KEJADIAN 3
Teks Itu
Seekor ular yang licik menggoyahkan kepercayaan perempuan itu pada firman Allah, dan buah yang terlarang itu pun dimakan, lalu diberikan kepada suaminya. Mata mereka terbuka, tetapi yang mereka lihat pertama-tama adalah ketelanjangan mereka sendiri; mereka bersembunyi, saling menuding, dan mendengar Allah mengucapkan konsekuensi atas ular, perempuan, dan laki-laki itu. Namun sebelum mereka diusir dari Eden, Allah menjahitkan pakaian kulit bagi mereka.
Inti
Bagi pendengar pertama, cerita ini bukan dongeng tentang buah. Ular adalah lambang yang mereka kenal betul: di Mesir, ular tegak menghiasi mahkota Firaun sebagai tanda kuasa ilahi; di Kanaan, ular melilit tubuh dewi kesuburan, berganti kulit dan seolah tak pernah mati. Jadi ketika Israel mendengar bahwa ular adalah "yang paling licik dari segala binatang di padang yang telah dijadikan oleh TUHAN Allah," itu adalah sebuah penurunan pangkat yang berani. Simbol kuasa bangsa-bangsa tetangga hanyalah binatang ciptaan. Inti pasal ini bukan sekadar bahwa manusia melanggar aturan, melainkan bahwa manusia memilih untuk mempercayai suara ciptaan di atas suara Penciptanya, dan memilih menentukan sendiri apa yang baik dan yang jahat. Dosa dimulai sebagai ketidakpercayaan terhadap kebaikan Allah.
Benang Merah
Ayat 15 adalah kalimat yang paling gelap sekaligus paling terang dalam pasal ini. Di tengah kutukan, ada janji: "Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan kamu akan meremukkan tumitnya." Perhatikan bahwa janji ini diucapkan kepada ular, bukan kepada manusia. Adam dan Hawa hanya menguping anugerah. Sejak saat itu Kitab Suci menjadi kisah tentang keturunan: siapa yang akan lahir, siapa yang akan menginjak. Habel mati, Set lahir; Ishak nyaris hilang, lalu dikembalikan; Israel nyaris punah di Mesir, lalu keluar. Setiap kali garis keturunan itu terancam, harapan tergantung pada benang tipis. Sampai akhirnya seorang Anak lahir dari seorang perempuan, dan tumit-Nya diremukkan di kayu salib, tepat pada saat kepala si ular pecah.
Cermin
Perhatikan cara Adam menjawab: "Perempuan yang Engkau berikan untuk bersamaku itu, dialah yang telah memberikannya kepadaku." Dua tudingan dalam satu napas: kepada istrinya, dan kepada Allah yang memberi istri itu. Kita mengenali nada itu. Rapat evaluasi di kantor ketika target tidak tercapai. Percakapan malam hari ketika tagihan menumpuk dan pasangan Anda menjadi penyebab segalanya. Doa yang setengah jujur, di mana Anda mengakui kesalahan sambil diam-diam menjelaskan mengapa keadaan memaksa Anda. Yang membuat cerita ini menyakitkan bukan bahwa mereka jatuh, melainkan bahwa mereka tidak sanggup mengatakan enam kata sederhana: aku yang melakukannya, ampunilah aku. Sembunyi di balik pohon ternyata lebih mudah daripada berdiri telanjang di hadapan kasih.
Detail
Dalam bahasa Ibrani ada permainan kata yang hilang dalam terjemahan mana pun. Pasal 2 berakhir dengan manusia dan istrinya yang arummim, telanjang, tanpa malu. Pasal 3 dibuka dengan ular yang arum, licik. Bunyinya nyaris sama. Ketelanjangan yang polos dan kelicikan yang menghitung terdengar seperti kembar, padahal keduanya berlawanan secara diametral. Dan inilah ironinya: ular menjanjikan mata yang terbuka, dan mata mereka memang terbuka, tetapi yang pertama mereka lihat adalah bahwa mereka arummim. Pengetahuan yang dijanjikan sebagai kenaikan pangkat ternyata berupa rasa malu. Daun ara yang mereka semat adalah usaha manusia pertama untuk menutupi diri sendiri, dan sejak itu kita tidak pernah berhenti menjahit.
Gema Kitab Suci
Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa Allah damai sejahtera akan segera menghancurkan Iblis di bawah kaki mereka. Ia sedang mengutip Kejadian 3:15 dan sekaligus memperluasnya: janji kepada seorang perempuan di Eden menjadi janji kepada sekelompok orang Kristen yang bertengkar di ibu kota kekaisaran. Kemenangan Kristus dibagikan. Gema kedua terdengar lebih halus. Kerub dengan pedang api menjaga jalan menuju pohon kehidupan; kelak kerub yang sama akan disulam pada tirai Kemah Suci, menjaga jalan menuju hadirat Allah. Pintu Eden yang tertutup itu tidak pernah benar-benar dilupakan Israel. Setiap kali imam melangkah melewati tirai berkerub, ada rindu tua yang bergerak: bolehkah kami pulang?
Sang Tokoh Utama
Yang paling mengejutkan dalam pasal ini adalah Allah sendiri. Ia berjalan di taman "pada suatu hari yang sejuk," bukan menyambar dari langit. Ia bertanya, "Di manakah kamu?" bukan karena tidak tahu, melainkan karena Ia memberi manusia kesempatan untuk keluar dari persembunyiannya sendiri. Ia mengucapkan konsekuensi yang keras, dan tidak satu pun dicabut: tanah tetap keras, kelahiran tetap sakit, kematian tetap datang. Lalu Ia melakukan sesuatu yang tidak diminta siapa pun. "TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit untuk manusia dan istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka." Allah membungkuk dan mendandani dua orang yang baru saja mengkhianati-Nya. Ada darah dalam tindakan itu, sebab kulit tidak datang tanpa kematian. Keadilan dan belas kasihan tidak bertarung di sini; keduanya keluar dari tangan yang sama.
Refleksi
Di bagian hidup mana Anda paling sering menjahit daun ara sendiri, dan apa yang sebenarnya Anda takutkan akan terlihat jika Anda berhenti?
Pertanyaan "Di manakah kamu?" bukan tuduhan melainkan panggilan pulang. Jika Allah menanyakannya kepada Anda pagi ini, jawaban jujurnya apa?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 3?
Tentang apakah KEJADIAN 3?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 3?
Apa yang KEJADIAN 3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 3 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Genesis 3?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
