YESAYA 55:6
Teks
Bayangkan seorang bentara berdiri di pasar Babel, di antara pedagang yang meneriakkan harga roti dan anggur, lalu ia berseru dengan tawaran yang mustahil: datanglah, belilah, tanpa uang dan bayaran. Setelah undangan makan itu, nadanya berubah. Bukan lagi "mari makan", melainkan sesuatu yang mendesak: "Carilah TUHAN selagi Dia berkenan untuk ditemui. Panggillah Dia selagi Dia dekat." Dua kata kerja perintah, dua kali kata "selagi". Ada pintu yang sekarang terbuka, ada jarak yang sekarang tertutup, dan keduanya tidak dijamin selamanya. Ayat ini adalah jembatan antara meja perjamuan gratis di ayat 1 sampai 5 dan panggilan bertobat di ayat 7: nikmatilah, tetapi jangan menunda, sebab kesempatan ini punya batas waktu yang tidak kamu pegang.
Inti
Yang mengejutkan bukan perintah "carilah", melainkan alasan yang menyertainya. Israel tidak diperintahkan mencari karena Allah bersembunyi, tetapi justru karena Dia sedang dekat dan berkenan ditemui. Anugerah selalu mendahului pencarian; kita mencari karena Dia lebih dulu menyingkapkan diri, bukan supaya Dia mau menyingkap diri. Namun di situ pula letak ketegangannya. Kedekatan itu bukan properti tetap yang bisa kita simpan di laci dan ambil kapan saja kita sempat. Ada waktu berkenan, dan waktu itu bergerak. Bagi bangsa buangan yang sudah puluhan tahun hidup dengan Allah yang terasa jauh, kalimat ini sekaligus melegakan dan menakutkan: Dia dekat sekarang, dalam masa penghukuman yang hampir berakhir; tetapi menunda bukanlah tindakan netral. Menunda adalah jawaban, hanya saja jawaban yang tidak berani mengucapkan dirinya.
Benang Merah
Perhatikan siapa yang disebut tepat sebelum ayat ini: Daud, dan kasih setia yang teguh kepadanya. Undangan makan gratis itu bersandar pada sebuah perjanjian kekal, dan perjanjian itu punya wajah. Karena itu "selagi Dia dekat" bukan sekadar nasihat rohani umum; itu terikat pada saat-saat tertentu dalam sejarah ketika Allah mendekat dengan cara yang tak biasa. Pembebasan dari Babel adalah satu momen seperti itu. Kedatangan Yesus Kristus adalah momen yang jauh lebih besar, ketika kedekatan Allah bukan lagi kabar melainkan tubuh yang berjalan di Galilea. Yang di Yesaya masih berupa seruan bentara di pasar, dalam Injil berdiri di depan orang sebagai Pribadi yang berkata: datanglah kepada-Ku. Pintu itu terbuka lebar; justru karena itu menunda menjadi jauh lebih serius.
Cermin
Kita jarang menolak Allah dengan tegas. Kita hanya sibuk. Ada laporan yang harus selesai Jumat, ada anak yang perlu diantar, ada cicilan yang membuat tidur tidak nyenyak, dan doa dipindahkan ke slot "nanti kalau sudah lebih tenang". Yang berbahaya bukan pemberontakan, melainkan penundaan yang terdengar masuk akal. Ayat 2 sudah menyentil: uang dan jerih payah habis untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan. Dan sekarang ayat 6 menambahkan dimensi waktu: bukan hanya salah membelanjakan uang, tetapi salah membelanjakan kesempatan. Mungkin ada percakapan dengan Allah yang sudah setahun kamu tunda karena takut apa yang akan terbuka. Hari ini, sebelum tidur, ucapkan dengan suara keras satu hal yang selama ini kamu hindari katakan kepada-Nya, lalu diam satu menit.
Pertanyaan
Kalau Allah adalah kasih, mengapa ada "selagi"? Apakah ada saat Dia tidak berkenan ditemui? Teks ini tidak menjelaskan, dan sebaiknya kita jangan menutupinya dengan kalimat manis. Yesaya berbicara kepada bangsa yang tahu dari pengalaman bahwa ada masa ketika langit terasa perunggu, ketika nabi diam dan doa seolah memantul kembali. Mungkin batas itu bukan tentang Allah yang kehabisan kesabaran, melainkan tentang hati yang perlahan kehilangan kemampuan untuk tergerak; semakin sering kita menunda, semakin lemah suara yang memanggil terdengar di telinga kita sendiri. Tetapi teks tidak mengatakan itu dengan gamblang. Yang jelas hanya ini: peringatannya nyata, dan Allah tidak menganggap waktu sebagai persoalan sepele. Biarkan hal itu tetap terasa tidak nyaman.
Intertekstual
Paulus mengutip Yesaya ketika ia menulis bahwa sekarang adalah waktu perkenanan, sekarang hari keselamatan; ia membaca ayat semacam ini bukan sebagai ancaman melainkan sebagai jendela yang sedang terbuka dan harus dimasuki hari ini juga. Bandingkan itu dengan Amos, yang berbicara tentang kelaparan bukan akan roti melainkan akan mendengar firman TUHAN, ketika orang berjalan mencari dari laut ke laut dan tidak menemukan. Dua sisi dari kalimat yang sama. Yesaya 55:6 berdiri persis di antaranya: pintu masih terbuka, tetapi Amos mengingatkan bahwa pintu semacam ini bisa tertutup. Menariknya, Yesaya sendiri langsung membelokkan ketegangan itu ke arah anugerah, sebab ayat berikutnya menutup dengan janji bahwa Dia "akan mengampuni dengan berlimpah".
Detail
Kata "berkenan untuk ditemui" menyimpan sesuatu. Dalam bahasa Ibrani, kata kerjanya berbentuk pasif, nimtsa, secara harfiah "didapati" atau "membiarkan diri ditemukan". Allah bukan objek yang tergeletak menunggu ditemukan oleh pencari yang cukup gigih; Dia yang memutuskan untuk membiarkan diri-Nya ditemukan. Ini mengubah seluruh nada perintah itu. "Carilah" tidak berarti mendaki, membuktikan diri, atau berusaha cukup keras sampai layak. Artinya: bergeraklah ke arah Pribadi yang sudah membuka diri-Nya. Bagi orang buangan, itu berarti Allah yang tampak menghilang selama puluhan tahun sedang mengangkat tirai dengan tangan-Nya sendiri. Bagi kita, itu berarti setiap pencarian yang tulus sesungguhnya adalah jawaban atas undangan yang lebih dulu diucapkan.
Refleksi
Apa yang sebenarnya sedang kamu tunggu sebelum kamu bersedia mencari Allah dengan sungguh-sungguh, dan apakah alasan itu masih terdengar masuk akal ketika kamu ucapkan dengan suara keras?
Di bagian hidupmu mana Allah sedang terasa dekat sekarang, dan apa yang akan kamu lakukan berbeda minggu ini karena kedekatan itu tidak otomatis bertahan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 55:6
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YESAYA 55:6?
Tentang apakah YESAYA 55:6?
Apa konteks historis dari YESAYA 55:6?
Apa yang YESAYA 55:6 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YESAYA 55:6 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Isaiah 55?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi