ULANGAN 14:26
Teks Itu Sendiri
Musa sedang mengatur apa yang harus dilakukan seorang petani Israel yang tinggal terlalu jauh dari tempat ibadah pusat untuk mengangkut sepersepuluh hasil panennya dalam bentuk gandum, minyak, dan ternak. Jawabannya: jual saja hasil itu, bawa uangnya. Lalu datang kalimat yang mengejutkan: belanjakan uang itu sesuai dengan kehendak hatimu, sapi, domba, anggur, minuman keras, atau apa pun yang diingini hatimu, lalu makanlah dan bersukacitalah di hadapan Tuhan, kamu dan seisi rumahmu.
Sepersepuluh dari penghasilan setahun, dibawa ke rumah Allah, dan sebagian besar dari itu dimakan sendiri, dalam sebuah pesta. Bukan disetorkan ke kas. Dimakan. Dengan sukacita. Di hadapan Tuhan.
Inti
Kita cenderung membaca hukum Taurat sebagai daftar pembatasan, dan pasal ini memang penuh pembatasan: babi jangan, bangkai jangan, kelelawar jangan. Lalu tiba-tiba, di ayat 26, Allah membuka tangan-Nya dan berkata: belilah apa pun yang diingini hatimu. Inilah inti yang sering luput: kekudusan dalam Ulangan bukan hanya soal apa yang ditolak, tetapi soal apa yang dinikmati dan di hadapan siapa.
Allah tidak sedang menguji apakah Israel sanggup hidup hemat. Ia sedang membentuk umat yang tahu bahwa segala sesuatu berasal dari Dia, dan karena itu bisa makan tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa berhak. Persembahan sepersepuluh ini bukan pajak untuk menyenangkan Allah yang kekurangan; itu latihan tahunan dalam sukacita yang sadar sumbernya.
Benang Merah
Ada garis lurus dari pesta persepuluhan ini ke meja Yesus. Orang-orang menuduh Dia sebagai pemakan dan peminum, dan tuduhan itu tidak sepenuhnya salah alamat: Yesus memang datang makan dan minum, di rumah pemungut cukai, di pesta pernikahan, di pantai dengan ikan bakar. Ia bergerak dalam tradisi yang justru diperintahkan di Ulangan 14, di mana ibadah berbentuk perjamuan.
Dan garis itu tidak berhenti di sana. "Tempat yang telah dipilih-Nya untuk menegakkan nama-Nya" akhirnya bukan sebuah kota, melainkan seorang Pribadi. Meja Perjamuan Tuhan adalah kelanjutan langsung dari pesta ini: makanan sederhana, dimakan di hadapan Allah, sebagai tanda bahwa Ia memberi dan kita menerima. Sukacita yang bertubuh, bukan sukacita yang melayang.
Cermin
Tanyakan pada diri sendiri: mana yang lebih sulit bagi Anda, memberi sepersepuluh atau merayakan tanpa rasa bersalah? Banyak dari kita lebih mahir menyangkal diri daripada bersukacita. Kita memberi karena takut tidak diberkati, lalu makan dengan setengah hati karena merasa seharusnya uang itu dipakai untuk hal yang lebih rohani.
Ayat ini melumpuhkan dua hal sekaligus. Ia melumpuhkan kekikiran, karena sepersepuluh itu tetap harus keluar dari tangan Anda. Tetapi ia juga melumpuhkan kesalehan yang murung, yang tidak pernah berani memesan makanan yang enak, tidak pernah mengambil libur, selalu mencurigai kenikmatan. Allah menyuruh Anda membeli daging dan anggur. Dengan uang persembahan. Dan Ia menyebut itu ibadah.
Konteks
Israel berdiri di dataran Moab, di ambang tanah yang belum mereka miliki. Musa berbicara kepada generasi yang akan menjadi petani, bukan lagi pengembara yang menerima manna setiap pagi. Mereka akan menanam, memanen, menghitung untung, dan menghadapi godaan yang khas orang bertanah: lupa siapa yang memberi hujan.
Di sekeliling mereka, agama Kanaan juga punya pesta panen, penuh dengan ritual kesuburan dan mabuk yang dilepaskan dari segala tanggung jawab moral. Ulangan tidak menjawab dengan melarang pesta, melainkan dengan memindahkan pesta itu ke hadapan Tuhan. Perhatikan juga struktur sosialnya: perjalanan jauh, uang tunai, pasar di kota ibadah. Ini masyarakat agraris yang sedang belajar bahwa ekonomi dan ibadah tidak berada di dua ruang terpisah.
Detail
Frasa "apa pun yang diingini hatimu" dalam bahasa Ibrani memakai kata ta'awah, keinginan atau hasrat. Kata yang sama muncul di padang gurun ketika bangsa itu mengidamkan daging dan Allah menghukum mereka; tempat itu bahkan dinamai menurut hasrat mereka. Kata yang sama juga dipakai dalam perintah kesepuluh tentang mengingini milik orang lain.
Jadi ini bukan kata netral. Ini kata yang punya sejarah luka. Dan justru kata inilah yang dipakai Musa di sini, secara positif, dengan izin penuh. Perbedaannya bukan pada intensitas hasrat, melainkan pada arahnya dan tempatnya: hasrat yang dipuaskan di hadapan Tuhan, dari pemberian Tuhan, bersama seisi rumah, adalah hasrat yang sembuh. Hasrat yang sama, dipuaskan diam-diam dan sendirian, meracuni.
Sang Tokoh Utama
Yang paling menarik dari ayat ini bukan si petani, melainkan Allah yang menulis peraturan ini. Allah yang baru saja bicara panjang tentang kelelawar dan burung nasar, yang tampak sangat teliti soal kuku terbelah dan sisik ikan, ternyata di sini berkata: pilih sendiri, ambil yang kamu suka.
Ini bukan Allah yang tidak konsisten. Ini Allah yang membedakan antara hal yang Ia tentukan dan hal yang Ia serahkan. Ada wilayah di mana Ia berkata tegas; ada wilayah di mana Ia justru senang melihat umat-Nya memilih. Ia bukan pengawas yang berdiri di belakang bahu Anda menghitung pengeluaran. Ia tuan rumah yang ingin melihat meja penuh, dan yang segera setelah itu, di ayat 27, mengingatkan agar orang Lewi jangan dilupakan. Kemurahan dan keadilan keluar dari mulut yang sama.
Gema Kitab Lain
Ketika Nehemia dan para Lewi membaca hukum Taurat di depan bangsa yang menangis, mereka justru menyuruh umat pulang, makan yang enak, minum yang manis, dan mengirim bagian kepada mereka yang tidak punya, sebab sukacita karena Tuhan adalah kekuatan mereka. Itu persis logika Ulangan 14: pesta plus perhatian kepada yang kekurangan.
Kontrasnya terdengar di Amos, yang mengecam orang-orang yang berbaring di tempat tidur dari gading, makan anak domba pilihan, dan minum anggur dari cangkir besar sementara Yusuf hancur. Bahan pestanya hampir identik dengan Ulangan 14. Yang hilang hanya dua hal: "di hadapan Tuhan" dan orang Lewi, janda, serta yatim piatu di ayat 29. Kenikmatan yang sama bisa menjadi ibadah atau menjadi kejahatan, tergantung siapa yang duduk di meja itu.
Profil Pendengar Pertama
Bayangkan Anda petani kecil dari perbukitan Efraim. Panen tahun ini pas-pasan. Sepersepuluh dari hasil itu terasa berat. Lalu Anda mendengar bahwa sepersepuluh itu bukan hilang, tetapi akan Anda makan sendiri bersama keluarga, di kota ibadah, dengan anggur di meja.
Bagi pendengar pertama, ini bukan pertama-tama pelajaran tentang keseimbangan hidup. Ini jaminan. Allah yang menuntut memberi lebih dahulu, dan tuntutan-Nya berujung pada pesta, bukan pada kelaparan. Mereka juga mendengar sesuatu yang kita mudah lewatkan: seluruh rumah ikut, termasuk anak-anak dan hamba. Di dunia di mana perjalanan dan perjamuan biasanya hak kaum berpunya, ini perayaan yang inklusif secara radikal, dan menurut ayat 29, sengaja terbuka bagi mereka yang tidak punya tanah sama sekali.
Pertanyaan Yang Tersisa
Mengapa Allah secara eksplisit menyebut minuman keras? Kita akan lebih nyaman jika ayat itu berhenti pada sapi dan domba. Dan tidak ada jalan keluar yang mudah di sini: kitab yang sama, dan seluruh kitab Amsal, keras terhadap kemabukan dan kerusakan yang dibawanya kepada keluarga.
Jawaban yang jujur mungkin ini: Allah tidak melindungi kita dari penyalahgunaan dengan cara menghapus pemberian-Nya. Ia menaruh pemberian yang berbahaya itu di tengah meja, di hadapan-Nya, di depan seisi rumah, dan mempercayakannya kepada kita. Itu risiko yang Ia pilih. Bagi sebagian orang, karena sejarah pribadi atau kecanduan, kasih kepada diri sendiri dan kepada keluarga berarti menolak apa yang diizinkan di sini. Ayat ini memberi kebebasan, bukan kewajiban. Tetapi ia menolak memberi kita agama yang aman karena tidak pernah mempercayai apa pun kepada kita.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda merayakan sesuatu secara sadar di hadapan Tuhan, bukan hanya bersyukur sambil lalu?
Uang mana dalam anggaran Anda yang keluar karena takut, dan mana yang keluar karena sukacita?
Siapa yang tidak punya "bagian pusaka" di lingkungan Anda, dan bagaimana mereka bisa ikut duduk di meja Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 14:26
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 14:26?
Tentang apakah ULANGAN 14:26?
Apa konteks historis dari ULANGAN 14:26?
Apa yang ULANGAN 14:26 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 14:26 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, ajar aku memberi bagian pertama dari yang Kauberikan, bukan sisanya. Lewat hal sederhana seperti pekerjaan, uang, dan makanan di meja, aku ingin belajar menghormati Engkau setiap hari dan ingat bahwa semuanya berasal dari tangan-Mu.
Bapa, di daftar panjang yang terasa asing itu, aku melihat Engkau peduli bahkan pada hal kecil dalam hidup umat-Mu. Ajari aku peka memilih apa yang kubiarkan masuk ke dalam hatiku, dan percaya bahwa aturan-Mu lahir dari kasih, bukan dari keinginan mengekang.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi