2 TESALONIKA 3
Teks
Paulus menutup suratnya dengan permintaan doa: supaya firman Tuhan "dapat tersebar dengan cepat dan dimuliakan," dan supaya ia sendiri lepas dari "orang-orang yang kejam dan jahat." Lalu nada berubah tajam. Ada orang di jemaat Tesalonika yang berhenti bekerja dan hidup dari meja orang lain, dan Paulus memberi perintah keras: jauhkan diri dari mereka, ikuti contohnya sendiri yang bekerja siang dan malam, dan ingat kalimat yang pernah ia ucapkan langsung, "Jika orang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Tandai yang membangkang supaya ia malu, tetapi jangan perlakukan dia sebagai musuh. Surat berakhir dengan salam tangan sendiri dan doa anugerah.
Inti
Dua kalimat di pasal ini berdiri berdampingan dan sebaiknya jangan dipisahkan. Yang pertama: "Tuhan itu setia. Ia akan menguatkan dan melindungi kamu dari yang jahat." Yang kedua: "Jika orang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Kesetiaan Allah tidak melayang di atas dapur dan pekerjaan; justru di situ ia membentuk sesuatu. Anugerah bukan izin untuk melepaskan tanggung jawab atas roti sendiri. Paulus mendoakan agar Tuhan "mengarahkan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus," dan ketabahan itu ternyata berwujud sangat biasa: bangun, bekerja, tidak membebani orang lain, tidak lelah berbuat baik. Kekudusan di sini tidak berkilau. Ia berbau keringat.
Benang Merah
Jemaat ini bermasalah karena salah membaca akhir zaman. Di pasal sebelumnya Paulus baru saja meredakan kegaduhan tentang hari Tuhan yang katanya sudah datang. Sebagian orang menarik kesimpulan logis: kalau Kristus segera datang, mengapa masih menanam, menenun, menagih upah? Justru di titik itu Paulus menyebut "ketabahan Kristus." Kristus yang menunggu sampai waktunya penuh, yang taat dalam pekerjaan tukang selama puluhan tahun tanpa mukjizat, yang menanggung sampai selesai. Pengharapan Kristen tidak menguapkan hidup sehari-hari, ia mengembalikan kita ke dalamnya. Sejak Kejadian, manusia diberi tanah untuk dikerjakan; penebusan tidak menghapus panggilan itu, ia memulihkannya. Menunggu Tuhan yang datang berarti setia di tempat kecil sampai Ia tiba.
Cermin
Barangkali kamu bukan pemalas. Kamu justru sibuk. Tetapi lihat lagi kalimat ayat 11: ada yang "tidak mau bekerja, tetapi sibuk dengan hal-hal yang tak berguna." Ada bentuk kesibukan yang tidak menghasilkan apa pun kecuali kegelisahan: mengomentari hidup orang lain di grup, memperdebatkan nubuat sampai lewat tengah malam, membangun opini rohani tentang segala hal sambil pekerjaan nyata di rumah dan kantor tertinggal. Rohani yang tidak menanggung biaya apa pun.
Dan ada sisi lain dari cermin ini. Ayat 13 ditujukan kepada mereka yang tetap datang, tetap membayar, tetap memasak: "janganlah lelah berbuat baik." Mungkin kamu sudah lelah. Kamu tahu siapa yang selalu menerima dan tidak pernah membawa. Paulus tidak menyuruhmu memaklumi itu, tetapi ia juga tidak memberi izin untuk mengeras.
Konteks
Tesalonika adalah kota pelabuhan Makedonia, ramai, penuh pekerja upahan dan pengrajin. Paulus hanya beberapa minggu di sana sebelum diusir, lalu menulis dari kejauhan sementara tekanan terhadap jemaat berlanjut; "orang-orang yang kejam dan jahat" bukan kiasan retoris baginya. Di dunia itu, guru keliling biasanya hidup dari patron kaya, dan kerja tangan dipandang rendah oleh kalangan atas. Paulus sengaja melanggar kebiasaan itu: ia bekerja "siang dan malam" agar tidak menjadi beban, walaupun ia berhak ditopang. Jemaat berkumpul di rumah-rumah, makan bersama, saling menopang dari kantong yang tipis. Dalam komunitas sekecil itu, beberapa orang yang menolak bekerja bukan soal sepele; itu menguras dan meracuni.
Detail
Dalam bahasa Yunani ayat 11 ada permainan kata yang hilang dalam terjemahan. Paulus memakai kata ergazomai, "bekerja", lalu langsung menambahkan bentuk turunannya, periergazomai, yang secara harfiah berarti "bekerja di sekeliling", yaitu sibuk mengurus perkara yang bukan urusannya. Mereka tidak bekerja, tetapi mereka bekerja berlebihan pada hal yang salah. Dan lawannya, di ayat 12, adalah "bekerja dengan tenang." Kata itu menunjuk ketenangan, hidup yang tidak berisik. Jadi obat bagi kegelisahan rohani bukan kegiatan rohani yang lebih hebat, melainkan pekerjaan biasa yang dikerjakan tanpa gaduh, dan roti yang dimakan tanpa rasa berutang. Ada kelegaan besar tersembunyi di dalam perintah yang kedengarannya keras itu.
Pertanyaan
Kalimat "jika orang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" sudah terlalu sering dipakai untuk membenarkan kekerasan hati terhadap orang miskin. Perhatikan: Paulus menulis tentang mereka yang tidak mau, bukan yang tidak bisa. Tetapi kejujurannya menuntut pengakuan bahwa garis itu sering tidak jelas. Bagaimana kamu tahu apakah yang di depanmu adalah kemalasan atau depresi, keengganan atau keputusasaan? Paulus tidak memberi prosedur. Ia justru membiarkan ketegangan berdiri: jauhi dia, tandai dia, biarkan dia malu, "namun, jangan perlakukan dia sebagai musuh, tetapi tegurlah sebagai seorang saudara." Jarak yang tidak memutus hubungan. Itu hampir tidak mungkin dijalankan dengan bersih, dan mungkin memang harus begitu; setiap jalan keluar yang mudah, entah dengan mengusir atau dengan diam saja, mengkhianati salah satu setengah dari perintah ini.
Refleksi
Kesibukan mana dalam hidupmu yang sebenarnya "hal-hal yang tak berguna", dan pekerjaan nyata apa yang kamu hindari dengan cara itu?
Siapa orang yang membuatmu lelah berbuat baik, dan apa yang harus terjadi agar kamu bisa menegur dia sebagai saudara, bukan sebagai musuh?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 2 Thessalonians 3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 2 TESALONIKA 3?
Tentang apakah 2 TESALONIKA 3?
Apa konteks historis dari 2 TESALONIKA 3?
Apa yang 2 TESALONIKA 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 2 TESALONIKA 3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 2 Thessalonians 3
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Paulus punya hak untuk dinafkahi jemaat, tapi ia memilih menjahit tenda sampai larut: "kami bekerja keras siang dan malam supaya kami tidak menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu." Kasih ternyata bukan hanya soal memberi khotbah, tapi soal tidak membebani orang lain. Adakah beban yang diam diam kamu titipkan pada sesamamu, padahal kamu sendiri mampu memikulnya?
Menjauhkan dirimu dari setiap saudara yang hidup tidak tertib" terdengar keras, sampai kamu sadar Paulus tetap menyebut orang itu saudara. Ia tidak dicoret dari keluarga, ia sedang dirindukan pulang. Kadang kasih yang paling jujur bukan membiarkan, melainkan berani menciptakan jarak supaya seseorang tersadar. Siapa yang sedang kamu biarkan terus jatuh demi menjaga rasa nyaman?
Paulus, rasul yang menanam jemaat di banyak kota, justru berkata: "Akhirnya, Saudara-saudara, berdoalah untuk kami." Dia tidak minta perlindungan atau kemudahan, melainkan supaya firman Tuhan "dapat tersebar dengan cepat dan dimuliakan." Dan tolok ukurnya menarik: seperti yang sudah terjadi di antara kamu. Imanmu yang biasa itu ternyata jadi bukti yang menguatkan hati seorang rasul. Sudahkah kamu mendoakan mereka yang memberitakan firman kepadamu?
Jika seseorang tidak mau bekerja, jangan biarkan dia makan." Perhatikan kata-katanya: tidak mau, bukan tidak bisa. Paulus tidak sedang menghakimi orang yang lemah atau kehilangan pekerjaan. Ia menegur mereka yang menunggu Tuhan datang sambil melipat tangan. Menanti Kristus bukan alasan berhenti hidup bertanggung jawab hari ini.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
