YEREMIA 31:31
Teksnya
Di tengah reruntuhan Yerusalem yang sebentar lagi terbakar, TUHAN mengumumkan sesuatu yang tidak diminta siapa pun: "Ketahuilah, hari-harinya akan datang," firman TUHAN, "ketika Aku akan membuat sebuah perjanjian baru dengan keluarga Israel dan keluarga Yehuda." Bukan perbaikan, bukan amandemen atas kesepakatan lama di Sinai, melainkan perjanjian yang baru. Dan perhatikan siapa yang menjadi subjek kalimatnya. Bukan umat yang berjanji memperbaiki diri, bukan raja yang memimpin reformasi, bukan sisa-sisa yang saleh yang mengumpulkan sisa kesetiaan. Allah sendirilah yang mengatakan "Aku akan membuat". Satu-satunya pihak yang tidak pernah melanggar justru pihak yang mengambil inisiatif untuk memulai lagi, dan Ia memulai dengan kedua keluarga yang sudah lama terpecah: Israel di utara yang sudah lenyap, dan Yehuda di selatan yang sedang lenyap.
Intinya
Inilah titik di mana anugerah berhenti menjadi kata manis dan menjadi logika yang mengganggu. Perjanjian lama rusak bukan karena isinya cacat, tetapi karena manusia melanggarnya, dan ayat berikutnya menyebut luka itu tanpa menutupinya: "perjanjian-Ku yang mereka langgar meskipun Aku adalah suami bagi mereka." Bahasa perkawinan yang dikhianati. Secara hukum, pihak yang dikhianati berhak pergi. Yang terjadi justru sebaliknya: Allah mengikat diri lagi, lebih dalam, lebih mahal. Di sinilah penghakiman dan keselamatan bertemu tanpa saling membatalkan. Pembuangan sungguh terjadi, dosa sungguh dihukum, tetapi hukuman bukan kata terakhir karena kesetiaan Allah tidak bergantung pada kesetiaan kita. Keselamatan, dalam ayat ini, bukan hasil pertobatan manusia; pertobatan adalah buah dari perjanjian yang Allah buat lebih dulu.
Benang Merah
Perjanjian baru ini tidak melayang di udara sampai ada seseorang yang sanggup menanggungnya dari dua sisi sekaligus: setia dari pihak Allah, dan setia dari pihak manusia. Itulah sebabnya pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus mengangkat cawan dan menyebut darah-Nya sebagai darah perjanjian yang baru. Ia tidak sedang mengutip ayat indah; Ia sedang mengatakan bahwa Yeremia 31 akhirnya punya alas. Perjanjian lama dimeteraikan dengan darah hewan di kaki Sinai; yang baru dimeteraikan dengan darah Anak. Dan perhatikan: janji ini diberikan kepada "keluarga Israel dan keluarga Yehuda", dua pecahan yang disatukan kembali. Gereja dari segala bangsa bukan pengganti janji itu, melainkan buah dari kemurahan Allah yang ternyata lebih luas daripada yang berani diharapkan Yeremia sendiri.
Cermin
Kita hidup seolah hubungan dengan Allah adalah kontrak kerja yang bisa diputus karena kinerja buruk. Karena itu ada doa yang tidak jadi kamu ucapkan setelah minggu yang berantakan; ada rasa malu yang membuatmu memilih duduk di belakang; ada pikiran diam-diam bahwa Allah sudah lelah dengan pola dosamu yang itu-itu lagi, yang sudah kamu akui puluhan kali. Ayat ini menolak logika itu. Allah yang paling berhak pergi justru yang mengatakan "Aku akan membuat". Tetapi anugerah ini juga menampar kesombongan halus, keyakinan bahwa kerohanianmu adalah proyek yang kamu bangun sendiri dengan disiplin yang rapi. Hari ini juga, tulis di selembar kertas satu dosa yang paling sering kamu ulangi, lalu di bawahnya salin kalimat ini: "Aku akan membuat sebuah perjanjian baru." Ucapkan keras-keras sekali.
Pertanyaannya
Jika Allah bisa membuat perjanjian yang tidak bisa dilanggar, mengapa Ia tidak melakukannya sejak awal? Mengapa harus ada Sinai yang gagal, raja-raja yang gagal, nabi-nabi yang diabaikan, dan akhirnya pembuangan dengan segala kekejamannya, sebelum kalimat ini diucapkan? Teks tidak menjawabnya. Yeremia tidak menjelaskan mengapa sejarah harus sepanjang dan sepahit itu. Yang bisa kita lihat hanyalah ini: tanpa kegagalan yang terbukti, perjanjian baru akan terdengar seperti tawaran kedua yang mungkin juga gagal. Israel harus tahu sampai ke tulang bahwa masalahnya bukan informasi yang kurang, melainkan hati yang bengkok. Itu jawaban yang tidak memuaskan sepenuhnya, dan sebaiknya kita jangan berpura-pura puas.
Konteks
Kita berada di tahun-tahun terakhir Yehuda, sekitar 587 SM, ketika tentara Babel mengepung Yerusalem dan Yeremia sendiri dikurung di pelataran penjara. Kerajaan utara, Israel, sudah lebih dari seratus tahun lenyap diserap Asyur. Bait Allah akan dibakar, raja akan dibutakan, elite akan digiring ke utara. Dalam dunia kuno, kekalahan semacam itu berarti dewamu kalah dan perjanjianmu batal. Nabi-nabi istana menjanjikan kelepasan cepat; Yeremia dibenci karena menolak dusta itu dan menyuruh orang tunduk pada Babel. Justru dari mulut nabi yang paling keras memberitakan keruntuhan itulah janji paling lembut dalam Perjanjian Lama keluar. Harapan ini tidak murah; ia diucapkan oleh orang yang sudah kehilangan hampir segalanya.
Detailnya
Kata "baru" di sini, chadashah, tidak berarti sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan masa lalu. Dalam bahasa Ibrani akar yang sama dipakai untuk bulan yang diperbarui dan untuk kota yang dibangun kembali: bukan benda lain, melainkan benda yang sama yang dipulihkan menjadi utuh. Namun ayat 32 menegaskan "tidak seperti perjanjian yang Aku buat dengan nenek moyang mereka", jadi ini bukan sekadar daur ulang. Isinya sama, Taurat yang sama, Allah yang sama, umat yang sama; letaknya yang berbeda. Dulu di loh batu, nanti di dalam batin. Yang berubah bukan tuntutan Allah, melainkan tempat tuntutan itu tinggal. Dan hanya Allah yang bisa menulis di sana.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu masih memperlakukan hubunganmu dengan Allah sebagai kontrak yang harus kamu pertahankan sendiri?
Jika Taurat ditulis di dalam hati, apa bedanya ketaatan yang lahir dari dalam dengan ketaatan yang kamu paksakan dari luar, dan yang mana yang paling kamu kenali minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jeremiah 31:31
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YEREMIA 31:31?
Tentang apakah YEREMIA 31:31?
Apa konteks historis dari YEREMIA 31:31?
Apa yang YEREMIA 31:31 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YEREMIA 31:31 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jeremiah 31
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Namun, setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap orang yang makan buah anggur yang asam, giginya sendiri akan menjadi ngilu." Tuhan sedang memutus rantai. Luka orang tuamu bukan vonis atas hidupmu. Tetapi ada sisi lain: kamu juga tidak bisa lagi bersembunyi di balik cerita mereka. Di hadapan Tuhan, kamu berdiri sendiri, dan justru di situ Dia menyambutmu secara pribadi.
Rahel menangisi anak-anak yang diseret ke pembuangan, dan Tuhan menjawab: "Tahanlah suaramu dari tangisan, dan matamu dari air mata, karena pekerjaanmu akan diberi upah." Perhatikan, air matamu disebut pekerjaan, bukan kelemahan. Bukan sesuatu yang harus kausembunyikan, melainkan sesuatu yang Tuhan catat dan balas. Apa yang sedang kautangisi hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi