EFESUS 2:17
Teks Itu
Sesudah salib meruntuhkan tembok permusuhan, Kristus tidak berdiam diri. Ia datang, dan Ia bertindak sebagai pembawa kabar: "Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepadamu yang jauh dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat." Dua kelompok, satu berita, satu suara. Yang jauh adalah orang-orang bukan Yahudi di Efesus, yang dulu disebut "orang tidak bersunat"; yang dekat adalah Israel, umat perjanjian. Kepada keduanya diberitakan hal yang sama, dan kata itu diucapkan dua kali, seolah Paulus takut ada yang mengira dirinya tidak termasuk.
Inti
Damai sejahtera di sini bukan perasaan tenang di dalam hati. Ini istilah politik dan militer: berakhirnya permusuhan, pulihnya hubungan antara pihak-pihak yang saling memusuhi. Yang mengejutkan bukan bahwa Allah menawarkan damai, melainkan bahwa Dia sendiri yang datang mengumumkannya. Dalam dunia kuno, pihak yang kalah mengirim utusan untuk memohon syarat perdamaian. Di sini pihak yang dilukai justru berjalan menyeberangi medan dan memberitakan bahwa perang sudah selesai, karena Ia sendiri yang menanggung biayanya. Anugerah, dalam ayat 8, bukan sekadar doktrin; di ayat 17 ia menjadi langkah kaki. Allah tidak menunggu di ujung jalan. Ia datang dan memberitakan.
Benang Merah
Paulus sedang mengutip Yesaya, yang bernubuat tentang damai bagi yang jauh dan yang dekat, ucapan penghiburan bagi umat yang tercerai-berai dalam pembuangan. Yang dilakukan Paulus radikal: "yang jauh" itu ia terapkan pada orang-orang Efesus yang menyembah Artemis, yang tidak pernah membaca Taurat, yang dagingnya tidak bersunat. Nubuat pemulihan Israel ternyata cukup luas untuk memuat bangsa-bangsa. Inilah benang merah dari Abraham sampai Efesus: berkat kepada satu keluarga selalu dimaksudkan untuk mengalir ke semua keluarga di bumi. Kristus tidak mengganti kisah Israel dengan kisah baru; Ia membawanya sampai ke pelabuhan Efesus, dan di sana orang-orang yang tidak punya sejarah dengan Allah tiba-tiba mendapat sejarah.
Cermin
Bayangkan diri Anda duduk di rumah seorang pengrajin di Efesus, mendengar surat ini dibacakan. Anda tahu tempat Anda: bukan Yahudi, jadi bukan siapa-siapa secara rohani. Sekarang bandingkan dengan rasa Anda sendiri di gereja. Ada orang yang sudah dua puluh tahun ikut ibadah dan tetap merasa berada di baris belakang: kurang paham Alkitab, riwayat hidup terlalu berlumpur, keluarga tidak Kristen, pernah bercerai, pernah bangkrut, pernah gagal. Ayat ini menyebut damai dua kali justru supaya Anda tidak bisa berkata, "yang dekat saja yang dimaksud." Tetapi ada sisi lain yang menusuk: jika Anda merasa termasuk "yang dekat", ayat ini melarang Anda memandang rendah orang yang baru masuk. Berita yang mereka dengar sama persis dengan berita yang menyelamatkan Anda.
Detail
Kata yang dipakai untuk "memberitakan" adalah euangelizomai, memberitakan kabar baik. Di dunia Romawi, kata itu terdengar di pasar ketika seorang pembawa berita berdiri di atas batu dan mengumumkan kemenangan kaisar atau kelahiran putra mahkota. Suaranya keras, isinya resmi, dan tidak seorang pun boleh berdebat. Paulus memakai kata itu untuk Kristus. Bukan Kaisar, bukan panitera kota, bukan imam Artemis yang mengumumkan kabar penentu di Efesus, melainkan seorang Yahudi yang disalibkan. Dan perhatikan tegangnya: "Ia datang." Kristus datang ke Efesus? Ya, melalui mulut Paulus, melalui Roh Kudus, melalui pembacaan surat ini di rumah-rumah kecil. Ketika Injil diberitakan, Kristus sendiri yang sedang mengumumkan.
Sang Tokoh Utama
Yang tampil di ayat ini adalah Kristus yang aktif setelah kematian-Nya. Ayat 16 memperlihatkan Dia diam, tergantung, mematikan permusuhan di dalam tubuh-Nya. Ayat 17 memperlihatkan Dia berjalan dan berbicara. Ini bukan tokoh yang menyelesaikan tugas lalu pensiun ke surga; Ia mengejar orang-orang yang untuk mereka Ia mati. Ada sesuatu yang hampir tidak sopan dalam kegigihan-Nya: Ia menyeberangi batas suku, bahasa, dan kesalehan, dan Ia mengumumkan damai kepada orang-orang yang tidak pernah memintanya. Landskap batin-Nya bukan kelelahan pihak yang menang, tetapi kegembiraan pembawa kabar. Allah yang "kaya dengan belas kasih" di ayat 4 ternyata juga fasih berbicara. Kasih-Nya bersuara, tidak hanya berkorban.
Pertanyaan
Kalau damai sudah diberitakan kepada keduanya, mengapa gereja masih terbelah? Efesus sendiri tidak langsung menjadi rukun; surat ini ditulis justru karena ketegangan antara Yahudi dan non-Yahudi masih terasa, dan sampai hari ini kita membangun tembok baru: suku, kelas, gaya musik, sikap politik. Paulus tidak menjanjikan bahwa tembok itu tidak akan pernah didirikan lagi. Ia mengatakan bahwa tembok itu tidak lagi memiliki dasar hukum. Kita kadang mendirikan kembali apa yang sudah dirobohkan Kristus, dan Allah membiarkannya berdiri untuk sementara, walau itu dusta. Berita damai bukan laporan tentang kondisi kita, melainkan pengumuman tentang keputusan Allah, dan kita hidup dalam jarak yang menyakitkan antara keduanya.
Refleksi
Siapa yang secara diam-diam saya anggap "jauh", dan apa yang berubah kalau saya sungguh percaya bahwa mereka mendengar kabar damai yang persis sama dengan yang saya dengar?
Di bagian hidup mana saya masih bersikap seolah perang dengan Allah belum berakhir, dan apa buktinya dalam cara saya berdoa atau menghindari doa?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 2:17
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 2:17?
Tentang apakah EFESUS 2:17?
Apa konteks historis dari EFESUS 2:17?
Apa yang EFESUS 2:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 2:17 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 2
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Sebab, melalui Dia, kita berdua memiliki jalan masuk kepada Bapa dalam satu Roh." Perhatikan kata "kita berdua". Yahudi dan bukan Yahudi, yang dulu dipisahkan tembok, kini berdiri di pintu yang sama. Kamu tidak punya jalan masuk yang lebih istimewa daripada orang yang sulit kamu terima itu. Kalian masuk bersama, atau tidak sama sekali.
Bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita, Ia menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus." Perhatikan: bukan sakit, bukan lemah, tetapi mati. Orang mati tidak bisa memberi apa-apa, tidak bisa menawar, tidak bisa memperbaiki diri lebih dulu. Jadi kalau hari ini kamu merasa terlalu jauh untuk dijangkau, ingatlah bahwa Allah memulai justru di titik itu.
Bapa, aku ingin mengingat dari mana aku datang. Dulu aku ada di luar, disebut orang asing, tidak punya tempat. Tetapi Engkau tidak membiarkan aku tinggal di sana. Jaga hatiku supaya jangan pernah memandang rendah orang lain yang Kaupanggil juga.
Bapa, ada bagian dalam diriku yang masih merasa asing, seperti tamu yang menunggu diusir. Tapi Engkau menyebutku keluarga. Tolong aku percaya bahwa aku benar-benar punya tempat di rumah-Mu, dan biar aku membuka pintu itu juga bagi orang lain.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi