2 RAJA-RAJA 2:23
Teks
Elisa meninggalkan Yerikho, kota yang airnya baru saja disehatkan, dan mendaki jalan menanjak menuju Betel. Di tengah pendakian itu serombongan anak laki-laki keluar dari kota dan mulai meneriakinya: "Naiklah botak, naiklah botak!" Sebuah ejekan yang diulang-ulang, dilemparkan ke punggung seorang nabi yang sedang berjalan sendirian.
Perhatikan gerak tubuh dalam kalimat itu. Elisa mendaki; mereka turun keluar dari kota, mendatanginya, mengerumuni. Ia sedang naik ke arah Betel, dan mereka berteriak "naiklah" seakan mengusir. Bukan sekadar celetukan seorang anak nakal yang kelepasan di pinggir jalan, melainkan kerumunan, suara yang menyatu, ritme yang berulang. Satu ayat, dan Anda sudah bisa mendengar bunyinya memantul di lereng batu kapur itu.
Inti
Ejekan itu bukan soal rambut. Kata "naiklah" jatuh persis di telinga pembaca yang baru saja membaca bagaimana Elia terangkat dalam angin badai ke surga. Anak-anak itu, atau setidaknya kota yang membentuk mulut mereka, sedang menertawakan peristiwa terbesar yang baru terjadi di Israel: pergilah, menyusul gurumu, hilanglah seperti dia. Dan "botak" kemungkinan besar menyinggung tanda kenabian, penampilan seorang yang hidupnya ditandai untuk Tuhan, bukan sekadar cacat fisik.
Di sinilah inti teologisnya: firman Tuhan selalu datang dalam bungkus yang bisa diolok-olok. Seorang laki-laki berdebu, mendaki jalan, tanpa kawalan, tanpa wibawa kelembagaan. Menghina utusan berarti menghina Yang mengutus. Israel tidak menolak Allah lewat argumen; Israel menolak-Nya lewat tawa.
Benang Merah
Ada satu pola yang berjalan lurus dari lereng ini sampai ke Golgota: utusan Allah yang didorong ke atas oleh suara-suara yang ingin ia lenyap. "Naiklah botak, naiklah botak" adalah kalimat yang bentuknya sama persis dengan kalimat yang kelak diteriakkan di bawah salib, "turunlah dari salib itu" (Matius 27:40). Keduanya memakai kata kerja gerak sebagai senjata: pergilah, hilanglah, buktikan, atau diamlah selamanya. Dunia jarang menyanggah Allah dengan argumentasi yang serius; dunia lebih sering menyingkirkan-Nya dengan sorakan.
Dan justru di titik itu Injil bergerak. Yang diolok di Betel mengutuk, dan empat puluh dua orang mati. Yang diolok di Golgota berdoa, "Ya Bapa, ampunilah mereka." Bukan karena keadilan berubah, melainkan karena kutuk itu akhirnya jatuh ke atas Dia sendiri. Elisa memperlihatkan betapa berbahayanya menertawakan Allah; Kristus memperlihatkan sejauh mana Allah bersedia ditertawakan untuk menyelamatkan para penertawa.
Cermin
Ejekan bekerja lebih dalam daripada ancaman. Ancaman membuat Anda waspada; ejekan membuat Anda malu. Karena itu banyak orang sanggup bertahan di bawah tekanan, tetapi runtuh oleh satu tawa di ruang rapat, satu komentar setengah bercanda dari saudara ipar di meja makan, satu kalimat anak remaja Anda yang berkata "Ayah masih percaya hal-hal begitu?" Anda tidak kehilangan iman; Anda hanya mulai mengecilkan volumenya. Anda berhenti berdoa sebelum makan kalau ada tamu. Anda menyebut ibadah sebagai "acara keluarga" supaya terdengar wajar.
Tetapi cermin ini punya dua sisi. Sebelum Anda merasa menjadi Elisa di jalan menanjak itu, tanyakan: kapan terakhir kali Anda ikut dalam kerumunan yang menertawakan seseorang yang terlalu serius dengan Tuhan? Orang yang doanya terlalu panjang, yang kesalehannya terasa kuno, yang mudah dijadikan bahan lelucon di grup obrolan.
Hari ini: tuliskan di secarik kertas nama satu orang yang imannya pernah Anda jadikan bahan candaan, lalu sebut namanya dalam doa dengan suara keras sebelum kertas itu Anda buang.
Konteks
Betel bukan kota netral. Di sanalah Yerobeam mendirikan anak lembu emas supaya orang Israel tidak perlu lagi naik ke Yerusalem. Selama berabad-abad Betel menjadi pusat ibadah tandingan, "rumah Allah" yang namanya benar tetapi isinya salah. Elisa sedang mendaki ke jantung penyimpangan itu, sendirian, beberapa hari setelah gurunya lenyap.
Perhatikan juga geografinya. Ia baru saja meninggalkan Yerikho, kota yang mata airnya ia sehatkan sehingga tidak ada lagi "kematian atau ketidaksuburan dari sana". Di Yerikho ia disambut dan disujudi; di jalan menuju Betel ia diteriaki. Dalam dunia itu, mengejek seorang nabi di jalan umum bukan kenakalan pribadi melainkan pernyataan sikap sebuah kota. Anak-anak mengulang apa yang mereka dengar di rumah. Suara mereka adalah suara Betel.
Pertanyaan
Kita tidak bisa membaca ayat 23 tanpa merasakan bayangan ayat 24. Empat puluh dua anak dicabik beruang. Setiap orang tua yang membaca ini merasakan perutnya mengencang, dan itu wajar.
Teks tidak menolong kita dengan penjelasan. Tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan "sebab kejahatan mereka besar" atau "sebab mereka sudah dewasa". Narator hanya melaporkan dan berjalan terus, dan keheningan itu sendiri terasa dingin. Yang bisa kita katakan: dalam perjanjian Israel, binatang buas yang keluar dari hutan adalah tanda kutuk yang sudah lama diumumkan, bukan kemarahan spontan seorang nabi yang tersinggung. Kota yang menertawakan firman sedang memanen apa yang telah lama ditaburnya.
Tetapi itu tidak membuat ceritanya nyaman, dan sebaiknya jangan kita paksa menjadi nyaman. Alkitab sesekali membiarkan kita berdiri di depan kekudusan Allah tanpa pegangan, dengan rasa ngeri yang jujur.
Tokoh Utama
Bayangkan Elisa di jalan itu. Beberapa hari sebelumnya ia menyaksikan gurunya terangkat dan berteriak "Bapakku! Bapakku!" lalu mengoyakkan pakaiannya menjadi dua. Ia baru saja menjadi yatim rohani. Ia memungut jubah yang jatuh, memukulkannya ke air, dan bertanya dengan suara yang mungkin bergetar: "Di manakah TUHAN, Allah, Elia?"
Orang inilah yang mendaki ke Betel. Bukan nabi yang mapan dengan wibawa puluhan tahun, melainkan seorang pewaris baru yang masih menguji apakah jubah di bahunya sungguh berarti sesuatu. Dan yang pertama menyambutnya di jalan bukan penghormatan, melainkan sebutan "botak" dan perintah untuk menghilang.
Ia berpaling ke belakang. Ia melihat mereka. Ia tidak mempercepat langkah, tidak pula membela diri dengan kata-kata. Yang ia lakukan justru mengembalikan perkara itu kepada Tuhan, dalam nama-Nya. Panggilan kenabian, kita belajar di sini, bukan jaminan dihormati. Ia hanya jaminan bahwa yang Anda bawa bukan milik Anda sendiri.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda tawa orang lain lebih menentukan apa yang Anda katakan tentang Tuhan daripada keyakinan Anda sendiri?
Elisa membawa perkaranya kepada Tuhan alih-alih membalas sendiri. Perkara mana yang selama ini Anda simpan untuk Anda balas sendiri suatu hari nanti?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Kings 2:23
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 RAJA-RAJA 2:23?
Tentang apakah 2 RAJA-RAJA 2:23?
Apa konteks historis dari 2 RAJA-RAJA 2:23?
Apa yang 2 RAJA-RAJA 2:23 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 RAJA-RAJA 2:23 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Kings 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, kadang aku seperti mereka yang terus mencari, padahal Engkau sudah berbicara dengan jelas. Ajar aku untuk percaya pada firman-Mu tanpa harus memaksa hasil yang lain. Tenangkan hatiku yang gelisah, dan tolong aku beristirahat dalam kehendak-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi