Penjelasan Alkitab

2 KORINTUS 7:10

Alkitab

Teks

Paulus menarik satu garis tajam di antara dua jenis air mata. Ada kesedihan yang lahir karena Allah sendiri yang menyentuh hati, dan kesedihan semacam itu tidak berhenti pada rasa pedih; ia bergerak, menghasilkan pertobatan, dan pertobatan itu bermuara pada keselamatan, tanpa pernah membuat orang menoleh ke belakang dengan penyesalan. Namun ada juga kesedihan yang murni duniawi, kesedihan yang berputar di dalam dirinya sendiri, dan ujungnya bukan hidup melainkan kematian. "Sebab, kesedihan yang sesuai dengan kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang tidak disesali dan memimpin kepada keselamatan. Namun, kesedihan duniawi menghasilkan kematian." Satu kalimat, dua arah, dua akhir. Paulus tidak sedang menilai intensitas perasaan jemaat Korintus; ia sedang menunjukkan ke mana perasaan itu sedang berjalan.

Inti

Yang mengejutkan dari ayat ini adalah bahwa dukacita pun bisa menjadi pekerjaan anugerah. Kita terbiasa menempatkan anugerah di sisi penghiburan dan dukacita di sisi hukuman, seakan keduanya berlawanan. Paulus menolak pembagian itu. Kesedihan "sesuai dengan kehendak Allah" berarti kesedihan yang dibangkitkan Allah, diarahkan kepada Allah, dan diukur dengan ukuran Allah. Di situ dosa akhirnya kelihatan sebagai dosa, bukan sekadar kesalahan sosial yang memalukan. Dan justru karena Allah yang melakukannya, kesedihan itu tidak menghancurkan; ia membuka jalan. Kata Yunani metanoia, pertobatan, berarti pembalikan arah pikiran dan hidup, bukan sekadar rasa bersalah yang mendalam. Sebaliknya, kesedihan duniawi berputar pada harga diri yang retak, reputasi yang rusak, akibat yang tidak nyaman. Ia sibuk dengan diri sendiri, dan karena itu tidak pernah sampai kepada Allah. Ujungnya kematian, bukan sebagai ancaman tambahan, melainkan sebagai arah alamiah dari hidup yang tetap tertutup bagi pengampunan.

Benang Merah

Dua jenis kesedihan ini bukan penemuan Paulus; keduanya sudah berjalan sepanjang Perjanjian Lama. Daud yang hancur setelah Natan menegurnya tetap berpaling kepada Allah dan hidup. Saul berkali-kali mengaku salah, tetapi yang ia cemaskan adalah kehormatannya di depan rakyat, dan ia berakhir di gunung Gilboa. Pola yang sama muncul dalam panggilan para nabi: kembalilah, berbaliklah, dan Aku akan menyembuhkanmu. Perjanjian selalu memberi ruang untuk pulang. Yang baru dalam Kristus adalah bahwa jalan pulang itu tidak lagi bergantung pada kesungguhan air mata kita, melainkan pada salib yang sudah menanggung hukumannya. Karena itu pertobatan Kristen tidak perlu dibayar dengan penghancuran diri. Kesedihan menurut kehendak Allah selalu berjalan menuju Anak Domba yang sudah disembelih, dan di sanalah ia berhenti serta berubah menjadi sukacita.

Cermin

Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah menyesal, melainkan ke mana penyesalan itu membawa Anda. Ketika atasan menegur pekerjaan Anda di depan rekan-rekan, yang membakar dada biasanya bukan kesalahan itu sendiri, melainkan mata orang lain. Ketika pasangan menyebut satu kebiasaan yang melukainya, lebih mudah membela diri atau tenggelam dalam rasa gagal daripada benar-benar berubah. Kesedihan duniawi sangat produktif dalam hal perasaan dan sangat miskin dalam hal perubahan; ia membuat kita sibuk dengan citra diri sampai Allah tidak pernah masuk ke dalam percakapan. Sebutkan hari ini, dengan suara terdengar, satu hal yang Anda tahu salah di hadapan Allah, lalu akhiri kalimat itu dengan: "dan aku percaya Yesus sudah menanggungnya." Sepuluh menit cukup. Yang penting, ucapkan keduanya, bukan hanya yang pertama.

Konteks

Paulus menulis dari Makedonia, dengan tubuh yang menurut ayat 5 "tidak mendapat ketenangan" dan hati yang penuh "pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam". Hubungannya dengan Korintus sedang retak. Sebelumnya ia mengirim surat keras yang membuat jemaat itu sakit hati, dan ia sempat menyesalinya. Korintus adalah kota pelabuhan yang kaya, sibuk, gemar membandingkan pembicara dan menilai orang berdasarkan penampilan serta kefasihan. Di kota seperti itu, seorang rasul yang menegur dengan tajam gampang dianggap kasar dan kehilangan wibawa. Titus baru saja kembali membawa kabar bahwa teguran itu diterima. Ayat 10 lahir dari kelegaan itu: Paulus sedang menjelaskan mengapa ia tidak lagi menyesal telah melukai mereka, karena luka itu ternyata luka yang menyembuhkan.

Profil

Jemaat Korintus mendengar kalimat ini dengan telinga yang masih perih. Mereka baru saja dipermalukan oleh surat seorang rasul, dan dalam budaya kehormatan Mediterania, dipermalukan di depan komunitas adalah hal yang serius. Wajar jika sebagian dari mereka marah dan merasa dirugikan. Maka kalimat Paulus terdengar seperti penafsiran ulang atas pengalaman mereka sendiri: yang kalian rasakan bukan kekalahan, melainkan pekerjaan Allah. Dukacita kalian bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan tanda bahwa Roh sedang bekerja. Bagi mereka ini sekaligus menghibur dan menantang, sebab Paulus menolak menilai pertobatan dari banyaknya air mata. Ia menilai dari buahnya, dan ayat berikutnya menyebut buah itu satu per satu: kesungguhan, kerinduan, semangat.

Tokoh Utama

Yang paling menonjol di sini sebenarnya Allah, Allah yang menurut ayat 6 "menghibur orang yang putus asa". Dia bukan Allah yang menikmati rasa bersalah manusia. Dia melukai untuk menyembuhkan, dan Dia tahu persis batas luka yang dibutuhkan; perhatikan bahwa Paulus menekankan kesedihan itu hanya "sesaat". Ada kelembutan dalam cara Allah menegur: Dia tidak membiarkan umat-Nya berputar-putar dalam penyesalan yang tak berujung, melainkan menggiring mereka ke arah keselamatan. Sekaligus Dia tidak sentimental. Dia tidak menghibur dengan cara menutupi dosa, sebab penghiburan semacam itu akan membiarkan kita mati dengan nyaman. Allah yang kita jumpai dalam ayat ini adalah Allah yang cukup mengasihi untuk membuat kita sedih, dan cukup berkuasa untuk mengubah kesedihan itu menjadi hidup.

Refleksi

Kalau Anda jujur, penyesalan Anda yang terakhir lebih banyak berurusan dengan Allah atau dengan pandangan orang lain terhadap Anda?

Buah apa yang kelihatan, bukan perasaan apa yang Anda rasakan, sejak terakhir kali Anda mengaku dosa?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Corinthians 7:10

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti 2 KORINTUS 7:10?
Paulus menarik satu garis tajam di antara dua jenis air mata. Ada kesedihan yang lahir karena Allah sendiri yang menyentuh hati, dan kesedihan semacam itu tidak berhenti pada rasa pedih; ia bergerak, menghasilkan pertobatan, dan pertobatan itu bermuara pada keselamatan, tanpa pernah membuat orang menoleh ke belakang dengan penyesalan.
Tentang apakah 2 KORINTUS 7:10?
Yang mengejutkan dari ayat ini adalah bahwa dukacita pun bisa menjadi pekerjaan anugerah. Kita terbiasa menempatkan anugerah di sisi penghiburan dan dukacita di sisi hukuman, seakan keduanya berlawanan. Paulus menolak pembagian itu. Kesedihan "sesuai dengan kehendak Allah" berarti kesedihan yang dibangkitkan Allah, diarahkan kepada Allah, dan diukur dengan ukuran Allah.
Apa konteks historis dari 2 KORINTUS 7:10?
Dua jenis kesedihan ini bukan penemuan Paulus; keduanya sudah berjalan sepanjang Perjanjian Lama. Daud yang hancur setelah Natan menegurnya tetap berpaling kepada Allah dan hidup. Saul berkali-kali mengaku salah, tetapi yang ia cemaskan adalah kehormatannya di depan rakyat, dan ia berakhir di gunung Gilboa.
Apa yang 2 KORINTUS 7:10 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Pertanyaannya bukan apakah Anda pernah menyesal, melainkan ke mana penyesalan itu membawa Anda. Ketika atasan menegur pekerjaan Anda di depan rekan-rekan, yang membakar dada biasanya bukan kesalahan itu sendiri, melainkan mata orang lain. Ketika pasangan menyebut satu kebiasaan yang melukainya, lebih mudah membela diri atau tenggelam dalam rasa gagal daripada benar-benar berubah.
Bagaimana 2 KORINTUS 7:10 masih relevan hari ini?
Paulus menulis dari Makedonia, dengan tubuh yang menurut ayat 5 "tidak mendapat ketenangan" dan hati yang penuh "pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam". Hubungannya dengan Korintus sedang retak. Sebelumnya ia mengirim surat keras yang membuat jemaat itu sakit hati, dan ia sempat menyesalinya.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang 2 Corinthians 7

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Syukur Editorial pada ayat 8

Terima kasih untuk teguran yang menyakitkan tapi menyembuhkan. Paulus menulis surat yang membuat jemaat sedih "walaupun hanya sementara", dan Engkau memakainya untuk kebaikan. Terima kasih untuk orang orang yang cukup mengasihiku sampai berani menegurku, dan untuk dukacita yang Kaubatasi waktunya.

Wawasan Editorial pada ayat 4

Paulus tidak sedang menulis dari tempat yang aman dan tenang. Ia tertekan, namun berkata, "Aku dipenuhi penghiburan; aku melimpah dengan sukacita dalam semua penderitaan kami." Sukacitanya muncul bukan karena kesulitan berakhir, melainkan karena kabar bahwa jemaat yang ia kasihi berbalik kepada Tuhan. Adakah orang yang pertobatannya membuat hatimu selega itu?

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi