YESAYA 40:8
Teks
Ada percakapan yang terjadi di antara suara-suara yang tidak kita lihat wajahnya. Satu suara memerintah: "Berserulah!" Dan suara lain, ragu, hampir letih, bertanya balik: "Apa yang harus kuserukan?" Jawabannya bukan penghiburan manis, melainkan pukulan telak: semua manusia seperti rumput, keindahannya seperti bunga di padang, dan napas TUHAN cukup untuk merontokkan semuanya. Baru sesudah itu datang kalimat yang menjadi poros ayat 8: "Rumput layu dan bunga gugur, tetapi firman Allah kita tegak selama-lamanya." Dua bagian, dipisahkan oleh satu kata kecil, "tetapi". Di kiri: kefanaan segala yang hidup. Di kanan: satu hal yang tidak ikut layu. Ayat ini tidak menghibur dengan menyangkal kematian, melainkan dengan menunjukkan apa yang tetap berdiri ketika segalanya sudah rebah.
Inti
Perhatikan apa yang tidak dikatakan. Nabi tidak berkata "manusia layu, tetapi jiwa manusia kekal". Ia juga tidak berkata "tetapi Allah itu kekal", meski itu benar. Ia berkata: firman Allah kita tegak selama-lamanya. Yang bertahan bukan sesuatu di dalam diri kita, melainkan sesuatu yang keluar dari mulut Allah dan ditujukan kepada kita. Kata Ibrani yang dipakai, dabar, berarti sekaligus "perkataan" dan "peristiwa"; firman Allah bukan sekadar informasi yang benar, melainkan tindakan yang terjadi. Karena itu janji di ayat 2, bahwa peperangan Yerusalem telah berakhir dan kesalahannya telah dihapus, tidak bergantung pada daya tahan orang yang mendengarnya. Umat yang rapuh itu boleh layu; pengampunan yang diucapkan atas mereka tidak ikut layu. Di situlah letak penghiburan yang sesungguhnya: keselamatan kita ditopang oleh kekuatan Sang Pengucap, bukan oleh kekuatan si pendengar.
Benang Merah
Suara di padang gurun itu tidak berhenti bergema di Yesaya 40. Berabad-abad kemudian, Petrus mengutip ayat ini kepada orang-orang Kristen yang tercerai-berai dan tertekan, lalu menambahkan satu penjelasan yang mengubah segalanya: firman yang tegak selama-lamanya itu adalah Injil yang baru saja diberitakan kepada mereka. Jadi rumput yang layu bukan lagi sekadar gambaran kefanaan umum; ia menjadi latar bagi kabar tentang Yesus. Dan perhatikan ironi yang kudus di sini: Firman yang tidak layu itu justru mengambil bagi diri-Nya tubuh yang bisa layu. Ia menjadi rumput. Ia gugur seperti bunga di padang, di kayu salib, pada suatu sore musim semi. Lalu Ia bangkit, dan sejak itu kefanaan kita tidak lagi memiliki kata terakhir. Ayat 9 sudah menantikannya: "Lihat, itu Allahmu!"
Cermin
Kita menghabiskan begitu banyak tenaga untuk melawan kalimat "rumput layu". Kita menamai gedung dengan nama kita, mengejar promosi yang akan dilupakan lima tahun setelah pensiun, memotret anak-anak agar sesuatu tinggal, memeriksa cermin untuk melihat berapa banyak yang sudah hilang tahun ini. Ayat ini tidak mengejek usaha itu; ia hanya menolak berpura-pura. Tubuh Anda memang sedang menua. Karier Anda memang akan berakhir. Nama Anda akan diucapkan dengan salah oleh cucu buyut Anda, kalau masih diucapkan. Yang mengejutkan: Yesaya menyebut semua kefanaan ini sebagai bagian dari penghiburan, bukan lawannya. Sebab jika hidup kita tidak perlu lagi menopang dirinya sendiri, kita boleh bernapas. Hari ini, tulislah di secarik kertas satu janji Allah yang Anda percayai, lalu ucapkan dengan suara keras sambil menambahkan: "Ini tidak ikut layu bersamaku."
Konteks
Kita berada di abad keenam sebelum Kristus, di antara orang-orang buangan yang lahir di Babel dan hanya mengenal Yerusalem dari cerita orang tua mereka. Bait Allah sudah runtuh. Raja Daud tidak lagi bertakhta. Generasi yang diangkut pergi sedang mati satu per satu di tanah asing, dan bersama mereka mati pula keyakinan bahwa Allah masih memegang janji-Nya. Di sekeliling mereka berdiri kekaisaran yang tampak abadi: tembok raksasa, prosesi para dewa, arsip-arsip kerajaan. Ke dalam ruang yang tercekik itu masuk perintah di ayat 1, "Hiburlah, hiburlah umat-Ku." Dan ketika utusan itu bertanya apa yang harus ia serukan, jawabannya justru dimulai dengan kefanaan. Bukan kefanaan Israel saja, melainkan kefanaan segala kuasa yang membuat Israel merasa kecil.
Pertanyaan
Ada yang mengganggu di ayat 7, dan sebaiknya kita tidak melewatinya: yang membuat rumput layu bukan cuaca, melainkan "napas TUHAN menerpanya". Allah sendiri yang meniup. Artinya kematian kita, kerapuhan kita, batas usia kita, tidak berada di luar kendali-Nya; itu justru datang dari arah-Nya. Bagaimana kita mendamaikan itu dengan Gembala yang di ayat 11 menggendong anak domba di dada-Nya? Saya tidak punya jalan pintas. Yesaya tidak menjelaskannya, ia hanya menempatkan kedua gambar itu berdampingan dalam satu tarikan napas. Mungkin justru itu poinnya: tangan yang meniup rumput sampai layu adalah tangan yang sama yang mengumpulkan kita. Kita tidak diminta mengerti; kita diminta memilih tangan siapa yang kita percayai.
Profil
Bayangkan Anda berdiri di pasar Babel dan mendengar seseorang menyerukan kalimat ini. Di kepala Anda muncul wajah-wajah: kakek yang mati di perjalanan, tetangga yang menyerah dan mulai menyembah patung yang dilapisi emas oleh pandai besi, seperti disindir di ayat 19. Anda tahu apa artinya rumput layu, sebab Anda sudah menguburnya. Tetapi kalimat kedua itu adalah pisau yang diarahkan ke Babel juga. Kekaisaran ini rumput. Nebukadnezar rumput. Yang tegak hanyalah firman Allah kita, dan kata "kita" itu terasa seperti pemberontakan kecil di tanah asing. Mereka mendengar sesuatu yang sering luput dari kita: ini bukan renungan tentang kefanaan hidup, ini pernyataan politik tentang siapa yang akan tersisa.
Refleksi
Apa yang sedang Anda perlakukan seolah-olah tidak akan layu, padahal sebenarnya rumput?
Janji Allah mana yang sedang Anda uji dengan kekuatan Anda sendiri, alih-alih membiarkannya menopang Anda?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 40:8
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 40:8?
Tentang apakah YESAYA 40:8?
Apa konteks historis dari YESAYA 40:8?
Apa yang YESAYA 40:8 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 40:8 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 40?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi