RATAPAN 2
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk usia sekolah dasar (7-12)
Penjelasan
Kota Yerusalem dulu berdiri kokoh, seperti benteng dengan tembok tinggi dan gerbang besar. Di sana ada Bait Allah, tempat orang menyembah Tuhan. Tapi dalam Ratapan pasal 2, kota itu sudah hancur. Temboknya roboh. Gerbangnya jatuh ke tanah. Musuh sudah masuk dan membakar segalanya.
Yang membuat cerita ini begitu berat adalah satu hal, Tuhan sendiri yang mengizinkan ini terjadi. Bukan karena Dia jahat, tapi karena umat-Nya sudah lama menolak-Nya, seperti anak yang terus menutup telinga saat ayahnya memperingatkan bahaya. Sekarang akibatnya datang, dan itu sangat menyakitkan untuk dilihat.
Bayangkan jalan-jalan kota itu. Anak-anak kecil pingsan karena lapar. Mereka bertanya kepada ibu mereka, "Di mana gandum dan anggur?" Tapi tidak ada makanan lagi. Para tua-tua duduk diam di tanah, menaburkan debu di kepala mereka karena begitu sedih. Musuh-musuh bahkan bersiul dan mengejek, "Kami sudah menelannya!"
Penulis Ratapan menangis sambil menulis ini. Dia berkata, "Mataku sembap karena air mata, hatiku ditumpahkan ke tanah." Dia begitu sedih sampai tidak tahu harus berkata apa lagi.
Apa Artinya Ini?
Cerita ini keras, dan memang sengaja tidak dihaluskan. Alkitab tidak menyembunyikan bahwa dosa punya akibat yang sangat menyakitkan, bukan hanya bagi orang yang berbuat salah, tapi juga bagi orang-orang di sekitarnya, bahkan anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Tapi di tengah kehancuran itu, ada satu seruan penting. Di ayat 19, penulis berkata, "Bangunlah, berserulah pada malam hari. Curahkan hatimu seperti air di hadapan Tuhan." Artinya, meskipun semuanya runtuh, orang masih boleh datang kepada Tuhan dan mengatakan semua yang ada di hati mereka, kesedihan, ketakutan, bahkan pertanyaan yang sulit.
Tuhan tidak menutup pintu bagi orang yang menangis kepada-Nya. Justru Dia mengundang mereka untuk datang.
Benang Merah
Di kemudian hari, Yesus Kristus juga pernah berdiri memandang Yerusalem dan menangis untuk kota itu, karena Dia tahu penderitaan akan datang lagi jika orang terus menolak Allah. Tapi Yesus tidak hanya menangis. Dia datang untuk memikul hukuman itu sendiri, di kayu salib, supaya orang yang percaya kepada-Nya tidak perlu ditinggalkan sendirian dalam kehancuran.
Ratapan pasal 2 berakhir dengan tangisan. Tapi cerita besar Alkitab tidak berhenti di situ. Ada Seorang yang datang untuk membangun kembali apa yang hancur, dan nama-Nya Yesus.
Untukmu
Kalau kamu pernah merasa sangat sedih, atau melihat sesuatu yang rusak dan ingin menangis, kamu boleh melakukan seperti penulis Ratapan. Ceritakan semuanya kepada Tuhan, jangan disimpan sendiri. Malam ini, sebelum tidur, coba katakan kepada Tuhan apa yang membuatmu sedih atau takut. Dia mendengarkan, sama seperti Dia mendengarkan orang-orang yang menangis di Yerusalem dulu.
Mari Bicarakan
Menurutmu, kenapa penting untuk jujur kepada Tuhan tentang perasaan sedih, bukan hanya berpura-pura baik-baik saja?
Apa yang bisa kamu lakukan kalau kamu melihat temanmu sedih sekali, seperti anak-anak Yerusalem yang lapar itu?
Berdoa Bersama
Tuhan Yesus, kadang dunia ini terasa berat dan sedih, seperti kota Yerusalem yang hancur. Terima kasih karena Engkau tidak pernah menutup telinga saat kami menangis kepada-Mu. Tolong kami untuk selalu datang kepada-Mu dengan hati yang jujur. Bangunlah kembali apa yang rusak, di dunia dan di hati kami. Amin.
Pertanyaan tentang RATAPAN 2
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah RATAPAN 2?
Apa yang dikatakan RATAPAN 2?
Apa yang RATAPAN 2 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari anak-anak dari RATAPAN 2?
Mengapa RATAPAN 2 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Malam itu bukan waktu untuk tidur. "Curahkanlah hatimu seperti air di hadapan wajah Tuhan," kata nabi kepada kota yang runtuh, sementara anak-anak pingsan kelaparan di ujung jalan. Air yang dicurahkan tidak disisakan sedikit pun. Doamu boleh sekacau itu, setelanjang itu. Tuhan tidak menunggu doa yang rapi, Dia menunggu yang jujur.
Nabi-nabi itu tidak berbohong dengan kebencian. Mereka berbohong dengan senyum. "Mereka tidak menyingkapkan kesalahanmu untuk memulihkan keadaanmu." Itu kalimat yang menyakitkan: pemulihan sebenarnya mungkin, kalau saja ada yang berani berkata jujur. Siapa di sekitarmu yang kau izinkan menyebut dosamu dengan namanya? Kenyamanan yang menutupi luka bukanlah kasih.
Tali pengukur biasanya dipakai untuk membangun. Di sini TUHAN memakainya untuk merobohkan: "Dia telah merentangkan tali pengukur; Dia tidak menarik kembali tangan-Nya dari membinasakan." Bukan amukan yang serampangan, melainkan ukuran yang cermat. Kalau ada yang runtuh dalam hidupmu, mungkin itu bukan kekacauan buta. Beranikah kamu bertanya apa yang sedang Dia ukur?
Awan itu dulu tanda hadirat-Nya yang menuntun di padang gurun. Kini awan yang sama menyelubungi Sion dalam murka. "Dia tidak mengingat tumpuan kaki-Nya pada hari kemarahan-Nya." Yang paling perih bukan reruntuhan Bait itu, melainkan tangan siapa yang merobohkannya. Beranikah kamu menangis sejujur itu di hadapan-Nya?
Mencari kelompok usia yang lain?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan remaja (12 tahun ke atas).
Buka di alat Alkitab Anak