YESAYA 48:16
Teksnya
Setelah berhalaman-halaman Allah bicara tentang diri-Nya sendiri, tentang Babel, tentang Koresh yang dipanggil-Nya, tiba-tiba terdengar undangan yang lembut: "Mendekatlah kepada-Ku, dengarkanlah ini." Isinya sebuah pembelaan: Aku tidak pernah bekerja diam-diam, tidak pernah berbisik di ruang gelap; ketika peristiwa itu terjadi, Aku hadir di sana. Lalu, tanpa aba-aba, suara itu berganti: "Dan sekarang, TUHAN Allah mengutus aku dengan Roh-Nya."
Intinya
Ada dua hal yang ditegaskan di sini, dan keduanya menyerang ketakutan paling tua manusia tentang Allah. Yang pertama: Allah tidak esoteris. Ia tidak menyimpan rencana sebenarnya di balik layar sementara memberi umat-Nya versi yang dipermanis. Firman-Nya terbuka, bisa diperiksa, sudah diucapkan sebelum peristiwanya tiba. Yang kedua lebih dalam lagi: Ia tidak hanya berbicara tentang sejarah dari kejauhan, Ia hadir di dalamnya. "Pada waktu hal itu terjadi, Aku ada di sana." Bukan hanya meramalkan pembuangan, tetapi ikut turun ke dalamnya. Dan justru di titik itu, ketika kehadiran Allah dinyatakan, muncul seorang yang diutus, dibekali Roh. Seakan-akan kehadiran Allah dalam sejarah tidak cukup diucapkan; ia harus dikirim, berwujud, bernama.
Benang Merahnya
Siapa "aku" di akhir ayat ini? Secara wajar, itu suara nabi. Tetapi perhatikan letaknya: kalimat ini berdiri persis di ambang pasal 49, tempat Hamba TUHAN mulai berbicara dengan suara-Nya sendiri, dipanggil sejak dari kandungan, diutus bukan hanya untuk memulihkan Yakub tetapi menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Nabi meminjamkan mulutnya kepada Seorang yang lebih besar. Dan pola "diutus oleh TUHAN Allah, dengan Roh-Nya" itulah yang kemudian dikutip Yesus di sinagoge Nazaret dari Yesaya 61: Roh Tuhan ada pada-Ku, sebab Ia telah mengurapi Aku. Di sini, di tengah kitab yang paling keras membela keesaan Allah, terbuka celah: Yang Mengutus, yang diutus, dan Roh. Bukan alegori paksaan, melainkan retakan cahaya yang baru terbaca penuh ketika Firman itu menjadi daging.
Cerminnya
Kecurigaan bahwa Allah bekerja diam-diam di belakang punggung kita jarang diucapkan, tetapi hidup subur di bawah permukaan. Diagnosis dokter yang datang tanpa peringatan, keputusan atasan yang sudah bulat sebelum Anda diberitahu, pernikahan yang retak pelan-pelan selama bertahun-tahun tanpa Anda sadari: semuanya melatih kita berpikir bahwa yang menentukan hidup kita terjadi di ruang yang tertutup bagi kita. Dan di situ kita mulai mencari isyarat, tanda, kebetulan, apa saja yang mungkin membocorkan rencana rahasia Allah. Ayat ini memotong pencarian itu. Yang perlu Anda ketahui sudah diucapkan terang-terangan, dan Yang mengucapkannya ada di sana ketika hal itu terjadi. Hari ini: tulislah di selembar kertas satu peristiwa yang dahulu Anda alami tanpa merasakan kehadiran Allah, lalu bacalah keras-keras di atasnya kalimat ini, "pada waktu hal itu terjadi, Aku ada di sana."
Pertanyaannya
Kalau Allah tidak pernah berfirman dengan sembunyi-sembunyi, mengapa begitu banyak orang percaya hidup bertahun-tahun dalam kesunyian rohani yang terasa total? Jawaban murahannya adalah menyalahkan si pendengar: telinganya tertutup. Teks ini memang menyinggung itu, "telingamu belum terbuka" (ayat 8). Tetapi jujur saja, itu tidak menjelaskan segalanya. Yang ditegaskan ayat 16 bukanlah bahwa kita selalu merasakan Allah, melainkan bahwa Ia tidak menyembunyikan diri-Nya secara prinsip. Firman-Nya berdiri di luar perasaan kita, tersedia, terbuka, tercatat. Kehadiran-Nya di dalam sejarah tidak bergantung pada apakah kita mendeteksinya saat itu. Itu tidak melenyapkan rasa sunyi. Tetapi ia memindahkan pijakan: bukan lagi pada intensitas pengalaman, melainkan pada Seorang yang diutus dan datang.
Detailnya
"Mendekatlah kepada-Ku." Kata Ibrani di baliknya, qirvu, adalah kata yang biasa dipakai untuk imam yang mendekati mezbah, untuk persembahan yang dibawa masuk ke hadirat Allah. Kata ini bukan basa-basi. Dan kepada siapa kata itu diucapkan? Kepada orang yang baru saja disebut keras kepala, berleher urat besi, berkening tembaga, pemberontak sejak lahir. Allah tidak berkata "perbaiki dirimu lalu datang". Ia berkata: mendekatlah, dan dengarkan. Urutannya penting. Kedekatan mendahului perbaikan, sebagaimana kemudian, di seluruh Injil, orang berdosa lebih dulu duduk semeja dengan Yesus sebelum hidup mereka berubah. Undangan itu keluar dari mulut Allah yang sama yang berkata "demi diri-Ku sendiri, ya demi diri-Ku sendiri, Aku melakukan hal ini".
Profilnya
Mereka yang pertama mendengar ini adalah orang buangan di Babel, generasi kedua atau ketiga, yang lahir di kota dengan kuil-kuil megah dan prosesi dewa yang mengguncang jalan raya. Agama Babel penuh rahasia: pertanda dibaca dari hati domba, nasib diintip lewat bintang, dan hanya kasta ahli yang tahu artinya. Bagi telinga seperti itu, kalimat "Aku tidak pernah berfirman dengan sembunyi-sembunyi" adalah serangan langsung. Allah Israel tidak butuh peramal berbayar. Ia mengumumkan lebih dulu, di depan umum, dan kemudian menepatinya. Lalu, ketika mereka masih memproses itu, terdengar suara seorang yang diutus dengan Roh. Bagi tawanan yang merasa dilupakan, itu berarti: Allah tidak mengirim surat dari kejauhan, Ia mengirim seseorang.
Refleksi
Peristiwa apa dalam hidup Anda yang paling ingin Anda tanyakan kepada Allah, "Di mana Engkau waktu itu?", dan apa yang berubah jika jawaban-Nya adalah "Aku ada di sana"?
Anda lebih sering mencari petunjuk tersembunyi tentang kehendak Allah, atau mendengarkan apa yang sudah Ia katakan terang-terangan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 48:16
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 48:16?
Tentang apakah YESAYA 48:16?
Apa konteks historis dari YESAYA 48:16?
Apa yang YESAYA 48:16 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 48:16 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 48
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, aku datang membawa hati yang lelah karena sering memilih jalanku sendiri. Ajar aku untuk tunduk pada kehendak-Mu, sebab aku tahu tidak ada damai bagi hati yang melawan Engkau. Bentuklah aku menjadi anak yang taat, supaya damai-Mu boleh tinggal di dalamku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi