HABAKUK 1
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (12 tahun ke atas)
Penjelasan
Kitab Habakuk tidak dimulai dengan pujian. Kitab ini dimulai dengan keluhan. Ayat pertama menyebutnya "nubuat yang Nabi Habakuk lihat", tetapi yang keluar dari mulutnya bukan pesan manis dari surga, melainkan protes: "Berapa lama lagi, TUHAN, aku harus berseru, minta tolong dan tidak akan Engkau dengar?"
Perhatikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Habakuk hidup di Yehuda, umat Allah sendiri, dan yang ia lihat setiap hari adalah kebusukan dari dalam. Penindasan. Kekerasan. Perbantahan dan pertikaian. Ayat 4 menyebutkan inti masalahnya dengan sangat tajam: "hukum diabaikan, dan keadilan tidak pernah muncul." Sistem hukumnya masih ada, pengadilannya masih berjalan, tetapi hasilnya "keadilan yang bengkok". Orang jahat mengepung orang benar, dan tidak ada yang menghentikannya. Habakuk berteriak kepada Allah bukan karena ia meragukan keberadaan-Nya, tetapi justru karena ia percaya Allah itu adil. Kalau Allah adil, mengapa Ia diam?
Lalu Allah menjawab. Dan jawaban-Nya jauh lebih mengganggu daripada diam-Nya.
"Lihatlah di antara bangsa-bangsa, perhatikanlah! Tercenganglah dengan heran," kata Allah, "sebab Aku melakukan pekerjaan pada zamanmu, yang tidak akan kamu percaya jika diceritakan kepadamu." Terdengar seperti kabar baik. Tetapi apa pekerjaan itu? "Akulah yang membangkitkan orang Kasdim." Bangsa Kasdim, yaitu Babel, adalah kekuatan militer paling brutal pada zaman itu. Allah melukiskannya dengan gambaran yang membuat bulu kuduk berdiri: kuda mereka lebih cepat dari macan tutul, lebih ganas dari serigala malam, pasukan berkuda yang terbang seperti rajawali menyambar mangsa. Mereka menawan orang sebanyak butiran pasir. Mereka menertawakan raja-raja dan mengejek kota berbenteng, lalu menimbun tanah untuk memanjat temboknya. Dan ayat 11 menyebut kelemahan fatal mereka: mereka "menjadikan kekuatannya sendiri sebagai dewanya".
Jadi jawaban Allah atas ketidakadilan di Yehuda adalah: Aku akan mengirim bangsa yang lebih jahat lagi.
Habakuk tidak diam. Bagian kedua pasal ini adalah keluhan keduanya, dan justru di sini teologinya paling dalam. Ia mulai dengan siapa Allah: "Bukankah Engkau ada sejak zaman dahulu, ya TUHAN, Allahku, Yang Mahakudus?" Ia berpegang pada Allah sebagai Gunung Batu. Tetapi justru kekudusan Allah itulah yang membuat pertanyaannya makin pedih: "Mata-Mu terlalu suci untuk memandang kejahatan… Mengapa Engkau melihat pengkhianat dan tetap berdiam diri, ketika orang jahat melahap orang yang lebih benar dari mereka?"
Lalu ia memakai gambaran yang mengerikan. Manusia menjadi seperti ikan di laut, seperti binatang melata yang tidak punya penguasa, tidak berdaya, tidak ada yang membela. Babel adalah nelayannya. Mereka menarik manusia dengan kail, mengumpulkan dengan jala, lalu bersukaria. Bahkan mereka mempersembahkan kurban kepada jala mereka sendiri, karena jala itulah yang membuat mereka kaya. Itu penyembahan berhala dalam bentuk paling telanjang: menyembah alat kesuksesanmu sendiri. Pasal ini berakhir tanpa jawaban, dengan pertanyaan yang menggantung: akankah mereka terus membantai bangsa-bangsa tanpa belas kasihan?
Apa Artinya Ini?
Yang pertama dan paling penting: Alkitab memberi ruang bagi protes. Habakuk tidak ditegur karena bertanya. Pertanyaannya justru dibukukan menjadi firman Allah. Kalau kamu pernah merasa bersalah karena marah kepada Allah, karena bertanya "mengapa Engkau diam", ketahuilah bahwa ada nabi yang melakukan persis itu dan Roh Kudus memasukkannya ke dalam Kitab Suci.
Yang kedua, dan ini lebih sulit: Allah tidak selalu menjawab dengan cara yang menenangkan. Habakuk minta keadilan, dan Allah memberikan Babel. Ada kalanya jawaban Allah membuat pertanyaanmu bertambah, bukan berkurang. Iman yang dewasa bukanlah iman yang punya semua jawaban, melainkan iman yang tetap berbicara kepada Allah ketika jawaban-Nya belum masuk akal.
Yang ketiga: Allah berdaulat atas sejarah, termasuk atas bagian-bagian gelapnya. "Akulah yang membangkitkan orang Kasdim." Itu kalimat yang tidak nyaman. Tetapi perhatikan, Allah juga langsung menyebut kesalahan mereka. Allah memakai Babel tanpa membenarkan Babel. Kejahatan tidak pernah menjadi baik hanya karena Allah mampu memakainya.
Benang Merah
Habakuk berdiri di depan jurang yang sama yang kita hadapi: bagaimana Allah yang mata-Nya "terlalu suci untuk memandang kejahatan" bisa hidup berdampingan dengan dunia yang penuh kejahatan, tanpa memusnahkan semuanya?
Jawaban penuhnya belum ada di pasal 1. Jawaban itu muncul di Golgota. Di sana Allah yang kudus tidak lagi berdiam diri. Di sana Ia menanggung sendiri kekerasan, ketidakadilan, dan pengadilan yang bengkok. Yesus Kristus diadili oleh sistem hukum yang persis seperti dikeluhkan Habakuk: hukum diabaikan, keadilan bengkok, orang benar dikepung orang jahat. Dan Ia pun berseru, "Mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Pertanyaan Habakuk keluar dari mulut Anak Allah sendiri.
Allah tidak menjelaskan penderitaan dari jarak jauh. Ia masuk ke dalamnya.
Untuk Kamu
Kamu hidup di zaman ketika ketidakadilan datang ke tanganmu setiap hari lewat layar. Perang, korupsi, kekerasan, orang-orang berkuasa yang tidak pernah tersentuh. Ada dua reaksi yang gampang: mati rasa, atau marah tanpa arah. Habakuk memberi jalan ketiga. Ia membawa kemarahannya kepada Allah, bukan menjauh dari Allah.
Berdoalah dengan jujur. Bukan doa yang rapi dan sopan, tetapi doa yang menyebut apa yang sebenarnya kamu rasakan. Allah lebih sanggup menanggung kejujuranmu daripada kesopananmu yang palsu.
Dan periksa ayat 16 baik-baik. Babel mempersembahkan kurban kepada jala mereka sendiri. Apa jalamu? Nilai rapor, jumlah pengikut, penampilan, bakat, relasi? Yang membuatmu merasa aman dan berharga, itulah yang diam-diam kamu sembah. Habakuk menunjukkan bahwa itu bukan sekadar kesombongan, melainkan penyembahan berhala, dan pada akhirnya itu akan mengecewakanmu.
Bicarakan Bersama
Kapan terakhir kali kamu benar-benar jujur kepada Allah tentang sesuatu yang membuatmu marah atau kecewa kepada-Nya? Kalau belum pernah, apa yang menahanmu?
Kalau "jala" adalah hal yang kamu andalkan untuk merasa berhasil dan aman, apa jalamu, dan apa yang terjadi kalau jala itu robek?
Doa Bersama
Tuhan, aku tidak selalu mengerti Engkau. Ada hal-hal yang kulihat di dunia ini, dan di hidupku sendiri, yang membuatku bertanya di mana Engkau. Ajar aku membawa pertanyaan itu kepada-Mu, bukan menjauh dari-Mu. Engkau Gunung Batu, ada sejak zaman dahulu. Pegang aku ketika aku tidak mengerti. Amin.
Pertanyaan tentang HABAKUK 1
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah HABAKUK 1?
Apa yang dikatakan HABAKUK 1?
Apa yang HABAKUK 1 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari HABAKUK 1?
Mengapa HABAKUK 1 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Yang ditemukan orang lain
Engkau membuat manusia seperti ikan di laut, seperti binatang-binatang melata yang tidak mempunyai penguasa."
Habakuk berani mengucapkan itu di hadapan Tuhan. Ia merasa dunia berjalan tanpa pemerintah, manusia tertangkap jala tanpa yang melindungi. Yang mengharukan: keluhan sekasar ini tidak membuat Tuhan berpaling. Kalau kau merasa seperti ikan di jala hari ini, bawalah itu kepada-Nya, jangan ditelan sendiri.
Bangsa-bangsa diseret seperti ikan: "Karena itu, ia bersukacita dan bersorak-sorai." Yang paling menyakitkan bukan jaringnya, melainkan sorak-sorai itu. Orang yang melukai bisa tertawa puas, dan langit tampak diam. Habakuk tidak menelan pahitnya sendiri. Ia bawa ke hadapan Tuhan. Kamu juga boleh.
Berapa lama, ya TUHAN, aku berseru minta tolong, tetapi Engkau tidak mendengar?" Perhatikan, keluhan ini tidak disensor. Tuhan justru mengabadikannya dalam Kitab Suci. Ternyata pertanyaanmu yang paling pahit pun boleh diucapkan di hadapan-Nya. Diam-Nya bukan berarti Dia pergi. Habakuk terus bicara, dan akhirnya Tuhan menjawab.
Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan dan membiarkan aku memandang kelaliman?" Habakuk tidak mengeluh kepada tetangganya. Ia membawa pertanyaan pedih itu langsung kepada Tuhan. Kepekaanmu terhadap ketidakadilan mungkin bukan tanda iman yang goyah, melainkan mata yang Tuhan buka. Bawalah itu kepada-Nya, jangan simpan sampai menjadi pahit.
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga menyediakan versi khusus untuk balita (usia 3-6) dan usia sekolah dasar (7-12).
Buka di alat Alkitab Anak