ESTER 6
Naskah
Malam itu raja Persia tidak bisa tidur. Untuk mengisi jam-jam gelap itu ia menyuruh membacakan kitab catatan sejarah kerajaan, dan di situlah muncul nama Mordekhai, yang dahulu membongkar rencana pembunuhan terhadap raja dan tidak pernah mendapat balasan apa pun. Pada saat yang sama Haman datang ke halaman istana untuk meminta izin menggantung Mordekhai, lalu justru dipaksa mengarak musuhnya itu melewati jalan-jalan kota sambil berseru-seru, "Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya." Haman pulang dengan kepala berselubung, dinasihati oleh istri dan para penasihatnya bahwa kejatuhannya sudah dimulai, lalu dijemput untuk menghadiri perjamuan Ester.
Inti
Dalam seluruh kitab Ester nama Allah tidak pernah disebut, dan pasal 6 adalah pusat dari kebisuan itu. Tidak ada malaikat, tidak ada nabi, tidak ada mimpi yang ditafsirkan. Hanya seorang raja yang tidak bisa tidur. Namun justru di sini teologi kitab ini terbuka: pemerintahan Allah tidak bergantung pada apakah Dia disebut atau diakui. Dia bekerja melalui insomnia, melalui arsip birokrasi yang berdebu, melalui kesombongan Haman yang merancang penghormatan paling megah karena mengira penghormatan itu untuk dirinya. Kita biasa mengharapkan penyelamatan datang dengan laut yang terbelah. Di sini penyelamatan datang lewat seorang pegawai yang membacakan dokumen lama pada jam tiga pagi. Pemeliharaan Allah ternyata jauh lebih sabar, dan jauh lebih halus, daripada doa-doa kita yang menuntut tanda.
Benang Merah
Pola pembalikan di pasal ini adalah pola yang menjalar di seluruh Kitab Suci. Yang direndahkan diangkat; yang mengangkat diri dijatuhkan. Mordekhai yang duduk di pintu gerbang, pakaian kabung, hidup dalam ancaman maut, diarak dengan pakaian raja. Haman yang mendirikan tiang gantungan berjalan kaki memegang tali kuda musuhnya. Maria menyanyikan hal yang sama ketika ia berkata bahwa Allah menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang yang rendah (Lukas 1:52); ia tidak sedang menciptakan tema baru, ia sedang mengenali tema lama. Dan pembalikan terbesar terjadi ketika Yang benar-benar layak dihormati justru diarak ke luar kota dengan mahkota duri, lalu dibangkitkan. Ester 6 adalah bayangan kecil dari salib dan kebangkitan: tiang gantungan yang dibuat untuk orang lain menelan pembuatnya sendiri.
Cermin
Ada dua hal dalam pasal ini yang menyentuh kita secara tidak nyaman. Pertama: Mordekhai tidak tahu apa-apa. Ia tidak mengatur malam itu, tidak mengetahui ada arsip tentang dirinya, bahkan tidak tahu bahwa ia sedang diselamatkan. Mungkin itu juga posisi Anda sekarang, di tengah proses hukum yang berlarut, diagnosis yang menunggu, konflik di tempat kerja yang terasa mandek. Kedua: pertanyaan Haman dalam hatinya, "Siapakah orang yang raja berkenan menghormatinya lebih dari aku?" Itu suara yang kita kenal, suara yang menghitung siapa yang disebut namanya di rapat, siapa yang diminta berkhotbah, siapa yang dipuji di grup keluarga. Haman jatuh bukan karena kekuasaannya kurang, tetapi karena ia tidak sanggup membayangkan dunia yang tidak berpusat pada dirinya. Hari ini, tuliskan satu nama orang yang baru-baru ini mendapat penghormatan yang Anda diam-diam inginkan, lalu ucapkan dengan suara keras sebuah doa berkat untuk dia.
Pendengar Pertama
Kitab ini dibaca oleh orang Yahudi diaspora, keturunan mereka yang tidak kembali ke Yerusalem, yang hidup di bawah pemerintahan asing tanpa Bait Suci di dekat mereka, tanpa nabi, tanpa tanda-tanda ilahi yang dramatis. Mereka tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas yang keamanannya bergantung pada suasana hati seorang pejabat. Ketika mereka mendengar bahwa seluruh ancaman genosida mulai berbalik karena seorang raja tidak bisa tidur, mereka tidak berpikir "kebetulan yang lucu." Mereka mendengar: Allah perjanjian masih memegang kami, bahkan di Susan, bahkan ketika Dia tampak diam. Perayaan Purim lahir dari tawa semacam ini, tawa orang yang nyaris mati lalu melihat betapa rapuhnya kuasa yang tadinya mengerikan.
Pertanyaan
Mengapa Allah bekerja begitu diam-diam, dan begitu terlambat? Mordekhai sudah bertahun-tahun tidak mendapat balasan; dekrit pembunuhan sudah ditandatangani dan dikirim; tiang gantungan sudah berdiri. Allah menyelamatkan pada detik terakhir, dan kita tahu bahwa dalam sejarah tidak selalu ada detik terakhir yang menyelamatkan. Banyak orang Yahudi di abad-abad berikutnya berdoa dan tidak ada raja yang terjaga. Kitab Ester tidak menjawab itu. Yang diberikannya hanya satu kesaksian: di satu tempat, pada satu malam, Allah terbukti belum melepaskan umat-Nya. Kita tidak boleh memakai kesaksian itu untuk menjamin bahwa setiap cerita akan berakhir seperti ini. Kita hanya boleh memakainya untuk menolak kesimpulan bahwa kebisuan Allah sama dengan ketidakhadiran-Nya.
Konteks
Kita berada di Susan, ibu kota kerajaan Persia, sekitar abad kelima sebelum Kristus, di istana Ahasyweros yang kekuasaannya membentang dari India sampai Etiopia. Haman adalah orang kedua dalam kerajaan; Mordekhai seorang Yahudi rendahan yang duduk di pintu gerbang, tempat para pegawai kecil menunggu. Di dunia itu kehormatan bukan perasaan, melainkan mata uang: pakaian raja, kuda raja, seruan di jalan umum. Mengarak orang lain berarti mengumumkan kepada seluruh kota bahwa Anda lebih rendah darinya. Karena itu Haman pulang dengan kepala berselubung, tanda kabung dan aib. Dan perhatikan ironi tajamnya: raja memerintahkan agar jangan lalai sepatah kata pun dari rancangan Haman sendiri.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda sedang menuntut tanda yang jelas, sementara Allah mungkin sedang bekerja melalui hal-hal kecil yang tidak Anda perhatikan?
Pertanyaan Haman, "Siapakah orang yang raja berkenan menghormatinya lebih dari aku?", muncul dalam bentuk apa di hati Anda minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Esther 6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti ESTER 6?
Tentang apakah ESTER 6?
Apa konteks historis dari ESTER 6?
Apa yang ESTER 6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana ESTER 6 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Esther 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, untuk waktu-Mu yang tepat. Saat Haman melangkah ke pelataran membawa rencana jahatnya, Engkau sudah lebih dahulu menggerakkan hati raja. Aku bersyukur, rencana yang disiapkan untuk menjatuhkan umat-Mu justru berbalik di tangan-Mu. Engkau tidak pernah terlambat.
Tuhan, Engkau mengatur waktu bahkan lewat langkah orang yang tidak menyadarinya. Saat hidupku terasa acak dan aku tidak melihat rencana-Mu, tolong aku percaya bahwa tangan-Mu sedang bekerja. Ajar aku menunggu tanpa curiga pada kebaikan-Mu.
Terima kasih, Tuhan, karena bahkan mulut Zeresh dan para penasihat Haman terpaksa mengakui bahwa Mordekhai tidak akan terkalahkan. Engkau menjaga umat-Mu begitu nyata sampai lawan pun melihatnya. Aku bersyukur perlindungan-Mu atas hidupku tidak bergantung pada kekuatanku sendiri.
Tuhan, malam itu seorang raja tak bisa tidur, dan lewat hal sekecil itu Engkau membalikkan segalanya. Ingatkan aku bahwa Engkau bekerja bahkan dalam yang tampak sepele. Saat aku terjaga dan gelisah, tolong aku percaya bahwa Engkau tidak pernah lupa padaku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
