Penjelasan Alkitab

2 TAWARIKH 31

Alkitab
Pasal ini hadir berkat JL Group

Teks

Setelah Paskah besar itu usai, orang-orang tidak langsung pulang. Mereka menyebar ke kota-kota Yehuda, Benyamin, bahkan sampai ke wilayah utara Efraim dan Manasye, lalu menghancurkan tiang berhala, menebang patung Asyera, dan merobohkan bukit-bukit pengurbanan "sampai semuanya habis." Baru sesudah itu mereka kembali ke tanah milik masing-masing. Hizkia lalu menata ulang pelayanan: para imam dan orang Lewi dibagi dalam kelompok tugas, raja sendiri menyumbang dari harta pribadinya, dan rakyat diperintahkan memberi bagian bagi para pelayan bait Allah. Hasilnya melampaui dugaan. Gandum, anggur, minyak, madu, ternak, persepuluhan, semuanya bertumpuk-tumpuk selama empat bulan penuh, sampai Hizkia harus menyuruh membangun kamar-kamar penyimpanan. Pasal ini ditutup dengan kalimat yang menilai seluruh hidup Hizkia: ia melakukannya "dengan segenap hati dan berhasil."

Inti

Perhatikan urutannya, karena di situlah letak ketegangannya. Mereka merobohkan dulu, baru memberi. Pembongkaran berhala dan tumpukan persembahan bukan dua cerita terpisah; yang kedua tidak mungkin terjadi tanpa yang pertama. Selama ada mazbah lain yang masih berdiri di kota mereka, hasil panen akan terbagi. Begitu berhala habis, ternyata ada kelimpahan yang selama ini tersembunyi. Teks ini mengatakan sesuatu yang tidak nyaman tentang kita: kekurangan kita sering bukan soal jumlah, melainkan soal alamat. Kita punya cukup, tetapi terlalu banyak tujuan pengiriman. Dan tentang Allah: Dia bukan pemungut yang menguras, melainkan Pemberi yang membuat sisanya menumpuk sampai perlu gudang baru. Azarya menyebutnya terus terang, "TUHAN memberkati umat-Nya sehingga sisanya sebanyak ini." Ketaatan di sini bukan harga yang dibayar, tetapi pintu yang dibuka.

Benang Merah

Yang dirobohkan di pasal ini adalah bukit-bukit pengurbanan, tempat orang menyembah TUHAN juga, tetapi di alamat yang salah. Seluruh gerakan Hizkia mengarahkan ibadah ke satu titik: bait Allah di Yerusalem, satu mazbah, satu jalan masuk. Di situ ada bayangan yang panjang. Perjanjian Lama terus mempersempit tempat perjumpaan dengan Allah sampai akhirnya menyempit menjadi satu Pribadi. Yesus berdiri di bait itu dan berbicara tentang bait yang akan dirobohkan dan didirikan kembali dalam tiga hari, dan yang Ia maksud adalah tubuh-Nya. Hizkia menyumbang dari harta miliknya sendiri untuk kurban pagi dan petang; Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri, bukan hanya sebagiannya. Dan tumpukan yang bersisa itu bukan kebetulan: di mana pemberian Allah diterima dengan sungguh-sungguh, selalu ada kelebihan. Dua belas bakul sisa roti bukan cerita lain, melainkan cerita yang sama.

Cermin

Pertanyaannya bukan apakah Anda percaya kepada Allah, tetapi mazbah apa yang masih berdiri di halaman belakang hidup Anda sementara Anda tetap rajin ke gereja. Rekening yang tidak pernah Anda bicarakan dengan siapa pun. Ambisi karier yang diam-diam menentukan jam berapa Anda pulang dan dengan wajah seperti apa Anda menyapa anak-anak. Kebiasaan membandingkan rumah dan tubuh dengan orang lain lewat layar sebelum tidur. Itu semua bukan ateisme; itu ibadah di bukit pengurbanan. Hizkia tidak menyuruh orang menambah kegiatan rohani lebih dulu, ia menyuruh mereka membongkar. Dan perhatikan: mereka membongkar di kota masing-masing, bukan di kota tetangga. Kekudusan dimulai di wilayah yang Anda kuasai. Juga perhatikan siapa yang mulai memberi: raja, dari harta pribadinya, sebelum rakyat diperintah. Kepemimpinan yang menyuruh tanpa mendahului selalu terdengar palsu.

Hari ini: buka catatan pengeluaran bulan lalu, tandai satu pos yang paling jujur mengungkap ke mana hati Anda tertuju, lalu kirim satu pemberian nyata hari ini juga kepada seorang pelayan Tuhan atau orang yang Anda kenal sedang kekurangan.

Tokoh Utama

Hizkia adalah raja yang tidak puas dengan perayaan. Paskah besar di pasal sebelumnya bisa saja menjadi puncak yang indah lalu selesai, tetapi ia justru membangun struktur: kelompok tugas, daftar nama, pengawas, kamar penyimpanan. Ada semacam ketelitian administratif yang hampir membosankan dalam pasal ini, dan itu justru kesaksiannya. Ia tahu bahwa semangat tanpa sistem akan menguap dalam tiga bulan. Namun ia bukan birokrat dingin; ia datang melihat tumpukan itu dan memuji TUHAN serta umat-Nya, lalu bertanya kepada para imam tentangnya, seperti orang yang ingin tahu apa yang sebenarnya sedang Allah kerjakan. Penilaian akhirnya terasa hangat justru karena rangkaian daftar nama itu: "dia melaksanakannya dengan segenap hati dan berhasil." Segenap hati, bukan setengah; dan hati itu terbukti dalam urusan gudang.

Konteks

Kita berada di akhir abad kedelapan sebelum Kristus. Kerajaan utara baru saja runtuh di tangan Asyur, dan sisa-sisa penduduk Efraim dan Manasye hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan asing. Ketika orang-orang menyeberang ke wilayah utara untuk merobohkan berhala, itu bukan sekadar tindakan rohani, itu juga pernyataan politik yang berisiko. Ayah Hizkia, Ahas, telah menutup bait Allah dan menyembah dewa-dewa pemenang perang; satu generasi tumbuh tanpa ibadah yang teratur. Para imam dan orang Lewi tidak punya tanah warisan, mereka hidup sepenuhnya dari persembahan umat. Ketika umat berhenti memberi, para pelayan Allah pulang ke ladang dan ibadah berhenti dengan sendirinya. Karena itu perintah Hizkia di ayat 4 bukan soal uang saja, tetapi soal apakah bangsa ini masih punya ibadah besok pagi.

Intertekstualitas

Nehemia nanti pulang ke Yerusalem dan menemukan persis kebalikannya: kamar-kamar persembahan yang kosong dan orang Lewi yang sudah lari ke ladang karena tidak diberi bagian. Dua pasal ini berdiri berhadapan seperti cermin, dan yang membedakannya hanyalah apakah umat setia dalam hal yang terlihat kecil. Lalu ada Maleakhi, yang berbicara kepada generasi yang menahan persepuluhan, dan di sana Allah menantang umat-Nya untuk menguji Dia, apakah Ia tidak akan mencurahkan berkat sampai berkelimpahan. 2 Tawarikh 31 adalah gambar dari janji itu yang sudah terjadi: tumpukan yang bertambah dari bulan ketiga sampai bulan ketujuh, sampai orang kehabisan tempat.

Refleksi

Mazbah apa yang masih berdiri di wilayah yang Anda kuasai sendiri, yang belum pernah Anda sentuh karena merobohkannya akan terasa seperti kehilangan?

Jika seseorang memeriksa ke mana uang dan waktu Anda mengalir bulan lalu, alamat siapa yang paling sering muncul?

Selami lebih dalam 2 Chronicles

Buku pilihan yang menggali kitab Alkitab ini lebih dalam.

Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian - Ester

Donald Guthrie & J. A. Motyer (ed.)

Bagian 2 Tawarikh dalam jilid ini memberi penjelasan pasal demi pasal yang ringkas namun setia pada Alkitab, menolong Anda melihat bagaimana sejarah raja-raja Yehuda mengarahkan hati kepada ibadah yang murni dan kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya.

Faith.network earns a small commission on Kobo purchases made through these links, at no extra cost to you. It helps keep the studies free.

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Chronicles 31

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 2 TAWARIKH 31?
Setelah Paskah besar itu usai, orang-orang tidak langsung pulang. Mereka menyebar ke kota-kota Yehuda, Benyamin, bahkan sampai ke wilayah utara Efraim dan Manasye, lalu menghancurkan tiang berhala, menebang patung Asyera, dan merobohkan bukit-bukit pengurbanan "sampai semuanya habis.
Tentang apakah 2 TAWARIKH 31?
Yang dirobohkan di pasal ini adalah bukit-bukit pengurbanan, tempat orang menyembah TUHAN juga, tetapi di alamat yang salah. Seluruh gerakan Hizkia mengarahkan ibadah ke satu titik: bait Allah di Yerusalem, satu mazbah, satu jalan masuk. Di situ ada bayangan yang panjang. Perjanjian Lama terus mempersempit tempat perjumpaan dengan Allah sampai akhirnya menyempit menjadi satu Pribadi.
Apa konteks historis dari 2 TAWARIKH 31?
Hari ini: buka catatan pengeluaran bulan lalu, tandai satu pos yang paling jujur mengungkap ke mana hati Anda tertuju, lalu kirim satu pemberian nyata hari ini juga kepada seorang pelayan Tuhan atau orang yang Anda kenal sedang kekurangan.
Apa yang 2 TAWARIKH 31 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Kita berada di akhir abad kedelapan sebelum Kristus. Kerajaan utara baru saja runtuh di tangan Asyur, dan sisa-sisa penduduk Efraim dan Manasye hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan asing. Ketika orang-orang menyeberang ke wilayah utara untuk merobohkan berhala, itu bukan sekadar tindakan rohani, itu juga pernyataan politik yang berisiko.
Bagaimana 2 TAWARIKH 31 masih relevan hari ini?
Mazbah apa yang masih berdiri di wilayah yang Anda kuasai sendiri, yang belum pernah Anda sentuh karena merobohkannya akan terasa seperti kehilangan?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 2 Chronicles 31

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Doa Editorial pada ayat 4

Bapa, ajar aku murah hati dengan apa yang Kau titipkan. Tolong aku ikut menopang mereka yang melayani, supaya hati mereka bebas tertuju pada firman-Mu. Lepaskan aku dari genggaman erat pada milikku, dan buat memberi menjadi sukacita, bukan beban.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi