RATAPAN 2
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
The Explanation
Bab ini adalah salah satu bagian tergelap dalam seluruh Alkitab. Penulis, kemungkinan Nabi Yeremia, berdiri di tengah puing-puing Yerusalem dan menulis apa yang dilihatnya. Tapi yang membuat teks ini begitu berat bukan hanya kehancuran kotanya, melainkan siapa yang disebut sebagai pelakunya. Bukan Babel. Bukan tentara musuh. Tuhan sendiri.
Ayat demi ayat, penulis memakai kata kerja yang keras untuk menggambarkan tindakan Tuhan: menelan, merobohkan, mematahkan, membakar, menghancurkan. Ayat 5 bahkan berkata terang-terangan, "Tuhan menjadi seperti seorang musuh." Bait Allah sendiri, tempat kudus yang seharusnya menjadi tempat paling aman, dirampas dan dinajiskan (ayat 7). Raja, imam, nabi, semua yang seharusnya menjadi pemimpin dan penjaga umat, direndahkan dan dibunuh.
Lalu kamera bergeser ke jalan-jalan kota. Anak-anak dan bayi pingsan kelaparan (ayat 11 hingga 12), bertanya kepada ibu mereka di mana ada roti, sementara nyawa mereka perlahan hilang di pangkuan ibu mereka sendiri. Ini bukan puisi yang dibuat indah. Ini laporan pandangan mata tentang penderitaan manusia yang paling telanjang.
Di tengah semua ini, penulis juga menyalahkan para nabi palsu (ayat 14) yang dulu memberi ramalan menyenangkan tapi tidak jujur, sehingga umat tidak pernah diperingatkan untuk berbalik. Musuh-musuh bersorak dan mengejek (ayat 15 dan 16). Dan penulis, alih-alih menutup mata, mendesak kota yang hancur itu untuk menangis dan berdoa (ayat 18 dan 19), untuk berteriak kepada Tuhan, mengangkat tangan demi nyawa anak-anak yang kelaparan. Bab ini ditutup dengan pertanyaan paling berani dalam seluruh kitab ini, "Terhadap siapakah Engkau telah berbuat demikian?" (ayat 20). Penulis tidak menyembunyikan kemarahan atau kebingungannya. Ia justru membawa semuanya langsung kepada Tuhan.
What Does This Mean?
Ini bagian yang sering dilewati orang, karena terlalu menyakitkan untuk dibaca lama-lama. Tapi justru di sinilah nilainya. Lamentations 2 tidak mencoba membuat penderitaan tampak masuk akal, dan tidak mencoba membuat Tuhan tampak lebih ramah dari yang sebenarnya Alkitab katakan. Ini adalah konsekuensi nyata dari pemberontakan panjang umat Israel terhadap perjanjian yang mereka buat dengan Tuhan sendiri. Yeremia sudah memperingatkan hal ini selama puluhan tahun, dan umat menutup telinga.
Yang penting untuk dipahami, kemarahan Tuhan di sini bukan amarah yang meledak tanpa alasan. Ini adalah kemarahan seorang yang mengasihi, yang perjanjian-Nya diinjak-injak berulang kali, yang kesabaran-Nya sudah diuji habis. Tuhan tidak kejam tanpa sebab. Tapi teks ini tetap tidak berusaha membuat kita merasa nyaman. Ia membiarkan beratnya penderitaan itu tetap berat, tanpa dibungkus kata-kata manis.
Bab ini juga mengajarkan sesuatu penting tentang doa dan iman. Kamu diperbolehkan protes kepada Tuhan. Ayat 20 bukan penghujatan, itu doa. Penulis tidak berhenti percaya bahwa Tuhan itu ada dan berdaulat, justru karena itu ia bertanya langsung kepada-Nya, bukan berpaling dari-Nya.
The Common Thread
Bab ini menunjukkan sesuatu yang mengerikan sekaligus penting, dosa punya harga nyata, dan Tuhan yang adil tidak membiarkannya begitu saja. Tapi seluruh Alkitab menunjukkan bahwa cerita tidak berhenti di sini. Ratapan ini ditulis jauh sebelum salib. Dan di salib, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Kemarahan yang seharusnya jatuh pada umat yang berdosa, jatuh pada Yesus Kristus, Anak Allah yang tidak bersalah.
Ketika Yesus di kayu salib berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?", Ia mengalami sesuatu yang mirip dengan yang dialami Yerusalem dalam bab ini, ditinggalkan, dihancurkan, seakan Allah sendiri menjadi seteru. Bedanya, Yesus tidak menanggung kemarahan itu karena dosa-Nya sendiri. Ia menanggungnya untuk kita, supaya kita yang sebenarnya layak menerima kehancuran seperti Yerusalem, malah menerima pengampunan. Lamentations 2 memperlihatkan betapa serius Tuhan memandang dosa. Salib memperlihatkan sejauh mana Tuhan bersedia pergi untuk menyelamatkan kita dari akibatnya.
For You
Kamu mungkin hidup jauh dari tentara Babel dan tembok kota kuno, tapi kamu tahu rasanya ketika hidup runtuh, entah karena keputusan burukmu sendiri, karena keluarga yang berantakan, atau karena sesuatu yang terasa seperti hukuman yang tidak adil. Bab ini memberi izin kepadamu untuk tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja di hadapan Tuhan. Kamu tidak harus tersenyum dan bicara rohani ketika hatimu sedang hancur.
Yang dilakukan penulis di sini bukan menjauh dari Tuhan saat marah dan bingung, tapi justru mendekat, sambil menangis, sambil bertanya, sambil protes. Itu iman yang jujur, bukan iman yang lemah. Lain kali kamu merasa Tuhan jauh, atau bahkan terasa seperti musuh dalam situasi hidupmu, ingat bahwa Alkitab sendiri punya bahasa untuk itu. Kamu tidak sendirian, dan kamu tidak perlu berbohong kepada Tuhan tentang apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Talk About It
Bab ini menyebut Tuhan sebagai pihak yang menghancurkan, bahkan "menjadi seperti seorang musuh". Bagaimana kamu bereaksi membaca itu, dan apakah kamu pernah merasa Tuhan seperti itu dalam hidupmu?
Penulis Lamentations tidak menyembunyikan kemarahan dan pertanyaannya dari Tuhan, ia justru membawanya langsung kepada-Nya. Apa yang menahanmu untuk melakukan hal yang sama saat kamu marah atau bingung pada Tuhan?
Praying Together
Tuhan, kadang hidup terasa hancur, dan kami tidak selalu mengerti mengapa. Ajar kami untuk jujur di hadapan-Mu seperti penulis ratapan ini, membawa kemarahan, kebingungan, dan air mata kami langsung kepada-Mu, bukan menjauh dari-Mu. Terima kasih karena di salib Kristus, Engkau sendiri menanggung apa yang seharusnya kami tanggung. Bantu kami percaya bahwa kasih-Mu lebih dalam dari kehancuran yang kami lihat. Dalam nama Yesus, amin.
Pertanyaan tentang RATAPAN 2
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah RATAPAN 2?
Apa yang dikatakan RATAPAN 2?
Apa yang RATAPAN 2 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari RATAPAN 2?
Mengapa RATAPAN 2 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Nabi-nabi itu tidak berbohong dengan kebencian. Mereka berbohong dengan senyum. "Mereka tidak menyingkapkan kesalahanmu untuk memulihkan keadaanmu." Itu kalimat yang menyakitkan: pemulihan sebenarnya mungkin, kalau saja ada yang berani berkata jujur. Siapa di sekitarmu yang kau izinkan menyebut dosamu dengan namanya? Kenyamanan yang menutupi luka bukanlah kasih.
Tali pengukur biasanya dipakai untuk membangun. Di sini TUHAN memakainya untuk merobohkan: "Dia telah merentangkan tali pengukur; Dia tidak menarik kembali tangan-Nya dari membinasakan." Bukan amukan yang serampangan, melainkan ukuran yang cermat. Kalau ada yang runtuh dalam hidupmu, mungkin itu bukan kekacauan buta. Beranikah kamu bertanya apa yang sedang Dia ukur?
Awan itu dulu tanda hadirat-Nya yang menuntun di padang gurun. Kini awan yang sama menyelubungi Sion dalam murka. "Dia tidak mengingat tumpuan kaki-Nya pada hari kemarahan-Nya." Yang paling perih bukan reruntuhan Bait itu, melainkan tangan siapa yang merobohkannya. Beranikah kamu menangis sejujur itu di hadapan-Nya?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak