1 KORINTUS 1
Teks
Bayangkan sebuah surat dibacakan keras-keras di ruang makan sebuah rumah di Korintus, di antara bau minyak lampu dan keringat orang-orang yang baru pulang kerja. Paulus membuka dengan sapaan hangat: mereka disebut "jemaat Allah yang berada di Korintus," orang-orang yang "dikuduskan dalam Kristus Yesus," dan ia bersyukur karena mereka "diperkaya dalam Dia, dalam semua perkataan, dan semua pengetahuan." Lalu nada itu berbelok tajam. Ada laporan dari keluarga Kloe: jemaat ini terpecah menjadi kubu-kubu, "Aku dari Paulus," "Aku dari Apolos," "Aku dari Kefas." Paulus menjawab bukan dengan strategi rekonsiliasi, melainkan dengan sebuah salib. Pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan itu memalukan dan bodoh menurut ukuran dunia, justru karena itulah ia menjadi kekuatan dan hikmat Allah, dan justru itulah yang mematahkan setiap kebanggaan manusia.
Inti
Korintus adalah kota di mana orang mengukur diri lewat siapa yang mendukungnya, siapa gurunya, seberapa fasih ia bicara. Ke dalam budaya itu Paulus melemparkan satu kalimat yang meruntuhkan seluruh tangga sosial: "Apakah Paulus disalibkan untukmu?" Inti pasal ini bukan sekadar imbauan supaya jemaat rukun. Perpecahan hanyalah gejala; penyakitnya adalah kebanggaan diri yang mencari sandaran pada manusia. Allah menyelamatkan lewat sebuah eksekusi budak, hukuman paling hina yang bisa dibayangkan Kekaisaran Romawi, dan dengan itu Ia sengaja membuat malu semua sistem nilai yang menakar orang berdasarkan kepintaran, kekuasaan, dan nama besar. Karena itu jemaat sendiri tampak seperti kumpulan yang salah: "tidak banyak yang bijaksana menurut daging, tidak banyak yang berkuasa." Itu bukan kecelakaan, itu strategi Allah, "supaya setiap manusia tidak dapat bermegah di hadapan Allah."
Benang Merah
Paulus mengutip Yesaya: "Aku akan menghancurkan hikmat orang yang bijaksana." Kalimat itu semula ditujukan kepada para penasihat istana Yehuda yang merasa sanggup mengatur keselamatan bangsa lewat perjanjian politik yang cerdik. Allah menjawab dengan menggagalkan perhitungan mereka. Pola itu berulang sepanjang Kitab Suci: anak bungsu dipilih, budak dibebaskan, gembala menjadi raja, seorang perempuan mandul melahirkan janji. Allah bekerja dari bawah, dari yang dianggap tidak berarti. Salib adalah puncak pola itu, bukan penyimpangan darinya. Yang baru bukanlah metodenya melainkan kedalamannya: kali ini Allah sendiri yang mengambil tempat paling hina. Dan di ayat 30 seluruh benang itu disimpul: Kristus "dijadikan hikmat, kebenaran, kekudusan, dan penebusan dari Allah." Segala yang biasa kita kumpulkan untuk membanggakan diri, sudah tersedia sebagai pemberian.
Cermin
Kita jarang berkata "Aku dari Paulus," tetapi kita berkata hal yang sama dengan cara lain. Kita menyebut nama pengkhotbah favorit di grup WhatsApp dengan nada yang halus meninggikan diri. Kita merasa lebih aman dalam iman karena aliran gereja kita dianggap lebih sehat, lebih alkitabiah, lebih berpengetahuan. Di kantor kita mengukur harga diri dari jabatan; di keluarga besar kita diam-diam membandingkan anak. Semua itu adalah bentuk mencari sandaran pada sesuatu yang bukan salib. Paulus tidak menegur kubu-kubu itu dengan mengatakan bahwa mereka kurang toleran, melainkan bahwa mereka lupa siapa yang mati bagi mereka. Hari ini, tuliskan satu nama orang di gereja atau keluarga yang diam-diam Anda pandang rendah secara rohani, lalu ucapkan dengan suara keras: "Kristus disalibkan untuk dia juga."
Tokoh Utama
Perhatikan betapa cepat Paulus menyingkir dari panggung. Ia bersyukur karena hampir tidak membaptis siapa pun di Korintus, sesuatu yang terdengar aneh bagi seorang perintis jemaat, sampai kita sadar bahwa di dunia itu orang yang membaptis mudah dianggap patron rohani yang berhak atas loyalitas. Paulus sengaja memutus rantai utang budi itu. Ia bahkan tidak ingat persis siapa saja yang dibaptisnya. Namun tokoh utama pasal ini bukan Paulus melainkan Allah yang digambarkannya: Allah yang setia (ayat 9), yang meneguhkan sampai akhir, dan yang memilih dengan cara yang mempermalukan. Ada semacam ironi kudus dalam diri-Nya. Ia tidak hanya menyelamatkan orang kecil; Ia memakai kekecilan itu sebagai alat untuk merobohkan kesombongan yang besar.
Pertanyaan
Kalau salib memang kekuatan Allah, mengapa ia tetap terlihat begitu lemah? Paulus tidak berkata bahwa dunia keliru menilai salib itu memalukan. Ia mengakuinya: bagi orang Yahudi batu sandungan, bagi orang Yunani kebodohan. Tidak ada penjelasan yang membuat salib menjadi masuk akal dari luar. Yang membedakan hanyalah "mereka yang dipanggil." Itu jujur, tapi juga mengganggu, sebab artinya kita tidak bisa membuktikan Injil kepada orang lain seperti membuktikan rumus. Kita hanya bisa memberitakannya dan menunggu Allah membuka mata. Bagi kita yang ingin iman terasa terhormat dan meyakinkan di forum publik, ini terasa seperti kekalahan. Mungkin memang begitu. Paulus tampaknya tidak berniat menyembuhkan rasa malu itu, melainkan mengajar kita menanggungnya.
Konteks
Korintus tahun lima puluhan Masehi adalah kota baru yang dibangun kembali di atas reruntuhan, penuh pendatang, pelabuhan di dua sisi, uang mengalir cepat. Kota tanpa aristokrasi lama, tempat mantan budak bisa menjadi kaya dan karena itu sangat sibuk membuktikan status: lewat patung sumbangan, lewat jamuan, lewat guru bicara yang disewa. Retorika adalah olahraga umum; orang datang mendengar pengkhotbah seperti orang datang menonton pertandingan, menilai gaya dan suara. Jemaat berkumpul di rumah, mungkin tiga puluh sampai lima puluh orang, bercampur antara budak, pedagang, dan satu dua orang berada seperti Gayus. Ketegangan sosial itu tidak hilang begitu saja saat mereka duduk bersama. Surat ini dibacakan tepat ke dalam ruangan yang canggung itu.
Refleksi
Pujian dari siapa yang paling Anda butuhkan minggu ini, dan apa yang hal itu ungkapkan tentang di mana sebenarnya Anda mencari nilai diri?
Jika Allah sengaja memilih "yang tidak terpandang dari dunia," bagian mana dari hidup Anda yang selama ini Anda anggap terlalu kecil untuk dipakai-Nya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 1?
Tentang apakah 1 KORINTUS 1?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 1?
Apa yang 1 KORINTUS 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus baru saja menyebut orang-orang yang dipandang bodoh, lemah, dan hina di mata dunia. Justru mereka yang dipilih. Lalu tertulis: "Siapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan." Kamu tidak perlu jadi hebat dulu supaya layak dipakai. Coba tanya jujur: hal apa yang diam-diam kamu banggakan untuk menutupi rasa tidak cukup?
Sehingga kamu tidak kekurangan karunia apa pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita, Yesus Kristus." Paulus menulis ini kepada jemaat yang penuh pertengkaran. Mereka kaya karunia, tapi miskin kasih. Karunia bukan piala untuk dipamerkan, melainkan bekal untuk masa menunggu. Apa yang Tuhan titipkan padamu, sudahkah kaupakai sambil menanti Dia?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi