KIDUNG AGUNG 3
Teks
Malam hari, di tempat tidurnya, mempelai perempuan mencari kekasihnya dan tidak menemukannya. Ia bangkit, menyusuri jalan dan lapangan kota, bertanya kepada para penjaga ronda, sampai akhirnya ia menemukan "dia yang dicintai jiwaku" dan menggenggamnya erat-erat: "Aku memegangnya, dan takkan membiarkannya pergi," sampai ia membawanya ke rumah ibunya. Lalu ia kembali menyumpahi putri-putri Yerusalem agar tidak membangkitkan cinta sebelum waktunya. Bagian kedua pasal ini beralih tajam: dari kegelapan kota ke sebuah arak-arakan yang muncul dari padang belantara, berselubung asap mur dan kemenyan. Itulah joli Raja Salomo, dikawal enam puluh pahlawan bersenjata, tandu dari kayu Lebanon dengan tiang perak dan sandaran emas. Dan pasal ini ditutup dengan seruan: keluarlah, pandanglah sang raja bermahkota pada hari pernikahannya.
Inti
Dua gerakan itu bukan kebetulan bersanding. Yang pertama adalah cinta yang mencari dalam gelap; yang kedua adalah cinta yang datang dalam kemegahan. Dan justru urutannya yang penting: pencarian yang gelisah dan setengah putus asa itu berakhir bukan pada kekecewaan, melainkan pada arak-arakan pernikahan. Kitab ini menolak memisahkan kerinduan dari penggenapan.
Yang mengejutkan secara teologis adalah kalimat "Aku memegangnya, dan takkan membiarkannya pergi." Itu bahasa yang sama seperti Yakub bergumul di Yabok. Ada sesuatu dalam kasih sejati yang berani memaksa, yang tidak sopan, yang menolak melepaskan. Alkitab tidak pernah menganggap kerinduan yang keras kepala sebagai dosa; ia menganggapnya sebagai tanda hidup.
Namun perhatikan juga sumpah di ayat 5: cinta tidak boleh dipaksa bangun sebelum waktunya. Mencari dengan gigih dan menunggu dengan sabar ternyata bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya adalah wajah dari satu kesetiaan yang sama, dan di situlah teks ini menyentuh inti hubungan Allah dengan umat-Nya: dicari, dinanti, dan pada akhirnya dirayakan.
Benang Merah
Ada satu detail yang sulit dilewatkan begitu saja: arak-arakan itu "muncul dari padang belantara bagaikan tiang-tiang asap." Setiap pendengar Israel tahu apa artinya tiang asap yang keluar dari padang gurun. Begitulah Tuhan berjalan di depan umat-Nya menuju tanah perjanjian. Di sini gambaran itu dipakai untuk seorang raja yang datang menjemput mempelainya.
Saya tidak ingin memaksa setiap tiang perak menjadi lambang sesuatu. Tetapi polanya nyata dan berulang di seluruh Kitab Suci: Allah mengikat diri kepada umat-Nya dengan bahasa pernikahan, bukan sekadar bahasa kontrak. Dan pola itu berpuncak pada satu titik. Wahyu 19 menyebutnya "perjamuan kawin Anak Domba." Yang keluar dari padang belantara di sana bukan Salomo, melainkan Dia yang lebih besar dari Salomo, dengan mahkota yang bukan diberikan ibu-Nya, melainkan mahkota duri yang berubah menjadi kemuliaan pada hari sukacita hati-Nya.
Cermin
Ada malam-malam ketika doa terasa seperti berbicara ke langit-langit kamar. Anda masih ke gereja, masih memimpin kelompok kecil, masih membuka Alkitab pagi-pagi, tetapi Dia yang dicintai jiwa Anda tidak terasa ada di sana. Anda bertanya kepada para penjaga, artinya orang-orang yang seharusnya tahu: pendeta, buku, podcast, dan mereka tidak memberi jawaban. Perhatikan bahwa perempuan ini menemukan kekasihnya justru sesudah ia melewati para penjaga. Bukan karena mereka salah, tetapi karena tidak seorang pun bisa menggantikan perjumpaan itu.
Teks ini tidak menyuruh Anda tenang. Ia menyuruh Anda bangun dan menyusuri jalan. Kegigihan yang keras kepala itu bukan kekurangan iman; itu iman yang belum menyerah.
Malam ini, sebelum tidur, duduklah di tepi tempat tidur dan ucapkan dengan suara terdengar: "Aku mencari-cari Dia yang dicintai jiwaku." Lalu sebutkan satu tempat konkret dalam hidup Anda di mana Dia terasa hilang. Cukup itu.
Konteks
Latar pasal ini adalah dunia istana Salomo dan kota Yerusalem pada malam hari. Seorang perempuan muda yang berkeliaran sendirian di jalan dan lapangan setelah gelap melanggar hampir semua kepatutan sosial zamannya; para penjaga ronda ada justru untuk mencegah hal semacam itu. Bahwa ia tidak peduli mengatakan sesuatu tentang kekuatan kerinduannya.
Detail lain yang mudah terlewat: ia membawa kekasihnya ke rumah ibunya. Dalam budaya patriarkal, mempelai perempuanlah yang biasanya dibawa ke rumah keluarga laki-laki. Di sini arahnya terbalik, dan ruang perempuan menjadi tempat aman.
Lalu mur, kemenyan, dan serbuk harum dari pedagang: barang impor mahal yang datang lewat kafilah gurun. Tandu kayu Lebanon dengan perak dan emas adalah pameran kekayaan kerajaan. Enam puluh pahlawan bersenjata menunjukkan bahwa perjalanan malam memang berbahaya.
Profil
Nyanyian ini kemungkinan besar dinyanyikan pada pesta-pesta pernikahan Israel, dari mulut ke mulut, jauh sebelum menjadi gulungan. Pendengar aslinya adalah orang-orang biasa yang tahu betapa rapuh cinta dan betapa mahal mur.
Tetapi mereka juga umat perjanjian. Ketika mereka mendengar "Keluarlah, putri-putri Sion, dan pandanglah Raja Salomo," mereka mendengar lebih dari undangan ke pesta seorang tetangga. Mereka mendengar gema raja yang dijanjikan, kemuliaan yang pernah ada dan yang hilang. Bagi generasi sesudah pembuangan, yang tidak lagi punya raja dan mahkota, ayat penutup ini pasti terasa seperti kerinduan yang tajam: pernahkah kami akan melihat lagi Raja kami keluar dengan sukacita? Nabi-nabi menjawab: ya, dan Ia akan menyebut kamu mempelai-Nya.
Tokoh Utama
Perempuan ini adalah tokoh yang paling hidup dalam pasal ini, dan ia sama sekali tidak pasif. Ia bangun, ia berjalan, ia bertanya kepada orang asing, ia menggenggam dan menolak melepaskan. Lanskap batinnya adalah campuran kegelisahan dan keberanian: gelisah karena kehilangan, berani karena tahu apa yang ia inginkan.
Yang menarik secara rohani, ia tidak pernah dihukum karena keberaniannya. Kitab ini justru memberinya suara terbanyak. Dari situ kita belajar sesuatu tentang manusia: kita diciptakan untuk kerinduan yang tidak sopan, yang tidak bisa dibujuk dengan pengganti. Dan kita belajar sesuatu tentang Allah: Dia tidak tersinggung oleh orang yang mencari-Nya dengan terlalu keras. Dia hanya tersinggung oleh ketidakpedulian.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda sudah berhenti mencari, dan diam-diam menyebutnya "menerima keadaan"?
Jika Kristus adalah Raja yang datang menjemput mempelai-Nya, apa yang berubah dari cara Anda menanti hari-hari biasa minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Song of Solomon 3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KIDUNG AGUNG 3?
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 3?
Apa konteks historis dari KIDUNG AGUNG 3?
Apa yang KIDUNG AGUNG 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KIDUNG AGUNG 3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Song of Solomon 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, ada masa hidupku terasa seperti padang gurun yang panjang dan sepi. Tapi Engkau sanggup menuntunku keluar dari sana, membawa sesuatu yang harum dari perjalanan yang berat itu. Tolong aku percaya bahwa Engkau sedang mengerjakan keindahan, bahkan di tempat yang kering.
Raja Salomo membuat bagi dirinya sendiri sebuah tandu dari kayu Lebanon." Ia tidak menyuruh orang lain. Ia sendiri yang merancangnya, memilih kayu terbaik, untuk mengantar mempelainya. Cinta selalu terlihat dari apa yang rela kita kerjakan diam-diam sebelum orang yang kita kasihi tiba. Apa yang sedang kamu siapkan bagi orang yang kamu cintai hari ini?
Perhatikan urutannya: dia bertanya kepada para penjaga, lalu berjalan terus. "Baru saja aku meninggalkan mereka, aku menemukan dia yang jiwaku cintai." Penemuan itu datang beberapa langkah setelah orang lain tak bisa menolongnya. Dan begitu ditemukan, dia memegangnya erat, tidak melepaskannya. Kamu pun boleh sedekap itu memegang Dia yang kamu cari selama ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
