1 SAMUEL 23:9
Teks
Kabar buruk sampai ke telinga Daud: Saul sedang merancang kejahatan terhadapnya, dan seluruh pasukan kerajaan sudah dikerahkan untuk mengepung kota Kehila. Di titik itu Daud tidak memanggil penasihat militernya, tidak menghitung enam ratus orangnya melawan ribuan tentara Saul, dan tidak langsung memerintahkan pelarian. Ia memanggil seorang imam. "Bawalah baju efod itu ke sini," katanya kepada Abyatar. Satu kalimat pendek, nyaris tidak dramatis, yang sebenarnya menentukan segalanya: sebelum bergerak, Daud ingin mendengar. Efod itu adalah sarana yang dipakai imam untuk menanyakan kehendak TUHAN, dan Abyatar membawanya sebagai satu-satunya barang yang ia selamatkan ketika melarikan diri dari pembantaian di Nob. Yang tersisa dari keimaman yang dihancurkan Saul kini berdiri di samping raja yang belum bertakhta.
Inti
Perhatikan kontras yang sengaja dibangun penulis. Dua ayat sebelumnya Saul berkata, "Allah menyerahkannya ke dalam tanganku," tanpa pernah bertanya kepada Allah sedikit pun. Ia membaca keadaan, melihat kota berpintu dan berpalang, lalu menempelkan nama Allah pada kesimpulannya sendiri. Daud melakukan kebalikannya: ia mendengar ancaman nyata, lalu meminta efod supaya Allah sendiri yang bicara. Inilah inti teologisnya. Raja yang sah bukanlah yang paling kuat atau paling cerdik, melainkan yang hidup dari firman yang tidak ia karang sendiri. Dan perhatikan: jawaban yang Daud terima tidak menyelamatkan Kehila bagi dia, melainkan menyingkapkan pengkhianatan yang akan datang. Mendengar Allah tidak selalu berarti mendapat kabar baik; sering kali berarti mendapat kebenaran yang membuat kita harus pergi.
Benang Merah
Yang terjadi di Kehila adalah pola yang kelak digenapi secara utuh. Di sini berdiri seorang yang diurapi tetapi belum bertakhta, dikejar oleh kekuasaan yang sah secara formal namun sudah ditinggalkan Allah, dan di sampingnya seorang imam yang selamat dari pembantaian. Raja dan imam berdiri berdampingan, saling membutuhkan: Daud tidak bisa mendengar tanpa efod, Abyatar tidak punya tempat berteduh tanpa Daud. Dalam Kristus kedua jabatan itu menyatu dalam satu Pribadi. Ia adalah Raja yang tidak pernah bertindak tanpa mendengar Bapa, dan sekaligus Imam yang membawa kita masuk ke hadirat Allah. Lebih tajam lagi: Daud bertanya apakah ia akan diserahkan, dan jawabannya ya, orang-orang yang baru saja ia selamatkan akan menyerahkan dia. Daud pergi sebelum itu terjadi. Yesus tidak pergi. Ia tetap tinggal di kota yang akan menyerahkan-Nya.
Cermin
Kita jarang berdosa dengan cara Saul yang kasar, tetapi sangat sering dengan caranya yang halus: menyimpulkan lebih dulu, lalu menempelkan nama Allah di atasnya. Tawaran pekerjaan yang gajinya naik dua kali lipat terasa "pasti dari Tuhan". Keputusan menjauhi anggota keluarga yang menyakiti kita disebut "damai sejahtera". Rencana pindah gereja dibungkus bahasa rohani padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita tersinggung. Daud mengajarkan urutan yang terbalik dari kebiasaan kita: dengar dulu, baru bergerak, bahkan ketika pasukan sudah di depan pintu dan setiap menit terasa mahal. Dan ia bertanya dengan pertanyaan yang sangat konkret, bukan doa umum tentang "pimpinan Tuhan", melainkan: apakah Saul akan datang, apakah mereka akan menyerahkan aku. Hari ini, tuliskan satu keputusan yang sudah Anda ambil dalam hati tetapi belum Anda bawa kepada Allah, lalu ucapkan pertanyaannya keras-keras kepada-Nya dalam kalimat sesederhana kalimat Daud.
Teks Terkait
Bandingkan ayat ini dengan 1 Samuel 28, ketika Saul akhirnya ingin mendengar dan tidak ada yang menjawab, sehingga ia mencari perantara roh di Endor. Orang yang terbiasa memakai nama Allah tanpa bertanya akan tiba pada malam di mana langit membisu. Urutan sejarahnya mengerikan: Saul membantai para imam di Nob, dan sisa keimaman itu lari ke Daud bersama efodnya. Saul sendiri yang mengusir sarana untuk mendengar keluar dari istananya. Di sisi lain berdiri Yohanes 5:19, ketika Yesus berkata bahwa Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, melainkan hanya apa yang dilihat-Nya dikerjakan Bapa. Kalimat itu adalah bentuk sempurna dari "Bawalah baju efod itu ke sini".
Profil
Pembaca pertama kisah ini adalah orang Israel yang sudah mengenal akhir ceritanya: Saul mati, Daud menjadi raja, dan keturunannya memerintah di Yerusalem. Tetapi banyak dari mereka membaca ini dalam masa ketika takhta Daud goyah atau bahkan sudah runtuh, dan negeri dikuasai orang asing. Bagi mereka, gambar seorang raja pilihan Allah yang berkeliaran di padang gurun, dikhianati kota yang ia bebaskan, dan hanya memiliki sebuah efod sebagai jaminan, bukan kisah heroik melainkan cermin. Mereka tahu rasanya menjadi umat yang benar namun terdesak. Dan mereka mendengar sesuatu yang menguatkan: Allah tidak menyerahkan Daud. Kekuasaan boleh berada di tangan Saul, tetapi masa depan ada di tangan Allah, dan jalan masuk ke masa depan itu adalah bertanya kepada-Nya.
Tokoh Utama
Daud di pasal ini bukan pahlawan yang tenang. Ayat 15 mengatakannya terus terang: Daud takut. Ia bukan orang yang kebal panik; ia orang yang tahu ke mana membawa paniknya. Empat kali dalam pasal ini ia bertanya kepada TUHAN, dan setiap kali jawabannya membentuk langkah berikutnya, termasuk langkah yang pahit. Ia baru saja mempertaruhkan nyawa untuk Kehila, dan ia harus mendengar bahwa Kehila akan menjual dia. Ia tidak membalas, tidak menghukum kota itu, tidak menuntut rasa terima kasih. Ia pergi. Di situlah letak kebesarannya yang sesungguhnya: ia tidak memakai kuasa untuk membela kehormatannya sendiri. Dan tepat di sana kita melihat garis tipis yang menghubungkan gua-gua Yehuda dengan taman Getsemani.
Refleksi
Dalam keputusan besar yang sedang Anda hadapi, apakah Anda sedang bertanya kepada Allah, atau sedang mencari persetujuan-Nya untuk sesuatu yang sudah Anda putuskan?
Daud mendengar kebenaran yang menyakitkan dan tetap taat. Kebenaran apa tentang diri Anda atau situasi Anda yang selama ini Anda hindari untuk didengar?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 1 Samuel 23:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 1 SAMUEL 23:9?
Tentang apakah 1 SAMUEL 23:9?
Apa konteks historis dari 1 SAMUEL 23:9?
Apa yang 1 SAMUEL 23:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 1 SAMUEL 23:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 1 Samuel 23
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, terima kasih untuk orang orang yang datang menemui aku di tempat tersembunyi dan menguatkan hatiku ketika aku takut. Ajari aku menjadi sahabat seperti itu bagi orang lain, yang ikut senang melihat mereka naik, tanpa merasa harus bersaing.
Terima kasih, Tuhan, karena ketika orang-orang Zif berangkat mendahului Saul, Engkau tetap tahu persis di mana Daud berada di padang belantara Maon. Aku bersyukur, padang gersang tempatku bersembunyi pun tidak pernah luput dari pandangan-Mu, dan di sana Engkau menjagaku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi