WAHYU 6
Penjelasan dan kisah Alkitab untuk remaja (13 tahun ke atas)
Penjelasan
Wahyu 6 membuka dengan sebuah adegan yang mencekam. Anak Domba, yaitu Yesus Kristus yang telah disembelih dan bangkit, membuka enam dari tujuh meterai pada sebuah gulungan kitab. Setiap meterai yang dibuka melepaskan sesuatu ke dalam dunia, dan apa yang keluar bukan kabar baik.
Meterai pertama melepaskan seekor kuda putih dengan penunggang yang memegang panah dan mahkota, maju untuk menaklukkan. Ini gambaran penaklukan dan ambisi kekuasaan yang terus bergerak di bumi. Meterai kedua melepaskan kuda merah menyala, dan penunggangnya diberi kuasa mengambil kedamaian dari bumi, sehingga manusia saling membunuh. Ini adalah perang. Meterai ketiga melepaskan kuda hitam dengan timbangan di tangan, disertai suara yang mengumumkan harga gandum dan jelai yang sangat mahal, tanda kelaparan dan kelangkaan. Meterai keempat melepaskan kuda hijau pucat, ditunggangi oleh sosok bernama Maut, diikuti Hades, dengan kuasa membunuh seperempat bumi lewat pedang, kelaparan, penyakit, dan binatang buas.
Empat kuda ini, yang sering disebut "Empat Penunggang Kuda dari Wahyu," menggambarkan penaklukan, perang, kelaparan, dan maut, kengerian-kengerian yang terus berulang sepanjang sejarah manusia.
Meterai kelima membawa kita ke tempat lain, di bawah mezbah, di mana jiwa-jiwa orang yang mati dibunuh karena firman Allah dan kesaksian mereka berseru meminta keadilan. "Berapa lama lagi?" tanya mereka. Mereka diberi jubah putih dan diberitahu untuk menunggu sebentar, sampai jumlah saudara seiman yang akan mengalami hal sama menjadi genap.
Meterai keenam membuka kengerian yang lebih besar lagi, gempa bumi dahsyat, matahari menjadi gelap, bulan seperti darah, bintang-bintang berjatuhan, langit terbelah seperti gulungan kitab. Semua orang, dari raja sampai budak, ketakutan setengah mati dan bersembunyi, memohon agar gunung-gunung menimpa mereka daripada harus berhadapan dengan murka Allah dan Anak Domba.
Apa Artinya Ini?
Pasal ini tidak ditulis untuk membuatmu takut pada masa depan, tetapi untuk membuatmu jujur tentang dunia yang sedang kamu tinggali. Perang, kelaparan, wabah penyakit, kematian yang tidak adil, ini bukan hal asing bagimu. Kamu melihatnya di berita, di media sosial, mungkin dalam hidupmu sendiri. Wahyu 6 tidak menutup-nutupi itu. Ia berkata dengan terus terang bahwa dunia ini sedang dalam kekacauan yang nyata, dan bahwa kekacauan itu bukan di luar kendali Allah, melainkan terjadi dalam kerangka rencana-Nya yang sedang berjalan menuju penggenapan.
Teriakan jiwa-jiwa di bawah mezbah, "Berapa lama lagi?", adalah teriakan yang mungkin pernah kamu rasakan sendiri ketika melihat ketidakadilan dibiarkan begitu saja. Alkitab tidak meredam pertanyaan itu dengan jawaban klise. Jawaban yang diberikan justru menunggu, bersabar, karena penderitaan karena iman akan terus terjadi sampai waktunya genap. Ini bukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahu kita, tapi jawaban yang jujur.
Benang Merah
Yang memegang gulungan kitab dan membuka meterai-meterainya adalah Anak Domba, bukan singa yang garang, melainkan domba yang pernah disembelih. Itulah Yesus Kristus. Di pasal sebelumnya sudah dijelaskan bahwa Dialah satu-satunya yang layak membuka meterai itu, karena Ia telah mati dan bangkit. Jadi di tengah segala kekacauan dunia, yang memegang kendali sejarah bukanlah kuasa jahat, perang, atau maut itu sendiri. Yang memegang kendali adalah Dia yang pernah mati bagi dosa dunia.
Ini penting sekali. Penderitaan dan kekacauan dalam pasal ini tidak lepas dari tangan Allah. Semuanya terjadi karena Anak Domba membuka meterai itu satu per satu. Allah tidak diam melihat dunia yang hancur, Ia sedang menuntun sejarah menuju penghakiman dan pemulihan yang final. Jiwa-jiwa yang mati syahid diberi jubah putih, tanda bahwa mereka sudah dibenarkan, sudah diterima, sedang menantikan hari yang pasti akan tiba. Janji Allah sejak awal adalah bahwa Ia akan menegakkan keadilan dan Ia akan menang, dan pasal ini adalah bagian dari jalan menuju janji itu digenapi.
Untukmu
Kamu hidup di dunia yang penuh berita buruk, perang di satu negara, kelaparan di negara lain, wabah yang datang tiba-tiba, ketidakadilan yang viral sebentar lalu dilupakan. Mungkin kamu bertanya di mana Allah di tengah semua itu. Wahyu 6 tidak memberi jawaban yang mudah, tapi memberi sesuatu yang lebih kuat dari jawaban mudah, yaitu gambaran bahwa Allah sedang bekerja, bahkan lewat kekacauan, menuju sebuah akhir yang pasti.
Pertanyaan "berapa lama lagi" itu sah. Kamu boleh menanyakannya kepada Allah, bahkan dengan marah, seperti jiwa-jiwa di bawah mezbah. Iman yang jujur bukan iman yang berpura-pura semuanya baik-baik saja, tapi iman yang tetap percaya sambil menunggu, sambil bertanya, sambil berharap pada Dia yang pernah mati disalib demi dunia yang kacau ini. Ketika kamu merasa dunia terlalu berat untuk dipahami, ingatlah bahwa gulungan sejarah itu ada di tangan Anak Domba, bukan di tangan kekacauan itu sendiri.
Mari Bicarakan
Ketika kamu melihat berita tentang perang, kelaparan, atau ketidakadilan, apa yang biasanya kamu rasakan tentang Allah? Apakah pasal ini mengubah cara kamu memandangnya?
Jiwa-jiwa di bawah mezbah harus menunggu dengan sabar sebelum keadilan ditegakkan. Apakah ada hal dalam hidupmu yang membuatmu harus menunggu seperti itu, dan bagaimana kamu menghadapinya?
Berdoa Bersama
Tuhan, dunia ini sering terasa kacau dan penuh ketidakadilan, dan kadang aku tidak mengerti mengapa Engkau membiarkan semua ini terjadi. Ajar aku untuk tetap percaya bahwa Engkau, Anak Domba yang pernah mati bagi dunia ini, sedang memegang kendali atas sejarah, bahkan ketika aku tidak bisa melihatnya. Dengarkanlah ketika aku bertanya berapa lama lagi, dan berikan aku keberanian untuk menunggu dengan iman. Amin.
Pertanyaan tentang WAHYU 6
Jawaban singkat bagi siapa saja yang baru pertama kali membaca tentang ini.
Tentang apakah WAHYU 6?
Apa yang dikatakan WAHYU 6?
Apa yang WAHYU 6 ajarkan tentang Tuhan?
Apa yang dapat dipelajari remaja dari WAHYU 6?
Mengapa WAHYU 6 menjadi kisah Alkitab yang penting?
Mencari yang cocok untuk anak yang lebih kecil?
Kami juga memiliki versi khusus untuk balita (usia 3-5) dan usia sekolah dasar (6-12).
Buka di alat Alkitab Anak