PENGKHOTBAH 4
Teks Itu
Sang Pengkhotbah berkeliling dan melihat tiga hal: air mata orang tertindas yang tak punya penghibur, kerja keras yang ternyata digerakkan oleh iri hati terhadap sesama, dan seorang kaya yang menumpuk harta tanpa siapa pun untuk berbagi. Di tengah semua itu ia menyisipkan satu pujian bagi kebersamaan, "Dua lebih baik daripada satu," lalu menutup dengan kisah raja tua yang bodoh dan pemuda miskin yang menggantikannya, dan bahkan popularitas pemuda itu pun akhirnya dilupakan.
Inti
Bayangkan dia berdiri di gerbang kota. Ia tidak berkhotbah; ia hanya melihat. Dan yang ia lihat bukan kemiskinan sebagai statistik, melainkan wajah: mata yang basah, dan di sebelahnya tempat kosong tempat seorang penghibur seharusnya berdiri. Dua kali ia mengulang frasa itu, "tidak ada yang menghibur mereka," seperti orang yang tak percaya pada matanya sendiri. Lalu ia menarik kesimpulan yang tidak akan lolos sensor buku renungan mana pun: lebih baik mati, bahkan lebih baik tidak pernah dilahirkan. Inilah keberanian Pengkhotbah. Ia tidak menutupi dunia yang rusak dengan selimut penghiburan cepat. Ia menuntut agar kita melihat dulu, sepenuhnya, sebelum berbicara tentang Allah. Iman yang tidak tahan memandang air mata bukanlah iman, melainkan pengalihan perhatian.
Benang Merah
"Tidak ada yang menghibur mereka." Kalimat itu menggantung di udara sepanjang Perjanjian Lama seperti lowongan yang belum terisi. Yesaya akhirnya menjawabnya: Roh Tuhan diurapi untuk menghibur semua orang yang berdukacita. Dan ketika Yesus membuka kitab Yesaya di Nazaret dan berkata bahwa nas itu digenapi hari itu, Ia sesungguhnya melangkah masuk ke dalam ruang kosong yang dilihat Pengkhotbah. Ia berdiri di sisi orang tertindas, bukan di sisi kekuasaan. Perhatikan juga bahwa Pengkhotbah tidak menyalahkan Allah atas penindasan; ia menyalahkan "kekuasaan pada pihak para penindas." Salib adalah tempat di mana kekuasaan itu dipakai sekali lagi, dan justru di situ dipatahkan. Sang Penghibur datang sebagai yang tertindas.
Cermin
Ayat 4 mungkin ayat paling tidak nyaman di pasal ini: segala kerja keras dan keterampilan ternyata lahir dari "kecemburuan orang terhadap sesamanya." Coba jujur sebentar. Mengapa Anda menerima proyek tambahan itu? Mengapa rumah harus direnovasi tahun ini? Mengapa anak Anda harus ikut les yang itu? Pengkhotbah tidak melarang bekerja; ia bertanya siapa sebenarnya yang duduk di kursi penonton dalam kepala Anda. Lalu ia menawarkan takaran yang aneh: "Segenggam penuh ketenangan lebih baik daripada dua genggam penuh kerja keras." Dua genggam terdengar lebih hebat, sampai Anda menyadari tangan yang penuh tidak bisa memegang siapa pun. Hari ini: telepon atau kirim pesan kepada satu orang yang Anda tahu sedang jatuh dan tidak punya siapa-siapa untuk mengangkatnya, dan katakan bahwa Anda ada.
Pertanyaan
Bagaimana kita menghadapi ayat 2 dan 3? Pengkhotbah memuji orang mati dan menyebut mereka yang belum pernah ada sebagai yang paling beruntung. Itu bukan bahasa kiasan yang sopan; itu keputusasaan yang diucapkan dengan tenang. Kita ingin cepat-cepat menambahkan, "Tetapi tentu saja ia tidak sungguh-sungguh bermaksud begitu." Sayangnya teks tidak memberi kita jalan keluar itu. Alkitab memberi ruang bagi seseorang yang telah melihat terlalu banyak dan kehilangan selera hidup, dan tidak menghukumnya. Ayub pernah mengatakan hal serupa tentang hari kelahirannya. Mungkin justru inilah anugerahnya: Allah tidak menuntut kita merasa positif tentang dunia yang tidak positif. Ia membiarkan keluhan itu tercatat, tanpa koreksi, sebagai bagian dari Kitab Suci.
Detail
"Tali tiga jalin tidak mudah diputuskan." Kita sering mengutipnya di pernikahan sebagai gambaran pasangan plus Allah. Indah, tapi bukan itu yang dibicarakan Pengkhotbah. Perhatikan urutannya: jatuh dan diangkat, berbaring dan menjadi hangat, diserang dan bertahan. Ini bahasa pengembara, bukan bahasa romantis. Dua orang tidur berdampingan di malam gurun yang membekukan karena satu tubuh saja tidak menghasilkan cukup panas. Lalu ia menambah satu jalin lagi, dari dua ke tiga, seolah berkata: jangan berhenti di pasangan, teruskan menenun. Yang mengejutkan, semua ini muncul persis setelah kisah orang kaya yang bertanya, "Untuk siapa aku bekerja keras?" Dia punya dua genggam penuh, dan mati kedinginan.
Antarteks
Bandingkan pemuda miskin berhikmat yang keluar dari rumah tahanan menjadi raja dengan Yusuf, yang benar-benar keluar dari penjara Mesir untuk memerintah. Pengkhotbah tahu pola itu, tetapi ia menolak akhir yang manis: "orang-orang yang akan datang tidak akan bersuka atas dia." Bahkan kisah kebangkitan dari debu pun akan dilupakan oleh generasi berikutnya. Di sini teks ini berbenturan dengan Mazmur 145, yang berkata bahwa angkatan demi angkatan akan memuji perbuatan Tuhan. Keduanya benar. Nama manusia luntur; nama Tuhan tidak. Itulah sebabnya kerja kita hanya tahan lama sejauh terjalin ke dalam kerja-Nya, bukan ke dalam ingatan orang.
Renungan
Siapa orang yang dalam setahun terakhir mengangkat Anda ketika Anda jatuh, dan pernahkah Anda mengatakannya kepadanya?
Jika Anda harus memilih antara satu genggam ketenangan dan dua genggam hasil kerja, pilihan mana yang sesungguhnya sudah Anda ambil bulan ini, dan apa alasan sejatinya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ecclesiastes 4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti PENGKHOTBAH 4?
Tentang apakah PENGKHOTBAH 4?
Apa konteks historis dari PENGKHOTBAH 4?
Apa yang PENGKHOTBAH 4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana PENGKHOTBAH 4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ecclesiastes 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Lagi pula, jika dua orang tidur bersama, mereka akan merasa hangat. Akan tetapi, bagaimana seorang saja dapat merasa hangat?" Ini gambaran malam di padang gurun yang dingin, dua musafir berbagi jubah. Kehangatan itu bukan dihasilkan sendiri, melainkan diterima dari tubuh orang lain. Siapa yang boleh cukup dekat untuk menghangatkanmu malam ini?
Tuhan, ada hari-hari ketika melihat penindasan di dunia ini membuat hatiku lelah, dan aku hampir berpikir lebih baik tidak pernah menyaksikannya. Jangan biarkan aku tenggelam dalam kepahitan itu. Jadilah penghibur bagi mereka yang menangis tanpa seorang pun di sisinya, dan pakai aku untuk menghapus sedikit air mata mereka.
Bapa, aku sering bekerja keras bukan karena cinta, tapi karena diam-diam ingin mengungguli orang lain. Rasanya seperti mengejar angin dan tidak pernah cukup. Tolong lepaskan aku dari iri itu, dan ajar aku bersyukur atas bagian yang Kau percayakan padaku.
Ayat ini lahir tepat sesudah Pengkhotbah melihat air mata orang tertindas, dan yang paling menyakitkan: tidak ada yang menghibur mereka. Lalu keluarlah kalimat itu, "Maka, aku memuji orang-orang mati yang telah lama mati, lebih daripada orang-orang hidup yang masih hidup." Alkitab tidak menyensor kepahitan sejujur itu. Pertanyaannya untukmu hari ini: apakah ada orang di dekatmu yang menangis tanpa penghibur, dan kamu bisa jadi jawabannya?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
