YEREMIA 3
Teks Itu Sendiri
Allah membuka pasal ini dengan mengutip hukum-Nya sendiri: seorang perempuan yang sudah diceraikan dan menjadi milik laki-laki lain tidak boleh diambil kembali. Lalu Ia menerapkannya pada Israel yang "melacur dengan banyak kekasih" di setiap bukit dan di bawah setiap pohon hijau, dan menyebut Yehuda lebih bersalah lagi karena bertobat "dengan pura-pura". Namun justru sesudah dakwaan itu, tiga kali terdengar undangan yang mustahil: "Kembalilah, hai anak-anak yang tidak setia," disusul janji tentang gembala-gembala baru, Yerusalem sebagai takhta TUHAN, dan bangsa-bangsa yang berkumpul di sana.
Inti
Yang terjadi di ayat 1 sampai 12 sebenarnya melanggar logika hukum. Ulangan 24 melarang suami mengambil kembali istri yang sudah menjadi milik orang lain; itu disebut kekejian yang mencemarkan negeri. Allah mengutip aturan itu, mengakui bahwa Ia terikat padanya, bahkan mengatakan Ia sudah memberi surat cerai kepada Israel (ayat 8). Dan sesudah semua itu Ia berkata: pulanglah. Inilah jantung teologis pasal ini. Anugerah di sini bukan kelonggaran moral, bukan Allah yang menurunkan standar-Nya. Standarnya tetap berdiri tegak; justru karena itu undangan-Nya begitu mengguncang. Allah memilih menanggung sendiri kekacauan yang ditimbulkan oleh pengampunan itu. Ia bersedia terlihat tidak konsisten demi tidak kehilangan umat-Nya. Kesetiaan perjanjian ternyata lebih dalam daripada surat cerai.
Benang Merah
Pertanyaan yang menganga di pasal ini adalah: bagaimana Allah bisa menerima kembali tanpa mencemari diri-Nya sendiri? Yeremia tidak menjawabnya. Ia hanya menaruh janji: gembala-gembala sesuai hati Allah, Yerusalem yang disebut "Takhta TUHAN", dan bangsa-bangsa yang berkumpul. Semua itu menunjuk melampaui pemulangan dari pembuangan. Jawabannya baru muncul ketika Anak Allah sendiri berdiri di tempat istri yang tidak setia dan menerima surat cerai itu ke dalam tubuh-Nya. Di salib pencemaran itu ditanggung, bukan diabaikan. Karena itu Perjanjian Baru berani menyebut jemaat sebagai mempelai yang dikuduskan, sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal jika diukur dengan Yeremia 3:1. Perjanjian yang tampak batal ternyata sedang diperbarui dengan harga darah.
Cermin
Perhatikan ayat 10: Yehuda kembali, tetapi "dengan pura-pura". Ini terjadi pada zaman Yosia, masa reformasi besar, ketika mezbah-mezbah dirobohkan dan Paskah dirayakan kembali. Secara statistik gereja waktu itu sedang bertumbuh. Dan justru masa itulah yang Allah sebut lebih buruk daripada kemurtadan terang-terangan Israel. Renungkan itu sebelum Minggu berikutnya. Anda bisa memimpin kelompok kecil, mengatur jadwal ibadah, hafal bahasa rohani, dan tetap menyimpan satu bukit kecil yang tidak pernah Anda robohkan: cara Anda mengatur uang, kepahitan terhadap saudara yang tidak Anda telepon lagi, layar ponsel jam sebelas malam. Ayat 3 mengatakan hujan ditahan, dan mereka tetap tidak tahu malu. Kekeringan rohani sering bukan misteri; kadang ia adalah pesan.
Tokoh Utama
Tokoh utama pasal ini adalah Allah, dan yang paling mengejutkan adalah kehidupan batin-Nya yang dibuka di sini. "Aku berpikir, 'Setelah melakukan semua ini, ia akan kembali kepada-Ku', tetapi ia tidak kembali." Allah menggambarkan diri-Nya menunggu, berharap, lalu kecewa. Di ayat 19 Ia berbicara seperti ayah yang sudah menyiapkan warisan: "Betapa Aku ingin menempatkan kamu di antara anak-anak-Ku." Ini bukan Allah yang dingin menjatuhkan vonis dari kejauhan. Ini suami yang dikhianati dan ayah yang rindu, dua peran yang sengaja ditumpuk dalam satu pasal supaya kita tidak bisa memilih salah satu saja. Murka-Nya di ayat 2 dan kerinduan-Nya di ayat 19 keluar dari sumber yang sama: kasih yang tidak bisa bersikap netral.
Pertanyaan Sulit
Di ayat 5 umat berkata, "Apakah Dia akan marah untuk selamanya?" dan Allah menegur mereka karena mengucapkan itu sambil terus berbuat jahat. Tujuh ayat kemudian Allah sendiri berkata, "Aku tidak akan marah untuk selama-lamanya." Kalimat yang sama, ditolak dari mulut manusia dan diucapkan dari mulut Allah. Mengapa? Karena di mulut umat itu adalah perhitungan: Allah pasti akan luluh, jadi kita bisa terus. Anugerah dijadikan izin. Di mulut Allah itu adalah janji yang lahir dari hati-Nya sendiri, bukan hak yang bisa dituntut siapa pun. Perbedaannya tipis dan tidak bisa diukur dari luar. Kita tidak pernah bisa memastikan dari kejauhan mana yang sedang kita lakukan. Karena itu ayat 13 tetap berdiri: "akuilah kesalahanmu."
Detail
Ayat 16 menyimpan kalimat yang seharusnya membuat pembaca Israel tersedak: Tabut Perjanjian tidak akan lagi disebut, tidak diingat, tidak dirindukan, tidak dibuat lagi. Tabut adalah pusat segalanya, tempat hadirat Allah bertakhta di antara kerub. Kehilangannya adalah bencana nasional. Namun Allah mengatakan benda itu akan menjadi tidak relevan, bukan karena hadirat-Nya hilang, melainkan karena seluruh Yerusalem akan disebut "Takhta TUHAN". Kotak kecil di ruang tergelap Bait Suci digantikan oleh kota yang terbuka bagi segala bangsa. Kata Ibrani yang mengikat seluruh pasal ini, shuv, "kembali", ternyata tidak berarti pulang ke masa lalu yang manis. Allah tidak memulihkan yang lama; Ia memberi sesuatu yang lebih luas daripada yang pernah hilang.
Refleksi
Bukit mana yang belum pernah Anda robohkan, yang selama ini Anda anggap terlalu kecil untuk disebut perzinaan rohani?
Ayat 25 mengajak berbaring dalam rasa malu di hadapan Allah. Apa bedanya rasa malu yang membawa Anda pulang dengan rasa malu yang membuat Anda bersembunyi, dan yang mana yang sedang Anda alami?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 3?
Tentang apakah YEREMIA 3?
Apa konteks historis dari YEREMIA 3?
Apa yang YEREMIA 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Israel sudah pergi. Dibuang ke utara, jauh dari Yerusalem, jauh dari Bait Allah. Dan justru ke arah itulah Tuhan menyuruh Yeremia berseru: "Kembalilah, hai Israel yang murtad." Panggilan itu dikirim ke alamat pembuangan. Mungkin kamu merasa sudah terlalu jauh untuk dipanggil pulang. Tapi suara Tuhan sanggup menempuh jarak itu: "Aku tidak akan marah selamanya.
Perhatikan bahwa TUHAN tidak berkata seperti raja yang undang-undangnya dilanggar. Ia berkata seperti suami yang ditinggalkan: "Sesungguhnya, seperti seorang istri yang tidak setia meninggalkan suaminya, demikianlah kamu tidak setia kepada-Ku, hai keturunan Israel." Dosamu bukan sekadar pelanggaran aturan. Itu melukai hati yang mengasihimu. Dan ajaibnya, hati yang terluka itu masih memanggilmu pulang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
