YEREMIA 20
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
The Explanation
Yeremia baru saja menyampaikan sebuah nubuat yang berat, tentang kehancuran yang akan datang atas Yehuda. Reaksi yang ia terima bukan pertobatan, melainkan kekerasan. Pasyhur, seorang pemimpin agama yang mengawasi Bait Allah, memukul Yeremia dan memasukkannya ke dalam pasungan, sejenis alat penyiksaan yang menahan tubuh dalam posisi yang menyakitkan, semalaman penuh, di tempat yang bisa dilihat semua orang yang datang ke rumah Tuhan.
Keesokan harinya, begitu dilepaskan, Yeremia tidak diam. Ia memberi Pasyhur nama baru, Magor-Missabib, yang berarti "kengerian di segala penjuru". Itu bukan hinaan asal-asalan, itu adalah firman Tuhan sendiri: Pasyhur dan seluruh Yehuda akan melihat kehancuran mereka dengan mata mereka sendiri, ditawan ke Babel, mati di negeri asing.
Lalu terjadi sesuatu yang mengejutkan. Setelah menyampaikan firman Tuhan yang keras itu, Yeremia berpaling kepada Tuhan dan mencurahkan isi hatinya dengan cara yang hampir menakutkan kejujurannya. Ia mengaku merasa dibujuk, ditipu, dikalahkan oleh Tuhan sendiri. Ia lelah menjadi bahan tertawaan. Ia ingin berhenti bicara atas nama Tuhan, tapi tidak bisa, karena firman itu seperti api yang terkurung dalam tulang-tulangnya. Di tengah keputusasaan itu ia masih bisa berkata bahwa Tuhan menyertainya seperti pejuang perkasa, dan bahkan menyerukan pujian. Tapi pasal ini tidak berakhir di sana. Ia ditutup dengan kata-kata paling gelap yang pernah diucapkan seorang nabi: kutukan atas hari kelahirannya sendiri, keinginan agar ia tidak pernah dilahirkan.
What Does This Mean?
Bagian ini penting karena menunjukkan sisi dari kehidupan beriman yang sering disembunyikan orang: rasa sakit karena taat kepada Tuhan justru membawa penderitaan, bukan pahala.
Yeremia bukan tokoh super rohani yang tidak pernah goyah. Ia disiksa karena berkata benar. Ia diejek karena setia. Dan responsnya bukan senyum tabah, melainkan keluh kesah yang jujur sampai ke titik paling gelap. Ia bahkan menyesali kelahirannya sendiri. Alkitab tidak menyensor ini. Firman Tuhan mencatat kata-kata seorang nabi yang, untuk sesaat, merasa hidup ini terlalu berat untuk dijalani.
Yang membuat ini penting bukan karena Yeremia benar untuk berkata demikian, tapi karena ini menunjukkan bahwa iman sejati tidak selalu tenang. Ada ruang dalam hubungan dengan Tuhan untuk kemarahan, kelelahan, bahkan keputusasaan yang jujur. Yeremia tidak berhenti bicara pada Tuhan, ia justru bicara lebih keras kepada-Nya. Itu bukan tanda iman yang lemah, itu tanda iman yang hidup, yang berani berhadapan langsung dengan Tuhan dengan seluruh kepedihannya.
The Common Thread
Ada garis yang menghubungkan derita Yeremia dengan seluruh cerita besar Kitab Suci. Seorang yang berkata benar, dihukum oleh mereka yang memegang kuasa agama, disiksa di dekat rumah Tuhan sendiri, diejek oleh orang banyak, ini bukan hanya kisah Yeremia. Ini juga bayangan dari kisah Yesus Kristus.
Yesus juga disiksa oleh pemimpin agama zaman-Nya. Ia juga diejek sepanjang hari oleh orang-orang di sekitar-Nya. Ia juga berseru kepada Bapa dengan kejujuran yang mengerikan, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Perbedaannya, Yeremia berteriak karena ia merasa ditipu oleh Tuhan yang memaksanya bicara, sementara Yesus menanggung derita itu bukan karena dipaksa, tapi karena kasih, untuk kita.
Yeremia berkata firman Tuhan seperti api yang terkurung dalam tulangnya, ia tidak sanggup menahannya. Itu gambaran tentang bagaimana panggilan Tuhan bisa terasa seperti beban yang tak tertahankan, sekaligus sesuatu yang tak bisa dilepaskan. Yesus menanggung beban yang jauh lebih besar, dosa dunia, sampai mati di kayu salib, dan Ia tidak melarikan diri darinya meski Ia bisa. Dalam Yeremia kita melihat seorang manusia yang berjuang untuk tetap setia di tengah penderitaan. Dalam Yesus kita melihat kesetiaan yang sempurna, yang membuat penderitaan kita sendiri punya arti dan punya penebus.
For You
Mungkin kamu pernah merasa seperti Yeremia. Kamu berkata benar, atau berdiri pada apa yang kamu yakini benar, dan hasilnya bukan penghargaan tapi ejekan. Mungkin itu terjadi di sekolah, di grup chat, di rumah, atau bahkan di gereja. Mungkin kamu pernah merasa lelah menjadi orang yang "berbeda", dan pernah berpikir lebih baik diam saja, tidak usah percaya, tidak usah peduli.
Yeremia menunjukkan bahwa kamu tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan Tuhan. Kamu boleh jujur ketika hidup terasa terlalu berat. Kamu boleh berkata pada Tuhan bahwa kamu marah, lelah, bahkan ingin menyerah. Iman yang sehat bukan iman yang selalu tersenyum, tapi iman yang berani bicara jujur kepada Tuhan yang mendengarkan, bahkan ketika perkataan itu gelap.
Tapi perhatikan juga ini, Yeremia tidak berhenti bicara atas nama Tuhan, meski ia ingin. Ada sesuatu yang lebih kuat dari keinginannya untuk menyerah. Mungkin itulah yang perlu kamu cari juga, bukan kekuatan untuk selalu merasa baik, tapi kesetiaan yang tetap bertahan meski hati sedang hancur.
Talk About It
Yeremia jujur sampai titik mengutuk hari kelahirannya sendiri, dan Tuhan membiarkan kata-kata itu tercatat dalam Kitab Suci. Menurutmu, apa artinya ini bagi cara kita boleh bicara jujur pada Tuhan tentang rasa sakit atau kemarahan kita?
Yeremia tetap bicara atas nama Tuhan meski ia diejek dan disiksa karenanya. Adakah sesuatu dalam hidupmu yang kamu tahu benar, tapi kamu diam karena takut akan reaksi orang lain?
Praying Together
Tuhan, kadang hidup terasa lebih berat daripada yang bisa kami tanggung. Terima kasih karena Engkau tidak butuh kami berpura-pura kuat di hadapan-Mu. Ajar kami jujur seperti Yeremia, dan setia seperti Yesus Kristus, yang menanggung derita-Nya karena kasih bagi kami. Kuatkan kami untuk tetap berdiri pada apa yang benar, walau itu mendatangkan ejekan. Amin.
Pertanyaan tentang YEREMIA 20
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah YEREMIA 20?
Apa yang dikatakan YEREMIA 20?
Apa yang YEREMIA 20 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari YEREMIA 20?
Mengapa YEREMIA 20 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Yeremia baru dipukuli dan dipasung semalaman. Yang keluar dari mulutnya bukan rencana balas dendam, tetapi: "yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati." Ia justru lega bahwa Tuhan membaca isi hatinya. Lalu ia berkata, "kepada-Mulah aku telah menyerahkan perkaraku." Perkara yang kamu genggam erat hari ini, sudahkah kamu lepaskan ke tangan yang lebih adil dari tanganmu?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak