3 YOHANES 1
Teks
Seorang tua-tua menulis surat pendek kepada seorang sahabat bernama Gayus. Ia bersukacita karena mendengar laporan bahwa Gayus "hidup dalam kebenaran," dan memuji dia karena menampung para pengkhotbah keliling yang datang sebagai orang asing tanpa dukungan dana. Lalu nada surat berubah tajam: ada Diotrefes, yang "suka menonjolkan diri," menolak sang penatua, menyebarkan kata-kata jahat, dan mengucilkan siapa pun yang membuka pintu bagi para saudara itu. Surat ditutup dengan pujian bagi Demetrius dan janji: aku akan datang, kita bicara bertatap muka.
Inti
Yang mengejutkan dari surat ini adalah betapa kecil ukurannya. Tidak ada perdebatan doktrin besar, tidak ada uraian tentang pembenaran. Yang ada hanya: apakah kamu membuka pintu rumahmu atau tidak. Dan justru di situ Yohanes meletakkan garis pemisah antara "berasal dari Allah" dan "belum melihat Allah" (ayat 11). Kebenaran, dalam surat ini, bukan sesuatu yang kita miliki di kepala, melainkan sesuatu yang kita jalani dengan kaki: berjalan dalam kebenaran. Dan tanda paling jelas dari berjalan itu bukan kefasihan berbicara, melainkan kesediaan menanggung biaya orang lain. Allah dikenali dari kemurahan hati; ketiadaan kemurahan hati, betapa pun rapi teologinya, adalah tanda bahwa Allah belum benar-benar dilihat.
Benang Merah
Sepanjang Kitab Suci, umat Allah selalu diukur dari cara mereka memperlakukan orang asing. Israel diperintahkan mengingat bahwa mereka sendiri pernah menjadi pendatang di Mesir. Kristus datang sebagai Dia yang tidak diterima di rumah-Nya sendiri, lalu berkata bahwa menerima seorang murid berarti menerima Dia. Ayat 7 memakai satu frasa kecil yang membawa seluruh beban itu: mereka pergi "demi Nama itu." Nama Yesus tidak disebut, karena tidak perlu disebut. Para pengkhotbah itu berjalan tanpa jaring keamanan, bergantung pada keramahan sesama percaya, dan siapa yang menerima mereka menjadi "rekan pelayanan bagi kebenaran" (ayat 8). Di sinilah Injil bergerak: bukan lewat struktur besar, tetapi lewat meja makan dan kamar tamu.
Cermin
Ada dua nama di surat ini, dan kita cenderung yakin kita adalah Gayus. Tetapi Diotrefes tidak digambarkan sebagai bidat; ia digambarkan sebagai orang yang "suka menonjolkan diri." Itu bisa berarti: orang yang tidak tahan kalau bukan dirinya yang dimintai pendapat dalam rapat majelis. Orang yang membantu, tetapi hanya jika terlihat. Orang yang menutup pintu bagi seorang pelayan Tuhan bukan karena ajarannya salah, melainkan karena kehadirannya mengurangi ruang bagi pengaruhnya sendiri. Tanyakan pada dirimu dengan jujur: kapan terakhir kali kamu menyingkirkan seseorang, dengan kata-kata halus atau dengan diam, karena orang itu terlalu berbakat, terlalu dikagumi, terlalu mengancam posisimu? Dan perhatikan ayat 5: Gayus menolong orang-orang yang "meskipun mereka orang asing." Kemurahan hati yang hanya mengalir kepada mereka yang kita kenal dan yang bisa membalas bukanlah kemurahan hati; itu investasi.
Kaitan dengan Bagian Lain
Ayat 11 hampir mengulang bahasa 1 Yohanes: siapa yang mengasihi lahir dari Allah, siapa yang tidak mengasihi tidak mengenal Allah. Yohanes tidak sedang berlebihan; ia sedang menerapkan ukurannya sendiri pada kasus konkret berupa satu jemaat, satu penolakan, satu pintu yang dikunci. Lalu ingatlah Yakobus 2, di mana iman tanpa perbuatan disebut mati, dan contohnya justru sama: seseorang yang dibiarkan pergi tanpa makanan dan pakaian, ditemani berkat yang manis. Kedua penulis ini tidak sedang meremehkan iman; mereka sedang menolak iman yang tidak pernah menyentuh dompet, jadwal, atau ruang tamu.
Tokoh Utama
Sang penatua yang menulis surat ini adalah orang tua yang tidak lagi punya banyak kekuasaan formal. Suratnya kepada jemaat diabaikan; ia difitnah; ia harus menunggu sampai bisa datang sendiri. Yang menarik adalah reaksinya. Ia tidak membangun koalisi, tidak menyerang balik dengan tuduhan sepadan; ia menulis kepada satu orang setia dan menguatkannya. Sukacita terbesarnya, katanya, adalah mendengar anak-anaknya berjalan dalam kebenaran (ayat 4). Itu adalah sukacita seorang yang telah melepaskan kebutuhan untuk menjadi pusat. Dan ia rindu bertemu muka dengan muka, bukan berdebat lewat pena dan tinta. Ada kebijaksanaan tua di situ: konflik gereja jarang selesai lewat tulisan; ia selesai ketika orang duduk berhadapan.
Konteks
Kita berada di akhir abad pertama, di lingkungan jemaat-jemaat kecil di Asia Kecil, kemungkinan sekitar Efesus. Belum ada gedung gereja; jemaat berkumpul di rumah, dan pemilik rumah punya kuasa nyata. Para pemberita Injil bepergian dari kota ke kota, menolak dukungan dari orang luar supaya Injil tidak terlihat seperti dagangan, sehingga hidup mereka sepenuhnya bergantung pada keramahan sesama percaya. Menolak menerima mereka bukan soal sopan santun; itu memutus jalur peredaran darah gereja. Dalam dunia seperti itu, "mengucilkan dari jemaat" berarti mencabut seseorang dari satu-satunya jaringan sosial dan rohani yang dimilikinya. Diotrefes bukan tokoh sepele. Ia memegang kunci pintu, dan ia tahu itu.
Refleksi
Siapa "orang asing" yang saat ini berada dalam jangkauanmu, dan apa alasan paling masuk akal yang kamu pakai untuk tidak menolongnya?
Di ruang mana dalam hidupmu, di gereja, di pekerjaan, di keluarga, kamu paling sulit menerima bahwa orang lain lebih dihormati daripada kamu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang 3 John 1
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti 3 YOHANES 1?
Tentang apakah 3 YOHANES 1?
Apa konteks historis dari 3 YOHANES 1?
Apa yang 3 YOHANES 1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana 3 YOHANES 1 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang 3 John 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ajari aku setia dalam hal hal kecil yang tidak terlihat. Buka hatiku bukan hanya untuk mereka yang kukenal, tetapi juga untuk orang asing yang Kau kirim melewati hidupku. Biar tanganku terbuka, bukan menggenggam.
Yang paling menyakitkan dari Diotrefes bukan hanya ia menolak menerima saudara seiman, tetapi ia "bahkan menghalangi mereka yang ingin melakukannya". Ada orang yang hatinya mau membuka pintu, dan ia menutupnya untuk mereka.
Kadang kita bukan yang menolak, tapi yang membuat orang lain sungkan berbuat baik. Sikapmu, komentarmu, bisa memadamkan kemurahan orang lain. Pikirkan itu hari ini.
Terima kasih untuk saudara-saudara yang bersaksi tentang kasih di hadapan jemaat, dan untuk setiap tangan yang membekali para pelayan-Mu melanjutkan perjalanan dengan cara yang layak bagi Allah. Terima kasih karena tumpangan, makanan, dan bekal kecil pun Engkau pakai untuk pekerjaan Injil.
Aku masih mempunyai banyak hal untuk dituliskan kepadamu, tetapi aku tidak mau menuliskannya kepadamu dengan tinta dan pena." Yohanes punya banyak isi hati, tapi ia menahannya. Bukan karena tak penting, justru karena terlalu penting untuk dititipkan pada tinta. Ada hal yang hanya bisa disampaikan sambil menatap wajah orangnya. Siapa yang sebenarnya perlu kamu temui, bukan sekadar kamu kirimi pesan?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
