TITUS 3:6
Teks
Ayat ini menyambung langsung kalimat sebelumnya: Roh Kudus yang membarui kita itu tidak kita hasilkan sendiri, melainkan dicurahkan Allah ke atas kita, dan dicurahkan bukan setetes dua tetes, tetapi "dengan melimpah". Salurannya disebut dengan jelas: "melalui Kristus Yesus, Juru Selamat kita." Jadi dalam satu kalimat pendek Paulus menyebut ketiga pihak sekaligus, Allah yang mencurahkan, Roh yang dicurahkan, dan Kristus sebagai jalan pencurahan itu, dan ia menempatkan semuanya dalam bentuk lampau: sudah terjadi, sudah selesai, bukan sesuatu yang masih harus kita kejar. Yang menarik, kalimat semegah ini muncul di tengah nasihat yang sangat membumi tentang taat kepada penguasa, tidak memfitnah, dan bersikap lemah lembut kepada semua orang. Teologi tertinggi dipakai untuk mengurus perilaku paling sehari-hari.
Inti
Kata "curahkan" bukan kata netral. Dalam bahasa aslinya, ekcheō, kata itu dipakai untuk air yang ditumpahkan sampai habis dari bejana, juga untuk darah yang tertumpah. Allah tidak menakar Roh-Nya seperti orang menakar obat keras. Ia menumpahkan-Nya. Dan itu berarti dasar hidup Kristen bukanlah kekurangan, melainkan kelimpahan yang sudah diberikan. Inilah yang membuat ayat ini punya gigi secara etis: Paulus tidak berkata "berusahalah lebih keras supaya ramah, sabar, tidak bertengkar." Ia berkata bahwa sumber untuk hidup demikian sudah dituangkan ke dalam diri kita. Ketika kita kasar kepada rekan kerja, sinis terhadap pemerintah, atau menyimpan dendam di rumah, persoalannya bukan kita kehabisan bahan bakar rohani. Persoalannya kita hidup seolah-olah bejana itu masih kosong, padahal Allah sudah membuatnya meluap melalui Kristus.
Benang Merah
Kata "curahkan" punya sejarah panjang sebelum sampai ke surat ini. Nabi Yoel menjanjikan hari ketika Allah akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia, bukan lagi hanya ke atas nabi dan raja tertentu, dan Petrus pada hari Pentakosta menunjuk persis ke janji itu untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Paulus memakai kata yang sama, tetapi menambahkan satu hal yang menentukan: pencurahan itu terjadi "melalui Kristus Yesus." Artinya janji nabi itu tidak jatuh begitu saja dari langit; ia mengalir lewat salib dan kebangkitan. Roh yang membarui hati kita adalah Roh yang dibeli dengan darah. Maka setiap kali kita bersikap lembut kepada orang yang menyebalkan, kita sebenarnya sedang memakai sesuatu yang sangat mahal, bukan sekadar mengerahkan watak baik kita sendiri.
Cermin
Perhatikan bagaimana ayat ini menghantam dua arah sekaligus. Kepada Anda yang lelah, yang merasa iman Anda tipis dan doa Anda kering, ayat ini berkata: yang menentukan bukan seberapa penuh perasaan Anda, melainkan bahwa Allah sudah menumpahkan Roh-Nya dengan melimpah. Tetapi kepada Anda yang merasa berhak untuk pelit, ayat ini justru menutup pintu. Anda tidak bisa lagi berkata "saya memang orangnya begini" saat membentak anak, atau menyimpan komentar tajam tentang atasan di grup obrolan, atau menghitung dengan cermat siapa yang lebih dulu harus minta maaf. Orang yang dicurahi dengan melimpah tidak punya alasan untuk hidup dengan takaran. Kelimpahan yang diterima menuntut kelimpahan yang diteruskan, dalam uang, waktu, kesabaran, dan bahasa.
Hari ini juga: pikirkan satu orang yang kepadanya Anda selama ini bersikap seperlunya saja, lalu kirimkan kepadanya satu pesan yang berlebihan menurut ukuran Anda sendiri, sesuatu yang lebih hangat, lebih panjang, lebih murah hati daripada yang biasanya Anda anggap perlu.
Pertanyaan
Kalau Roh dicurahkan "dengan melimpah", mengapa hidup saya sering terasa seperti kran yang menetes? Jawaban murahan akan berkata: Anda kurang beriman, kurang berdoa, kurang menyerah. Paulus tidak berkata begitu di sini. Ia justru menulis kepada jemaat di Kreta yang kacau, penuh pertengkaran dan orang yang memecah belah, dan tetap berkata bahwa Roh sudah dicurahkan atas mereka. Jadi kelimpahan itu bukan gambaran tentang suasana hati kita, melainkan pernyataan tentang apa yang Allah sudah lakukan. Jarak antara keduanya nyata dan menyakitkan, dan Perjanjian Baru tidak menutupinya dengan cepat. Yang ditawarkan bukan penjelasan, melainkan arah: hiduplah dari apa yang benar, bukan dari apa yang terasa. Kadang ketaatan berjalan lebih dulu, dan perasaan menyusul jauh di belakang.
Tokoh Utama
Yang bertindak dalam ayat ini hanya satu: Allah. Kita muncul semata-mata sebagai "atas kita", sasaran, bukan pelaku. Dan cara Allah bertindak mengungkap watak-Nya. Ia bukan Allah yang menghitung, yang memberi sedikit demi sedikit untuk melihat apakah kita layak menerima lebih. Ayat sebelumnya sudah menutup pintu itu rapat-rapat: bukan karena perbuatan benar yang kita lakukan. Ia mencurahkan kepada orang yang di ayat tiga digambarkan bodoh, tidak taat, tersesat, saling membenci. Ada semacam kemewahan dalam cara Allah memberi, sesuatu yang hampir tidak masuk akal secara ekonomi. Dan justru itulah yang harus mengubah cara kita memperlakukan orang yang tidak layak menerima kebaikan kita. Kita tidak sedang diminta meniru sifat yang asing bagi Allah; kita diminta meneruskan apa yang sudah kita terima.
Detail
Perhatikan bahwa dalam beberapa baris yang berdekatan sebutan "Juru Selamat" muncul dua kali, di ayat empat untuk Allah dan di ayat enam untuk Kristus Yesus. Paulus tidak sedang ceroboh. Di dunia Kreta abad pertama, "juru selamat" adalah gelar politik; kaisar dan penguasa senang disebut demikian, karena merekalah yang katanya membawa damai dan kemakmuran. Paulus memakai gelar itu dan meletakkannya pada Allah dan pada Kristus, tepat di tengah nasihat supaya jemaat tunduk kepada pemerintah. Ketaatan warga negara diperintahkan, tetapi ilusi bahwa kekuasaan menyelamatkan dicabut. Kita boleh menghormati pejabat, membayar pajak, mengikuti aturan, tanpa pernah menaruh harapan terakhir kita di sana. Yang menyelamatkan sudah punya nama, dan nama itu bukan nama presiden mana pun.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda masih bersikap seolah persediaan rohani Anda terbatas, sehingga Anda menakar kesabaran dan kemurahan hati Anda kepada orang tertentu?
Siapa "penguasa" dalam hidup Anda, atasan, lembaga, atau sistem, yang diam-diam Anda perlakukan sebagai juru selamat atau sebagai musuh, padahal keduanya berlebihan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Titus 3:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti TITUS 3:6?
Tentang apakah TITUS 3:6?
Apa konteks historis dari TITUS 3:6?
Apa yang TITUS 3:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana TITUS 3:6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Titus 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yang telah Allah curahkan ke atas kita dengan limpah melalui Kristus Yesus, Juru Selamat kita." Perhatikan kata dicurahkan. Bukan ditetesi, bukan ditakar sesuai prestasi. Padahal ayat 3 baru saja menyebut kita dulu bodoh, sesat, diperbudak nafsu. Justru kepada orang seperti itu Allah mencurahkan Roh-Nya sampai meluap. Sudahkah kamu berhenti mengukur kasih itu?
Bapa, aku tahu betul aku tidak pernah bisa membayar apa pun untuk berdiri di hadapan-Mu. Namun karena kebaikan-Mu, aku dinyatakan benar dan diberi tempat sebagai anak. Tolong aku hidup dari pengharapan itu hari ini, bukan dari rasa takut kurang layak.
Zenas dan Apolos hanya numpang lewat. Mereka bukan jemaat tetap Titus, tetapi Paulus menulis: "Usahakanlah dengan sungguh-sungguh supaya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos meneruskan perjalanan mereka, dan jagalah supaya mereka tidak kekurangan apa pun." Kasih diuji justru pada orang yang cuma singgah sebentar. Siapa yang sedang lewat dalam hidupmu, dan diam-diam kekurangan?
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menaruh kata "dahulu" di depan hidupku. Dahulu aku bodoh, disesatkan, diperbudak oleh berbagai keinginan, saling membenci. Engkau tidak membiarkan aku tinggal di sana. Kau tarik aku keluar dan memberiku hati yang baru untuk mengasihi.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi