada orang yang sedang bergerak cepat, yang matanya tertuju ke depan, ke tujuan, ke garis akhir. Paulus tidak menggambarkan Israel sebagai bangsa yang duduk berpangku tangan atau memberontak terang-terangan. Ia menggambarkan pelari. Dan seorang pelari jatuh bukan karena ia berhenti, melainkan karena ia tidak melihat apa yang ada di jalannya. Justru kecepatan yang membuat jatuhnya keras. Ini gambaran yang tidak nyaman bagi orang beragama yang tekun: kesungguhan Anda tidak melindungi Anda dari melewatkan Kristus. Kadang justru kesungguhan itulah yang membuat Anda tidak sempat menoleh kepada-Nya.
Gema Kitab Suci
Paulus langsung mengutip Yesaya di ayat berikutnya: "Lihatlah, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sandungan dan sebuah batu penyesatan, Dan, siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan." Perhatikan siapa yang meletakkan batu itu. Bukan musuh Israel, bukan kebetulan sejarah. Allah sendiri. Itu berarti kejatuhan Israel bukan kegagalan rencana Allah, melainkan bagian dari cara Allah menyingkapkan hati manusia. Gema kedua terdengar dari Hosea yang dikutip Paulus beberapa ayat sebelumnya: "Mereka yang bukan umat-Ku, akan Kusebut umat-Ku." Dua kutipan itu berdiri berdampingan seperti dua sisi mata uang. Yang di dalam bisa tersandung, yang di luar bisa dipanggil masuk. Keduanya sama-sama karya Allah, dan keduanya menghapus segala dasar untuk merasa aman karena keturunan atau prestasi.
Sang Tokoh Utama
Yang berdiri di tengah ayat ini bukan Israel, melainkan Allah yang meletakkan batu. Ada sesuatu yang hampir tak tertahankan dalam gambaran itu: Allah menaruh keselamatan tepat di tengah umat-Nya, di Sion, di tempat paling dekat, dan justru kedekatan itu yang membuat mereka jatuh. Ini bukan Allah yang bermain-main dengan manusia. Ini Allah yang menolak menyelamatkan dengan cara yang membiarkan manusia tetap menjadi pusat cerita. Dan ingatlah, Paulus menulis kalimat keras ini sambil berkata bahwa ia sanggup terkutuk demi bangsanya. Kekerasan teologis dan air mata pastoral ada dalam satu napas. Allah yang meletakkan batu sandungan itu adalah Allah yang sama, yang dalam kesabaran besar menahan diri agar kekayaan kemurahan-Nya dikenal.
Di mana dalam hidup Anda kesungguhan rohani diam-diam berubah menjadi tagihan kepada Allah?
Jika Kristus adalah batu yang hanya bisa dipercayai, bukan dipanjat, apa yang harus Anda lepaskan minggu ini agar tangan Anda kosong untuk bersandar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Romans 9:32
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ROMA 9:32?
Tentang apakah ROMA 9:32?
Apa konteks historis dari ROMA 9:32?
Apa yang ROMA 9:32 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ROMA 9:32 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Romans 9
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, Engkau berkuasa atas segala sesuatu, bahkan atas hal-hal yang tidak aku pahami. Aku tidak selalu mengerti jalan-Mu, tapi aku percaya nama-Mu dinyatakan lewat semuanya. Pakailah hidupku juga, apa pun bentuknya, supaya orang melihat siapa Engkau.
Tuhan, Engkau tidak pernah menggantung janji-Mu setengah jalan. Apa yang Kaukatakan, Kaukerjakan sampai selesai. Aku sering lelah menunggu dan bertanya kapan. Ajar aku percaya bahwa waktu-Mu tepat dan pekerjaan-Mu tidak pernah tanggung.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi