1 SAMUEL 23:18
Teks
Dua orang berdiri di sebuah tempat terpencil di Koresa, di pegunungan gurun Zif, dan mengikat perjanjian di hadapan TUHAN. Lalu masing-masing pergi: "Tinggallah Daud di Koresa, dan Yonatan pun pulang ke rumahnya." Satu kalimat, dua arah berlawanan. Yang satu tinggal di celah batu sebagai buronan, yang lain berjalan pulang ke istana ayahnya, ke meja makan orang yang sedang memburu sahabatnya. Sebelum ini Yonatan baru saja berkata: jangan takut, kamu akan menjadi raja, dan aku akan menjadi orang keduamu. Lalu ia pulang. Tidak ada pelukan panjang, tidak ada janji akan datang lagi, tidak ada pasukan bantuan. Hanya perjanjian, lalu perpisahan. Dan sejauh yang kita tahu dari kitab ini, mereka tidak pernah lagi bertemu.
Inti
Perjanjian itu diikat "di hadapan TUHAN", dan itu bukan sekadar formalitas religius. Artinya: yang mengikat keduanya bukan perasaan, bukan kecocokan watak, bukan utang budi, melainkan Allah sendiri sebagai saksi dan penjamin. Yonatan adalah putra mahkota yang sah; secara manusia ia punya segala alasan untuk membenci Daud. Yang ia lakukan justru melepaskan haknya dan menempatkan diri di bawah orang yang dipilih Allah. Inilah bentuk iman yang paling jarang: tunduk pada pilihan Allah ketika pilihan itu merugikan saya. Dan perhatikan arah pelayanannya, ayat 16 menyebutnya "untuk menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah", bukan kepercayaan Daud kepada Yonatan. Yonatan datang bukan untuk membuat Daud bergantung padanya, melainkan untuk menunjuk melewati dirinya sendiri, lalu pulang. Kasih yang sejati selalu begitu: ia menguatkan, lalu mundur.
Benang Merah
Yonatan melakukan sesuatu yang kelak dilakukan setiap orang yang mengenal Kristus: ia mengakui raja yang belum bertakhta. Daud saat itu tidak punya apa-apa, hanya enam ratus orang lelah dan sebuah gua. Tidak ada mahkota, tidak ada tentara, tidak ada bukti. Yonatan mengikat perjanjian dengan seorang raja yang kerajaannya masih tersembunyi sepenuhnya di dalam janji Allah. Pola itu berulang di Golgota, ketika seorang penjahat yang disalibkan di samping Yesus berkata: ingatlah aku apabila Engkau datang sebagai Raja. Sama-sama tidak ada bukti, sama-sama hanya firman. Dan sama-sama diterima. Iman Perjanjian Lama dan iman Perjanjian Baru ternyata satu bentuk: bersumpah setia kepada Raja yang belum terlihat memerintah, lalu hidup sesuai sumpah itu di tempat yang keras.
Cermin
Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: siapa yang Anda kuatkan tanpa ada untung sedikit pun bagi Anda? Kita pandai membangun relasi yang menghasilkan, jaringan kerja, pertemanan yang saling menaikkan. Yonatan berjalan jauh ke gurun untuk satu percakapan, lalu pulang ke rumah yang sama, ke ayah yang sama, ke posisi yang menyusut. Ia tidak mendapat apa-apa. Dan sisi lain cermin ini: beranikah Anda menjadi Daud, yang menerima penguatan dari orang lain tanpa malu? Banyak dari kita lebih suka menjadi penolong daripada yang ditolong, karena ditolong berarti mengakui bahwa kita takut. Daud takut, teksnya mengatakannya terang-terangan di ayat 15. Ia tidak menyembunyikannya dari sahabatnya.
Hari ini, kirim pesan kepada satu orang yang sedang terdesak, dan tuliskan secara khusus apa yang Allah janjikan baginya, bukan apa yang akan Anda lakukan untuknya.
Profil
Pembaca pertama kitab ini hidup setelah kerajaan terbelah, bahkan mungkin setelah pembuangan, dan mereka tahu persis bagaimana keluarga Saul berakhir. Mereka membaca ayat ini sambil mengetahui bahwa Yonatan akan mati di Gilboa bersama ayahnya, dan bahwa ia tidak pernah menjadi "orang kedua" di sisi Daud. Jadi mereka tidak membaca kisah ini sebagai dongeng persahabatan yang berakhir manis. Mereka membacanya sebagai bukti bahwa kesetiaan kepada yang diurapi Allah tetap benar walaupun tidak dibalas dalam hidup ini. Mereka sendiri hidup di bawah kekuasaan asing, menunggu raja dari keturunan Daud yang belum datang. Yonatan adalah potret mereka: setia kepada janji yang tidak sempat mereka lihat terpenuhi.
Pertanyaan
Mengapa Yonatan pulang? Jika ia sungguh percaya Daud akan menjadi raja, mengapa ia tidak tinggal dan ikut menderita? Teks ini membiarkan pertanyaan itu terbuka, dan sebaiknya kita jangan buru-buru menutupnya. Mungkin karena ia terikat pada ayahnya, mungkin karena tanggung jawabnya di Israel, mungkin karena iman tidak selalu berarti tindakan heroik yang terlihat. Yang pasti, Alkitab tidak memuji maupun mencela kepulangan itu. Ada kesetiaan yang tidak sempurna, yang setengah jalan, yang berakhir di tempat yang salah, dan Allah tetap memakainya untuk menguatkan hamba-Nya. Itu menghibur sekaligus mengganggu. Kita ingin kejelasan moral; teks ini memberi kita manusia yang nyata.
Konteks
Peristiwa ini terjadi sekitar tahun seribu sebelum Masehi, di daerah berbukit kapur sebelah selatan Hebron, tanah kering dengan gua-gua dan jurang, cocok untuk bersembunyi dan mematikan jika Anda tidak mengenalnya. Daud sudah diurapi tetapi tidak diakui; secara hukum ia pemberontak. Saul masih memegang negara, tentara, dan loyalitas suku-suku. Dalam dunia Timur Dekat kuno, seorang putra mahkota yang mendukung saingan ayahnya melakukan pengkhianatan politik tingkat tertinggi, pantas dihukum mati, dan Saul memang pernah melemparkan tombak ke arah anaknya sendiri. Jadi perjalanan Yonatan ke Koresa bukan kunjungan persahabatan yang hangat, melainkan tindakan berisiko nyawa. Dan setelah ia pulang, orang Zif langsung melapor kepada Saul. Dunia di sekitar perjanjian itu sepenuhnya bermusuhan.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda menguatkan seseorang dengan menunjuk kepada Allah, bukan kepada diri Anda sendiri sebagai penolongnya?
Hak atau posisi apa yang sedang Anda genggam, yang mungkin diminta Allah untuk Anda lepaskan demi orang lain, tanpa jaminan Anda akan melihat hasilnya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Samuel 23:18
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 SAMUEL 23:18?
Tentang apakah 1 SAMUEL 23:18?
Apa konteks historis dari 1 SAMUEL 23:18?
Apa yang 1 SAMUEL 23:18 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 SAMUEL 23:18 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Samuel 23
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, terima kasih untuk orang orang yang datang menemui aku di tempat tersembunyi dan menguatkan hatiku ketika aku takut. Ajari aku menjadi sahabat seperti itu bagi orang lain, yang ikut senang melihat mereka naik, tanpa merasa harus bersaing.
Terima kasih, Tuhan, karena ketika orang-orang Zif berangkat mendahului Saul, Engkau tetap tahu persis di mana Daud berada di padang belantara Maon. Aku bersyukur, padang gersang tempatku bersembunyi pun tidak pernah luput dari pandangan-Mu, dan di sana Engkau menjagaku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi