1 KORINTUS 5:9
Teks
Paulus menyinggung sesuatu yang tidak kita miliki: sebuah surat sebelumnya, yang hilang, yang pernah ia kirim ke Korintus. Isinya satu perintah tajam, dan ia mengutipnya kembali di sini: "jangan bergaul dengan orang-orang cabul." Rupanya jemaat sudah membaca kalimat itu, lalu menafsirkannya dengan cara yang membuat Paulus harus menulis ulang. Mereka mengira ia berbicara tentang dunia di luar sana, tentang para tetangga penyembah berhala, tentang pelanggan di pasar. Ayat berikutnya membongkar salah paham itu: bukan orang luar yang dimaksud, melainkan orang yang duduk di sebelahmu waktu Perjamuan. Satu kalimat pendek, satu kutipan dari surat yang tak lagi ada, dan seluruh arah teguran berbalik ke dalam.
Inti
Yang dipertaruhkan di sini bukan kesucian sebagai gengsi rohani, melainkan siapa sebenarnya yang membentuk kita. Paulus memakai kata synanamignymi, "bercampur baur", gambaran dua bahan yang menyatu sampai tak bisa dipisahkan lagi; bukan sekadar bertegur sapa, tetapi hidup yang saling meresap. Dan justru di situ Allah menuntut kejelasan. Jemaat adalah tubuh Kristus, bukan kumpulan individu yang kebetulan hadir di jam yang sama. Karena itu apa yang kaubiarkan hidup di tengah persekutuan pada akhirnya akan hidup di dalam dirimu, seperti ragi yang disebut Paulus beberapa ayat sebelumnya. Anugerah tidak pernah berarti bahwa dosa tidak lagi berbahaya. Justru karena "Kristus, Domba Paskah kita, sudah disembelih", kekudusan bukan syarat untuk diterima, melainkan bentuk yang wajar dari umat yang sudah dibeli. Salah paham jemaat Korintus, dan sering juga salah paham kita, adalah menaruh garis batas itu di tempat yang salah: di luar, bukan di dalam.
Benang Merah
Kalimat pendek ini berdiri di atas fondasi Paskah. Israel yang keluar dari Mesir diperintahkan membuang ragi dari rumah, bukan karena ragi itu jahat, melainkan karena umat yang baru dibebaskan tidak boleh membawa adonan lama ke dalam hidup barunya. Paulus memakai gambar itu persis beberapa baris sebelumnya: "Kristus, Domba Paskah kita, sudah disembelih." Darah sudah tertumpah; pintu sudah ditandai; maka rumah dibersihkan. Perintah "jangan bergaul dengan orang-orang cabul" bukan aturan tambahan yang ditempelkan pada Injil, melainkan konsekuensi langsung dari pembebasan. Umat yang ditebus selalu menjadi umat yang dipisahkan, bukan supaya merasa lebih baik dari dunia, tetapi supaya identitasnya terbaca. Dan pemisahan itu, sejak Keluaran sampai Korintus, selalu dimulai di dalam rumah sendiri.
Cermin
Kau mungkin merasa aman dengan ayat ini, karena kau memang tidak berteman dengan orang yang hidupnya berantakan. Tapi Paulus tidak sedang berbicara tentang mereka. Ia berbicara tentang rekan kerja yang setiap Minggu duduk di deretan yang sama denganmu dan setiap Senin memanipulasi angka. Tentang kerabat yang perselingkuhannya diketahui semua orang di keluarga besar, dan tidak seorang pun berani menyinggungnya karena Natal harus tetap tenang. Tentang dirimu sendiri, yang lebih takut kehilangan kenyamanan hubungan daripada takut membiarkan sesuatu meragi diam-diam. Kita menyebut pembiaran itu kasih, padahal sering kali itu pengecut yang berpakaian rapi. Yang dibongkar teks ini bukan kekerasan hatimu terhadap orang luar, melainkan kelunakanmu terhadap dosa yang duduk di dekatmu, karena mengoreksinya berarti kehilangan sesuatu.
Tulislah hari ini, di kertas atau di catatan ponselmu, satu nama saudara seiman yang perilakunya sudah lama kaudiamkan demi menjaga suasana tetap nyaman, lalu sebut nama itu dengan lantang di hadapan Tuhan dan akui alasan sebenarnya kau diam.
Profil
Jemaat Korintus membaca kalimat ini sambil bertanya-tanya bagaimana mungkin menjalankannya. Mereka tinggal di kota pelabuhan yang ramai, penuh pendatang, penuh kuil. Sebagian besar dari mereka bukan orang berpengaruh: budak, pedagang kecil, pengrajin. Hidup mereka bergantung pada jaringan sosial yang tidak bisa mereka pilih. Menolak makan bersama seseorang bukan urusan pribadi, melainkan pernyataan publik yang bisa menghancurkan reputasi dan penghasilan. Karena itu tafsiran mereka atas surat pertama Paulus mungkin bukan sekadar kebodohan, melainkan pelarian yang masuk akal: lebih mudah menjaga jarak dari dunia luar secara teoretis daripada menegur orang yang setiap minggu memecah roti bersamamu. Paulus menutup pintu pelarian itu. Ia justru membalik arahnya: dengan orang luar, silakan bergaul; dengan saudara yang hidup mendua, jangan.
Konteks
Surat ini ditulis sekitar pertengahan tahun lima puluhan, dari Efesus, kepada jemaat yang Paulus dirikan sendiri dan yang kemudian mengiriminya kabar buruk lewat orang-orang Kloe. Korintus adalah kota yang dibangun ulang oleh Roma, muda, kaya, dan gila status. Di sana orang mengukur diri dari siapa yang mengundangmu makan malam dan di meja mana kau ditempatkan. Ke dalam budaya itu masuklah jemaat kecil yang justru bangga atas keterbukaannya, sampai kasus di ayat pertama pasal ini dibiarkan berlangsung: seorang anggota hidup dengan istri ayahnya, dan jemaat malah "sombong". Kesombongan itulah latar belakang ayat sembilan. Perintah yang dikutip Paulus bukan lahir dari kebencian terhadap dunia, melainkan dari kepedihan melihat jemaat yang kehilangan kemampuan berduka.
Interteks
Yang mengganggu tentu saja bahwa Yesus justru dikenal sebagai orang yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa, dan para pemimpin agama menggerutu karenanya. Bukankah Paulus bertentangan dengan Gurunya? Tidak, dan justru perbedaan itu memperjelas maksudnya. Yesus makan dengan orang luar untuk memanggil mereka masuk; Paulus melarang makan dengan orang dalam yang menolak dipanggil keluar dari dosanya. Meja yang sama dipakai untuk dua tujuan berbeda. Bandingkan juga tujuan yang Paulus sebut di ayat lima: penyerahan yang keras itu dilakukan "supaya rohnya boleh diselamatkan pada hari Tuhan". Disiplin di sini bukan pembuangan, melainkan bentuk terakhir dari harapan, ketika kata-kata lembut sudah tidak lagi didengar.
Refleksi
Di mana kau menaruh garis batas antara "kami" dan "mereka", dan apakah letak garis itu lebih melindungi kekudusan jemaat atau kenyamananmu sendiri?
Kapan terakhir kali kau berduka, bukan bergosip, atas dosa seseorang yang kaukasihi di dalam jemaat?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Corinthians 5:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 KORINTUS 5:9?
Tentang apakah 1 KORINTUS 5:9?
Apa konteks historis dari 1 KORINTUS 5:9?
Apa yang 1 KORINTUS 5:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 KORINTUS 5:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Corinthians 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan." Paulus tidak sedang bicara soal roti, melainkan soal jemaat yang membanggakan diri sementara satu dosa dibiarkan hidup di tengah mereka. Ragi bekerja diam-diam, tanpa suara, sampai seluruh adonan berubah. Adakah sesuatu yang kamu sebut "kecil saja" hari ini, yang sebenarnya sedang perlahan mengubah seluruh dirimu?
Tuhan, ada orang-orang yang jauh dari jangkauanku, tetapi hatiku tetap bersama mereka. Ajari aku peduli dengan sungguh, bukan hanya diam demi menjaga suasana. Beri aku keberanian untuk berkata jujur dan kasih yang cukup untuk tetap tinggal.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi