ULANGAN 30:19
Teks
Musa berdiri di depan seluruh bangsa dan memanggil langit dan bumi sebagai saksi atas apa yang baru saja ia letakkan di hadapan mereka: hidup dan mati, berkat dan kutuk, dua jalan yang tidak bisa ditempuh sekaligus. Lalu ia tidak membiarkan pilihan itu menggantung netral, seolah keduanya sama berharga. Ia mendesak: "pilihlah kehidupan supaya kamu hidup, baik kamu dan keturunanmu." Jadi ini bukan sekadar pemaparan dua opsi, melainkan seorang pemimpin tua yang hampir mati sedang memohon kepada orang-orang yang masih punya masa depan, dan yang keputusannya hari itu akan menempel pada anak-anak mereka yang belum lahir. Ayat ini adalah ujung dari seluruh khotbah Musa: semua hukum, semua janji, semua peringatan menyempit menjadi satu kata kerja, "pilihlah."
Inti
Perhatikan betapa anehnya ayat ini secara teologis. Beberapa ayat sebelumnya Tuhan sendiri yang berjanji akan "menyunat hatimu" (ayat 6), artinya Dialah yang membongkar kekerasan hati manusia karena manusia tidak sanggup melakukannya sendiri. Lalu di ayat 19 manusia itu juga yang diperintahkan memilih. Kedua hal itu berdiri berdampingan tanpa dijelaskan. Alkitab tidak pernah memakai anugerah untuk melumpuhkan tanggung jawab, dan tidak pernah memakai tanggung jawab untuk menyingkirkan anugerah. Yang dikatakan teks ini tentang Allah adalah: Ia bukan penguasa yang netral, yang mengangkat bahu melihat ke mana manusia pergi. Ia berpihak. Ia menginginkan kehidupan bagi umat-Nya dan berkata demikian terang-terangan. Dan yang dikatakan teks ini tentang kita: kita benar-benar sanggup memilih kematian sambil menyangka sedang mengatur hidup kita dengan baik.
Benang Merah
Perintah "pilihlah kehidupan" berdiri di tengah-tengah sebuah ketegangan yang tidak akan terselesaikan sepanjang Perjanjian Lama. Israel memilih, lalu gagal, lalu memilih lagi, lalu gagal lagi, sampai pembuangan membuktikan bahwa manusia yang hatinya belum disunat tidak akan pernah secara konsisten memilih hidup. Karena itu janji di ayat 6 begitu penting: Tuhan sendiri yang akan mengerjakan di dalam, apa yang Ia tuntut dari luar. Di sinilah Kristus masuk, bukan sebagai pelengkap sentimental, melainkan sebagai jawaban atas kebuntuan ini. Ia adalah satu-satunya yang benar-benar memilih kehidupan sepenuhnya, dan ironisnya pilihan itu membawa-Nya kepada kematian, supaya kutuk yang diletakkan Musa di hadapan bangsa itu tidak lagi menimpa mereka yang ada di dalam Dia. Yang di Ulangan masih berupa desakan, di Injil menjadi karunia: hidup diberikan, lalu baru dituntut.
Cermin
Kita jarang memilih kematian dengan sadar. Kita memilihnya dalam bentuk-bentuk yang terlihat masuk akal: pekerjaan yang pelan-pelan menelan hari Minggu dan makan malam karena "ini cuma untuk musim ini"; dendam terhadap saudara yang kita rawat diam-diam sambil menyebutnya "menjaga jarak yang sehat"; utang yang terus bertambah demi gaya hidup yang harus terlihat baik-baik saja; layar yang kita buka jam sebelas malam dan kita sesali jam sebelas lima belas. Tidak ada satu pun dari itu yang terasa seperti kutuk saat dipilih. Terasa seperti kenyamanan, seperti hak kita, seperti sesuatu yang pantas kita dapatkan setelah hari yang berat.
Yang membuat ayat ini menusuk adalah tambahannya: "baik kamu dan keturunanmu." Pilihanmu tidak berhenti di tubuhmu. Anakmu sedang belajar dari caramu memperlakukan uang, dari nada suaramu ketika lelah, dari apakah nama Tuhan muncul di rumahmu sebagai Pribadi atau hanya sebagai kebiasaan hari Minggu. Musa tidak sedang menakut-nakuti; ia sedang jujur tentang bagaimana hidup bekerja.
Dan di situ ada juga kelegaan. Teks ini tidak berkata bahwa kamu harus mencari ke langit atau menyeberangi laut (ayat 12 dan 13). Pilihan itu ada di depan matamu hari ini, dalam hal-hal sekecil ini.
Hari ini juga: ambil secarik kertas, tuliskan satu kebiasaan yang kamu tahu sedang pelan-pelan mematikan sesuatu di dalam dirimu, lalu tulis di bawahnya satu tindakan tandingan yang akan kamu lakukan sebelum tidur malam ini. Lakukan tindakan itu. Jangan menambah yang kedua.
Konteks
Kita berada di dataran Moab, di sisi timur Sungai Yordan. Tanah yang dijanjikan terlihat dari situ, tetapi belum dimasuki. Generasi yang keluar dari Mesir sudah mati di padang gurun; yang berdiri di hadapan Musa sebagian besar adalah anak-anak mereka, orang-orang yang tidak pernah melihat Laut Teberau terbelah tetapi mendengar ceritanya seumur hidup. Musa sendiri berumur seratus dua puluh tahun dan tahu ia tidak akan ikut menyeberang. Seluruh kitab Ulangan adalah pidato perpisahannya, disusun mengikuti bentuk perjanjian politik zaman itu antara raja besar dan bangsa taklukan: ada riwayat hubungan, ada syarat-syarat, ada daftar berkat dan kutuk, dan ada saksi-saksi yang dipanggil. Ayat 19 adalah bagian saksi dan meterai. Ini bukan ceramah moral; ini penandatanganan kontrak di depan umum.
Detail
"Aku membuat langit dan bumi menjadi saksi." Dalam perjanjian antarbangsa pada masa itu, yang dipanggil sebagai saksi adalah dewa-dewa kedua belah pihak. Musa tidak bisa melakukan itu. Maka ia memanggil ciptaan: langit yang menaungi setiap generasi dan bumi yang menampung setiap kuburan. Pilihannya cerdas dan mengerikan sekaligus. Saksi-saksi ini tidak bisa disuap, tidak bisa pindah, tidak bisa mati. Ketika orang-orang yang berdiri di Moab itu sudah lama menjadi debu, langit masih di sana dan tanah masih di sana, dan perjanjian itu masih bisa dituntut. Artinya: keputusanmu hari ini dibuat di ruang terbuka, di bawah langit yang sama. Tidak ada keputusan rohani yang benar-benar privat. Semesta ini bukan panggung netral; ia adalah ruang sidang.
Tokoh Utama
Musa di sini adalah orang yang memohon untuk sesuatu yang tidak akan ia nikmati. Ia tahu tanah itu tertutup baginya. Ia tahu, dari pasal-pasal sebelumnya, bahwa bangsa ini kemungkinan besar akan gagal. Ia tetap berdiri dan mendesak. Ada sesuatu yang sangat tidak sentimental dalam kepemimpinannya: ia tidak menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia meletakkan kutuk di atas meja dengan sama jelasnya seperti berkat. Tetapi ia juga tidak netral. Kalimat "pilihlah kehidupan" membocorkan hatinya, dan di belakang hati Musa ada hati Allah. Allah yang bisa saja hanya memaparkan dua jalan lalu diam, justru menunjuk. Inilah potret Allah dalam teks ini: bukan hakim yang menunggu kesalahan, melainkan Pribadi yang jelas-jelas menginginkan umat-Nya hidup.
Kaitan dengan Nas Lain
Yosua, beberapa puluh tahun kemudian, berdiri di Sikhem dan mengulang desakan yang sama kepada generasi berikutnya, menyuruh bangsa itu memilih hari itu juga siapa yang akan mereka layani. Itu menunjukkan bahwa pilihan ini tidak pernah selesai sekali untuk selamanya; setiap generasi harus memutuskannya sendiri. Dan Paulus, dalam Roma 10, mengambil justru bagian yang persis mendahului ayat kita, tentang firman yang tidak di langit dan tidak di seberang laut melainkan dekat, di mulut dan di hati, lalu menerapkannya pada pemberitaan Kristus. Pembacaan Paulus itu bukan pelintiran. Ia melihat pola yang sama: Allah tidak menyembunyikan jalan hidup di tempat yang mustahil dijangkau. Ia mendekatkannya sampai sejauh mulut kita.
Profil
Orang-orang yang pertama mendengar kalimat ini adalah petani dan gembala yang akan segera berperang untuk tanah. Bagi mereka "hidup" bukan konsep rohani yang samar; artinya panen yang cukup, anak-anak yang bertahan sampai dewasa, ternak yang beranak, tidak diusir dari rumah. Dan "kematian" juga sangat konkret: gagal panen, kekalahan, dibuang jauh dari tanah. Mereka tidak membaca ayat ini sebagai ajakan untuk pengambilan keputusan pribadi di dalam hati, melainkan sebagai pertaruhan seluruh bangsa atas satu pertanyaan: kepada siapa kita berpaling ketika hujan tidak turun? Kepada Baal yang ditawarkan tetangga Kanaan, atau kepada Tuhan yang membawa kita keluar dari Mesir? Berhala di sana bukan ide; berhala adalah strategi bertahan hidup yang masuk akal secara ekonomi.
Pertanyaan
Jika Allah sendiri yang harus menyunat hati kita supaya kita bisa mengasihi Dia, mengapa kita masih disuruh memilih? Bukankah itu seperti menyuruh orang lumpuh berjalan? Teks ini tidak menjawabnya, dan setiap usaha menjawabnya dengan rapi biasanya mengorbankan salah satu sisi. Yang bisa kita katakan dengan jujur: pengalaman kita sendiri membenarkan keduanya. Kita tahu betul bahwa kita memilih, bahwa tidak ada orang lain yang memaksa tangan kita ketika kita memilih yang buruk. Dan kita juga tahu bahwa setiap kali kita benar-benar berbalik kepada Tuhan, rasanya bukan seperti prestasi, melainkan seperti ditarik. Mungkin itu memang bentuk kebenaran yang hanya bisa dihidupi, tidak diselesaikan. Yang berbahaya bukanlah ketegangan itu, melainkan menggunakan salah satu sisinya sebagai alasan untuk tidak bergerak hari ini.
Refleksi
Kalau langit dan bumi memang menjadi saksi atas pilihan-pilihanmu minggu ini, kesaksian apa yang akan mereka berikan?
Pilihan kecil mana dalam hidupmu yang kamu sebut "cuma kebiasaan", padahal sebenarnya sedang kamu wariskan kepada orang-orang terdekatmu?
Di titik mana kamu lebih suka berpikir bahwa firman itu terlalu jauh, "di langit" atau "di seberang laut", supaya kamu tidak perlu melakukannya hari ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Deuteronomy 30:19
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ULANGAN 30:19?
Tentang apakah ULANGAN 30:19?
Apa konteks historis dari ULANGAN 30:19?
Apa yang ULANGAN 30:19 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ULANGAN 30:19 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Deuteronomy 30
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan urutannya. Sebelum ayat ini, Tuhan yang menyunat hati mereka. Baru sesudah itu: "Kamu akan kembali dan mendengarkan suara TUHAN dan melakukan segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." Ketaatan bukan syarat agar Tuhan bekerja, melainkan buah dari pekerjaan-Nya. Kalau kamu lelah mencoba berubah sendiri, mungkin itu titik awalnya.
Bapa, Engkau melihat siapa yang melukai dan menekan kami. Aku menyerahkan mereka ke tangan-Mu, sebab keadilan itu milik-Mu, bukan milikku. Jagalah hatiku supaya tidak menyimpan dendam, dan biarkan aku beristirahat dalam perlindungan-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi