HOSEA 14
Nas
"Kami akan mempersembahkan sapi-sapi jantan dari bibir kami." Itulah kalimat yang aneh dan menggetarkan dari doa pertobatan yang Hosea ajarkan kepada Israel. Bangsa yang telah berpaling kepada Asyur, kepada kuda-kuda perang, dan kepada patung buatan tangan sendiri, kini dipanggil pulang. Dan Tuhan menjawab dengan janji yang tak sepadan dengan dosa mereka: "Aku akan menyembuhkan kemurtadan mereka, Aku akan mengasihi mereka dengan rela hati."
Intinya
Pasal ini adalah penutup kitab Hosea, dan tidak berakhir dengan penghakiman melainkan dengan pemulihan. Yang luar biasa bukan hanya bahwa Tuhan menerima kembali umat yang berzina secara rohani, tetapi caranya. Ia tidak berkata: "Setelah kalian membuktikan diri, Aku akan menerima kalian." Ia berkata: "Aku akan mengasihi mereka dengan rela hati." Kata "rela hati" itu penting; dalam bahasa aslinya berarti pemberian yang muncul dari kebebasan sang pemberi, bukan dari kewajiban atau desakan. Dosa Israel tidak melahirkan kasih Tuhan, dan pertobatan mereka pun tidak memaksa-Nya. Kasih itu terpancar dari dalam diri Allah sendiri. Di situlah letak Injil, jauh sebelum Injil diberitakan.
Benang Merah
Perhatikan urutan yang menakjubkan di sini: Israel diminta membawa "kata-kata" bukan korban binatang, karena persembahan yang sesungguhnya adalah pengakuan mulut, "sapi-sapi jantan dari bibir kami." Ini menunjuk jauh ke depan, ke saat ketika seluruh sistem korban akan digenapi dalam satu Korban. Yesus adalah yang menyembuhkan kemurtadan, bukan dengan menuntut lebih banyak lembu, tetapi dengan menyerahkan diri-Nya sendiri. Dan gambaran Tuhan yang menjadi "seperti embun pagi", yang membuat Israel "mekar seperti bunga bakung" dan "berakar seperti pohon Lebanon", menemukan gemanya dalam ajaran Yesus tentang pokok anggur yang benar. "Dari Akulah semua buahmu," kata Tuhan di ayat 9. Itu persis suara yang kelak berbicara di Yohanes 15: tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
Cermin
Baca kembali ayat 4: "Asyur takkan menyelamatkan kami. Kami tidak akan menunggangi kuda. Dan, kami takkan berkata lagi, 'ilah kami!' kepada patung karya kami." Tiga hal: kekuatan politik, kekuatan militer, dan hasil tangan sendiri. Perhatikan bahwa yang terakhir adalah yang paling halus, karena patung itu buatan mereka sendiri. Kita menyembah apa yang kita hasilkan: karier yang kita bangun, keluarga yang kita rancang menjadi sempurna, reputasi yang kita jaga di media sosial, tabungan yang kita anggap sebagai jaring pengaman. Semuanya bukan hal jahat pada dirinya sendiri. Menjadi jahat ketika kita berkata kepadanya, "ilah kami". Pertobatan sejati dalam pasal ini bukan sekadar merasa bersalah, melainkan menamai apa yang kita andalkan lebih daripada Tuhan, lalu melepaskannya.
Latar
Pendengar mula-mula Hosea adalah Kerajaan Utara di ambang kehancuran. Asyur sudah mengintai; dalam beberapa tahun, Samaria akan jatuh dan sepuluh suku akan diangkut. Mereka telah mencoba diplomasi dengan Asyur, mengandalkan kavaleri Mesir, dan mencampur ibadah kepada Tuhan dengan pemujaan Baal di bukit-bukit. Bagi mereka, pasal 14 ini terdengar hampir mustahil. Bagaimana mungkin bangsa yang begitu bebal masih memiliki pintu pulang? Kata-kata "Kembalilah, hai Israel, kepada TUHAN Allahmu" pasti terasa seperti tangan yang terulur ketika mereka sudah terlanjur berpaling begitu jauh. Mereka mendengar bukan sekadar nasihat moral, melainkan kesempatan kedua yang tidak mereka layak dapatkan.
Sang Tokoh
Tokoh utama pasal ini adalah Tuhan sendiri, dan lanskap emosi-Nya luar biasa kompleks. Setelah tiga belas pasal berisi tuduhan, kemarahan, dan perkabungan atas ketidaksetiaan Israel, di sini Ia beralih menjadi tabib, kekasih, dan pohon yang meneduhkan. "Kemarahan-Ku telah surut dari mereka," kata-Nya. Ini bukan Tuhan yang berubah pikiran secara emosional, melainkan Tuhan yang dari dulu memang seperti itu; kemarahan-Nya nyata tetapi bukan intinya, sedangkan kasih-Nya adalah watak-Nya. Dan lihat gambar terakhir yang Ia pakai untuk diri-Nya: "Aku seperti pohon sanobar yang hijau." Bukan gunung yang menakutkan, bukan api yang membakar, melainkan pohon yang hijau sepanjang tahun, tempat burung bersarang, tempat manusia berteduh. Itulah wajah Allah yang kelak berjalan di Galilea.
Detil
"Sapi-sapi jantan dari bibir kami" (ayat 3). Frasa ini mudah terlewat, tetapi di sinilah keseluruhan teologi korban Perjanjian Lama mulai bergeser. Israel diminta membawa sesuatu yang lebih sulit daripada lembu: pengakuan yang jujur. Sapi jantan adalah persembahan yang mahal, hewan terbaik. Menyebut kata-kata sebagai "sapi jantan" berarti mengakui bahwa pengakuan yang tulus itu mahal, memerlukan pengorbanan harga diri. Dan menariknya, kitab Ibrani kelak akan menegaskan bahwa darah lembu jantan tidak pernah dapat menghapus dosa. Yang dituntut adalah hati, mulut, dan pada akhirnya, seluruh diri, sebagaimana Kristus mempersembahkan diri-Nya. Doa yang Hosea taruh di mulut Israel adalah benih dari doa yang kelak diucapkan setiap orang berdosa yang datang kepada Yesus: buanglah kesalahan kami, terimalah yang baik.
Refleksi
Apa yang selama ini menjadi "Asyur" atau "kuda" atau "patung buatan tangan" dalam hidup saya, hal yang saya andalkan diam-diam lebih daripada Tuhan?
*Jika pengakuan yang jujur adalah "sapi jantan dari bibir", pengakuan apa yang selama ini terlalu mahal untuk saya ucapkan, dan apa yang menahan saya mengucapkannya di hadapan Tuhan hari ini
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Hosea 14
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti HOSEA 14?
Tentang apakah HOSEA 14?
Apa konteks historis dari HOSEA 14?
Apa yang HOSEA 14 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana HOSEA 14 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Hosea 14
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Perhatikan satu kata kecil di sana: kembali. Israel yang rusak oleh ulahnya sendiri tidak diminta memperbaiki diri lebih dulu. Mereka hanya pulang dan duduk "di bawah naungan-Nya". Di situ, tanpa dipaksa, hidup bertunas lagi seperti gandum, mekar seperti pohon anggur. Kamu pun tidak perlu berbunga dulu baru boleh pulang. Naungan itulah yang membuatmu berbunga.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menyembuhkan kemurtadan kami dan mengasihi kami dengan sukarela. Betapa lega hati ini, sebab murka-Mu telah berpaling. Cinta-Mu tidak menunggu kami sempurna dulu, melainkan datang lebih dahulu memulihkan.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
