Penjelasan Alkitab

2 TAWARIKH 34

Alkitab
Pasal ini hadir berkat JL Group

Nas Itu

Yosia naik takhta pada usia delapan tahun dan selama tiga puluh satu tahun memerintah di Yerusalem. Pada tahun kedelapan ia mulai mencari Allah; pada tahun kedua belas ia menghancurkan mazbah, patung Asyera, dan pilar matahari di seluruh negeri; pada tahun kedelapan belas, ketika uang perbaikan Bait Allah dikeluarkan, Imam Hilkia menemukan kitab Taurat. Raja mendengarnya dibacakan, merobek pakaiannya, mengutus orang kepada Nabiah Hulda, lalu mengumpulkan seluruh rakyat dan mengikat perjanjian untuk mengikuti Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa.

Inti

Perhatikan urutannya, karena di situ letak yang mengganggu sekaligus melegakan. Yosia sudah bertahun-tahun melakukan apa yang benar sebelum ia pernah mendengar kitab itu. Ia sudah menumbuk patung, membakar tulang, membersihkan negeri sampai ke Naftali. Lalu firman datang, dan yang terjadi bukan pujian melainkan pakaian yang terkoyak. Rupanya kesalehan yang paling sungguh-sungguh pun belum tentu tahu seberapa dalam ia tertinggal. Firman Allah tidak datang untuk mengesahkan apa yang sudah kita bangun; ia datang untuk mengukurnya. Dan jawaban Tuhan melalui Hulda membelah dua: malapetaka tetap datang, tetapi "karena hatimu menjadi lembut." Hati yang lembut tidak membatalkan penghakiman, namun didengar. Itulah anugerah dalam bentuknya yang paling telanjang: Allah tidak menukar keadilan-Nya, tetapi Ia sungguh-sungguh menoleh kepada orang yang hancur.

Benang Merah

Ada sesuatu yang tak selesai dalam pasal ini, dan kita sebaiknya tidak buru-buru menutupnya. Reformasi Yosia adalah yang paling radikal dalam sejarah Yehuda, namun ayat 25 tetap berdiri: "Murka-Ku akan dicurahkan ke tempat ini dan itu tidak akan padam." Seorang raja yang baik, dengan hati yang benar, tidak sanggup membalikkan sejarah bangsanya. Pembersihan dari luar tidak mengubah hati dari dalam, dan Yeremia, yang bernubuat tepat pada tahun-tahun ini, menagih persoalan yang sama: yang dibutuhkan adalah perjanjian yang ditulis di hati, bukan di gulungan yang bisa hilang di gudang Bait Allah. Yosia memperbaiki rumah batu; Kristus datang sebagai Raja yang menanggung sendiri murka yang tidak padam itu, dan dari situ lahir ketaatan yang tidak bergantung pada umur seorang raja.

Cermin

Ayat 33 menyimpan kalimat yang menusuk: "Di sepanjang hidup Yosia, mereka tidak berbalik." Sepanjang hidup Yosia. Bukan sepanjang hidup mereka sendiri. Bangsa itu taat selama ada orang kuat yang menahan mereka. Tanyakanlah dengan jujur: iman Anda hari ini bertopang pada siapa? Pada gembala yang Anda kagumi, pada pasangan yang lebih rohani, pada kelompok yang membuat Anda merasa aman? Dan pertanyaan yang lebih tajam: adakah kitab yang tergeletak di gudang hidup Anda, bagian Alkitab yang Anda hindari karena tahu ia akan menuntut sesuatu dari cara Anda memakai uang, memperlakukan anak, atau mengisi waktu? Yosia tidak membela diri; ia mendengar dan hancur. Hari ini juga: bacalah dengan suara keras satu bagian Alkitab yang selama ini Anda lewati, lalu diam satu menit tanpa menjelaskan apa pun kepada diri sendiri.

Para Pendengar Pertama

Kitab Tawarikh ditulis bagi orang-orang yang sudah mengalami malapetaka yang dinubuatkan Hulda. Mereka pulang dari pembuangan ke kota yang temboknya rapuh dan Baitnya kecil. Bagi mereka, kisah Yosia bukan nostalgia melainkan pertanyaan hidup-mati: apakah pertobatan masih ada gunanya kalau penghukuman tetap tiba? Jawaban Tawarikh tidak manis. Reruntuhan itu nyata, nenek moyang memang tidak memelihara firman. Tetapi perhatikan apa yang digarisbawahi penulis: uang perbaikan Bait Allah datang juga dari Manasye, Efraim, "semua sisa orang Israel." Bagi komunitas kecil yang merasa menjadi sisa, itu isyarat bahwa sisa-sisa pun punya tempat dalam pembangunan rumah Tuhan. Dan firman yang pernah hilang ternyata bisa ditemukan kembali.

Konteks

Kita berada di akhir abad ketujuh sebelum Masehi. Asyur, yang selama seratus tahun mencengkeram Yehuda, sedang runtuh; Babel belum sepenuhnya bangkit. Dalam celah kekuasaan itulah Yosia bisa bergerak sampai ke wilayah Naftali di utara, tanah yang secara politis bukan miliknya. Kakeknya Manasye memerintah lima puluh lima tahun dan memenuhi negeri dengan mazbah asing; ayahnya Amon dibunuh dalam istananya sendiri. Yosia berumur delapan tahun ketika para pejabat mendudukkannya di takhta, seorang anak di tengah intrik. Yang ia hancurkan bukan sekadar benda keagamaan, melainkan ekonomi dan jaringan kuasa yang hidup dari bukit-bukit pengurbanan itu. Membakar tulang imam di atas mazbah mereka sendiri adalah pernyataan politik yang mematikan, bukan kebaktian pembaruan yang nyaman.

Tokoh Utama

Yosia mulai mencari Allah pada tahun kedelapan pemerintahannya, saat berumur enam belas tahun, "saat dia masih muda." Ia tidak punya ayah yang mengajarnya, tidak punya kitab di tangan. Ia hanya mencari Allah Daud, nenek moyangnya, dan pencarian itu menyeretnya belasan tahun sebelum ia menemukan apa yang dicarinya. Yang paling mengesankan bukan keberaniannya merobohkan patung, melainkan keterbukaannya untuk dihancurkan oleh sebuah gulungan tua. Seorang raja berusia dua puluh enam tahun, di puncak keberhasilan reformasinya, mendengar sebuah kitab dan merobek pakaiannya. Ia tidak berkata, "Tetapi aku sudah membersihkan negeri." Ia berkata, murka Tuhan telah dicurahkan atas kita. Itulah hati yang lembut: bukan hati yang lemah, melainkan hati yang masih bisa disentuh setelah bertahun-tahun bekerja keras bagi Tuhan.

Refleksi

Bagian firman mana yang sudah lama Anda ketahui ada, tetapi tidak pernah Anda biarkan membaca Anda?

Jika orang yang selama ini menopang iman Anda besok tidak ada lagi, apa yang tersisa dari ketaatan Anda?

Selami lebih dalam 2 Chronicles

Buku pilihan yang menggali kitab Alkitab ini lebih dalam.

Tafsiran Alkitab Masa Kini 1: Kejadian - Ester

Donald Guthrie & J. A. Motyer (ed.)

Bagian 2 Tawarikh dalam jilid ini memberi penjelasan pasal demi pasal yang ringkas namun setia pada Alkitab, menolong Anda melihat bagaimana sejarah raja-raja Yehuda mengarahkan hati kepada ibadah yang murni dan kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya.

Faith.network earns a small commission on Kobo purchases made through these links, at no extra cost to you. It helps keep the studies free.

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Chronicles 34

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 2 TAWARIKH 34?
Yosia naik takhta pada usia delapan tahun dan selama tiga puluh satu tahun memerintah di Yerusalem. Pada tahun kedelapan ia mulai mencari Allah; pada tahun kedua belas ia menghancurkan mazbah, patung Asyera, dan pilar matahari di seluruh negeri; pada tahun kedelapan belas, ketika uang perbaikan Bait Allah dikeluarkan, Imam Hilkia menemukan kitab Taurat.
Tentang apakah 2 TAWARIKH 34?
Perhatikan urutannya, karena di situ letak yang mengganggu sekaligus melegakan. Yosia sudah bertahun-tahun melakukan apa yang benar sebelum ia pernah mendengar kitab itu. Ia sudah menumbuk patung, membakar tulang, membersihkan negeri sampai ke Naftali. Lalu firman datang, dan yang terjadi bukan pujian melainkan pakaian yang terkoyak.
Apa konteks historis dari 2 TAWARIKH 34?
Ada sesuatu yang tak selesai dalam pasal ini, dan kita sebaiknya tidak buru-buru menutupnya. Reformasi Yosia adalah yang paling radikal dalam sejarah Yehuda, namun ayat 25 tetap berdiri: "Murka-Ku akan dicurahkan ke tempat ini dan itu tidak akan padam." Seorang raja yang baik, dengan hati yang benar, tidak sanggup membalikkan sejarah bangsanya.
Apa yang 2 TAWARIKH 34 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Ayat 33 menyimpan kalimat yang menusuk: "Di sepanjang hidup Yosia, mereka tidak berbalik." Sepanjang hidup Yosia. Bukan sepanjang hidup mereka sendiri. Bangsa itu taat selama ada orang kuat yang menahan mereka. Tanyakanlah dengan jujur: iman Anda hari ini bertopang pada siapa?
Bagaimana 2 TAWARIKH 34 masih relevan hari ini?
Kitab Tawarikh ditulis bagi orang-orang yang sudah mengalami malapetaka yang dinubuatkan Hulda. Mereka pulang dari pembuangan ke kota yang temboknya rapuh dan Baitnya kecil. Bagi mereka, kisah Yosia bukan nostalgia melainkan pertanyaan hidup-mati: apakah pertobatan masih ada gunanya kalau penghukuman tetap tiba?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 2 Chronicles 34

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 31

Yosia "berdiri di tempatnya" dan mengikat perjanjian lebih dulu, sebelum rakyatnya diminta ikut. Dia tidak berkhotbah tentang pertobatan dari jauh, dia melangkah duluan. Dan itu terjadi setelah kitab Taurat yang lama terlupakan itu dibacakan. Firman yang berdebu akhirnya didengar, lalu mengubah seorang raja. Apa yang sedang Tuhan katakan padamu, yang sudah lama kamu tahu tapi belum kamu lakukan?

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi