1 KORINTUS 1:16
Teks Itu Sendiri
Paulus sedang menghitung, dan hitungannya berantakan. Baru saja ia berkata bahwa ia bersyukur tidak membaptis siapa pun kecuali Krispus dan Gayus, lalu ia teringat: "Aku juga membaptiskan seisi rumah Stefanus." Dan sesudah koreksi itu, ia berhenti, karena ingatannya benar-benar habis: "selebihnya, aku tidak tahu apakah aku telah membaptis orang yang lainnya." Satu kalimat yang terdengar seperti gumaman di tengah surat besar tentang salib dan hikmat. Seorang rasul, di tengah argumen yang tajam melawan perpecahan jemaat, mengakui di depan umum bahwa ia lupa siapa saja yang pernah ia baptis. Kalimat itu tidak dihapus. Tidak dirapikan. Ia dibiarkan berdiri di dalam Kitab Suci, lengkap dengan celah ingatannya.
Inti
Ada sesuatu yang membebaskan dalam ketidaktahuan Paulus. Jemaat Korintus sedang sibuk menempelkan nama pada diri mereka: aku dari Paulus, aku dari Apolos, aku dari Kefas. Identitas mereka digantungkan pada tangan siapa yang dulu membasuh mereka. Dan orang yang namanya paling dibanggakan itu justru tidak ingat. Ia tidak menyimpan daftar. Ia tidak menghitung buah pelayanannya seperti orang menghitung piala. Yang menentukan bukan siapa yang membaptis, melainkan ke dalam nama siapa seseorang dibaptis. Allah tidak menyimpan catatan tentang siapa yang berjasa; Ia menyimpan catatan tentang siapa yang menjadi milik-Nya. Ini bukan kerendahan hati yang dibuat-buat. Ini akibat wajar dari Injil: kalau salib yang menyelamatkan, maka tangan pelayan hanyalah tangan, dan boleh dilupakan tanpa kerugian apa pun.
Benang Merah
Sepanjang Alkitab, Allah bekerja lewat orang-orang yang namanya cepat hilang. Bidan-bidan di Mesir, hamba perempuan kecil di rumah Naaman, anak yang membawa lima roti. Sejarah keselamatan penuh dengan tangan-tangan yang tidak dicatat. Paulus, tanpa sengaja, masuk dalam barisan itu: ia menjadi perantara sesuatu yang kekal dan tidak ingat kapan persisnya itu terjadi. Beberapa ayat kemudian ia menjelaskan mengapa, "Sebab, Kristus tidak mengutus aku untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil." Yang diutus selalu lebih kecil daripada yang diberitakan. Dan di ujung pasal ini semuanya bermuara pada satu kalimat: "Biarlah orang yang memegahkan diri, bermegah dalam Tuhan." Lupa nama sendiri adalah bentuk paling jujur dari kemegahan yang dipindahkan.
Cermin
Kita menyimpan daftar. Berapa orang yang kita bimbing, berapa kali kita berkhotbah, siapa yang pernah kita tolong waktu ia terpuruk dan sekarang bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kita ingat, dan ingatan itu diam-diam menjadi tagihan. Di tempat kerja kita ingin nama kita disebut dalam rapat. Di rumah kita ingin diakui: siapa yang sebenarnya menjaga keluarga ini tetap berjalan. Di gereja kita ingin diketahui bahwa program itu jalan karena kita. Paulus tidak ingat, dan ia baik-baik saja. Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah berjasa, melainkan apakah Anda sanggup hidup kalau tidak ada seorang pun yang mengingatnya. Hari ini, sebutkan dengan suara keras satu hal baik yang pernah Anda lakukan dan tidak pernah diakui orang, lalu katakan: "Tuhan, ini milik-Mu," dan tinggalkan di situ.
Gema Kitab Suci
Dua gema terdengar di sini. Yang pertama datang dari Yesus sendiri, yang berkata bahwa tangan kirimu jangan tahu apa yang diperbuat tangan kananmu. Paulus bukan sedang berpura-pura sederhana; ingatannya sungguh kosong, dan justru itulah bentuk paling murni dari nasihat itu. Yang kedua terdengar di akhir surat ini, ketika Paulus akhirnya menyebut keluarga Stefanus lagi sebagai orang-orang yang mengabdikan diri melayani jemaat. Jadi ia ingat rumah itu, ia menghargainya, tetapi ia tidak menjadikannya bukti kredibilitas dirinya. Perbedaannya halus dan penting: mengenang orang lain adalah kasih, mengenang jasa sendiri adalah tagihan. Dan di Korintus, tagihan-tagihan itulah yang sedang merobek jemaat menjadi empat kubu.
Sang Tokoh
Perhatikan suasana batin Paulus di ayat ini. Ia sedang menulis dalam keadaan terluka; kabar dari keluarga Kloe tentang pertengkaran itu jelas menyakitinya. Namun ia tidak membela diri dengan menonjolkan rekam jejaknya. Ia justru mengurangi dirinya, sampai kalimatnya terdengar seperti orang yang menggaruk kepala di depan sekretarisnya. Ada kebebasan aneh di sana. Orang yang identitasnya aman tidak perlu akurat tentang prestasinya. Paulus tahu persis siapa yang memanggilnya, "dipanggil sebagai rasul Yesus Kristus oleh kehendak Allah," dan karena itu ia bisa tidak tahu banyak hal lain tanpa panik. Kepastian tentang panggilan membuat ketidakpastian tentang statistik menjadi tidak menakutkan. Itulah potret seorang hamba yang sudah berhenti mengukur dirinya.
Pertanyaan yang Tersisa
Tetapi ada yang mengganjal. Jika Roh Kudus memimpin penulisan surat ini, mengapa kekeliruan ingatan Paulus dibiarkan berdiri, lengkap dengan koreksinya? Bukankah lebih rapi kalau ayat 14 langsung menyebut ketiga nama itu sekaligus? Saya tidak punya jawaban yang membereskan hal ini. Yang bisa saya katakan: Allah rupanya tidak keberatan firman-Nya datang lewat manusia yang lupa. Ia tidak menuntut hamba-Nya sempurna sebelum dipakai, dan Ia tidak menyensor kelemahan mereka sesudahnya. Mungkin justru di sinilah kekuatan Injil terlihat, bahwa "yang lemah dari Allah adalah lebih kuat daripada manusia." Tetapi saya tetap berdiri di depan ayat ini dengan sedikit heran, dan barangkali memang begitu seharusnya.
Refleksi
Daftar apa yang diam-diam Anda simpan tentang jasa Anda sendiri, dan apa yang akan berubah jika daftar itu hilang besok pagi?
Kalau tidak ada seorang pun yang mengingat pelayanan Anda sepuluh tahun lagi, apakah Anda masih akan melakukannya hari ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 1:16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 1:16?
Tentang apakah 1 KORINTUS 1:16?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 1:16?
Apa yang 1 KORINTUS 1:16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 1:16 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus baru saja menyebut orang-orang yang dipandang bodoh, lemah, dan hina di mata dunia. Justru mereka yang dipilih. Lalu tertulis: "Siapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan." Kamu tidak perlu jadi hebat dulu supaya layak dipakai. Coba tanya jujur: hal apa yang diam-diam kamu banggakan untuk menutupi rasa tidak cukup?
Sehingga kamu tidak kekurangan karunia apa pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita, Yesus Kristus." Paulus menulis ini kepada jemaat yang penuh pertengkaran. Mereka kaya karunia, tapi miskin kasih. Karunia bukan piala untuk dipamerkan, melainkan bekal untuk masa menunggu. Apa yang Tuhan titipkan padamu, sudahkah kaupakai sambil menanti Dia?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi