Penjelasan Alkitab

YESAYA 59:17

Alkitab

Teks

Allah melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Tidak ada yang membela, tidak ada yang bersyafaat, tidak ada tangan manusia yang sanggup membereskan kekacauan yang dibuat manusia sendiri. Maka Dia bertindak seorang diri: "tangan-Nya sendiri memberi Dia keselamatan." Dan ayat 17 memperlihatkan apa yang terjadi berikutnya, dalam gambar yang nyaris bisa kita dengar bunyinya, logam yang digesekkan dan kain yang disampirkan: Allah mengenakan perlengkapan perang. Kebenaran menjadi baju zirah di dada-Nya, keselamatan menjadi ketopong di kepala-Nya, pembalasan menjadi pakaian yang melekat di tubuh-Nya, dan kecemburuan menjadi jubah yang membungkus seluruh diri-Nya. Allah tidak mengirim utusan. Allah sendiri turun ke medan, berpakaian lengkap, karena keadilan sudah terlalu lama terdesak ke belakang dan tidak seorang pun bergerak.

Inti

Perhatikan apa yang dikenakan-Nya. Bukan kekuatan, bukan kemahakuasaan, melainkan kebenaran dan keselamatan. Sifat-sifat Allah sendiri menjadi senjata-Nya. Artinya, ketika Allah bertindak melawan kejahatan, Dia tidak meminjam apa pun dari luar diri-Nya; Dia datang sebagai diri-Nya sendiri, dan itu sudah cukup. Di sinilah letak kabar baik yang mengejutkan dalam pasal yang sejauh ini hanya mendaftar dosa demi dosa: keselamatan tidak lahir dari perbaikan moral umat, tetapi dari kekecewaan Allah yang berubah menjadi tindakan. Dia "heran bahwa tidak ada seorang pun yang bersyafaat", lalu Dia sendiri mengisi kekosongan itu. Anugerah di sini bukan sentimen lembut, melainkan keputusan seorang pejuang. Dan pembalasan serta kecemburuan bukan cacat dalam karakter Allah, melainkan bukti bahwa Dia sungguh peduli pada korban kekerasan yang darahnya tertumpah di ayat tujuh.

Benang Merah

Ayat 16 mengatakan Allah "heran bahwa tidak ada seorang pun yang bersyafaat." Kalimat itu menggantung terbuka selama berabad-abad, sampai seorang Manusia berdiri di tempat kosong itu dan tidak beranjak. Yesus Kristus adalah jawaban atas keheranan Allah: Dia yang bersyafaat, Dia yang bertindak ketika tidak ada seorang pun yang mampu. Dan pasal ini sendiri menunjuk ke sana, "Seorang Penebus akan datang ke Sion." Yang mengejutkan, perlengkapan perang Allah di ayat 17 kemudian diserahkan kepada kita. Paulus mengutipnya dalam Efesus 6: baju zirah keadilan, ketopong keselamatan. Pakaian Allah menjadi pakaian umat-Nya, bukan karena kita ikut berperang menggantikan Dia, melainkan karena di dalam Kristus kita berdiri di dalam kemenangan yang sudah Dia rebut. Hanya satu bagian tidak pernah diberikan kepada kita: pakaian pembalasan. Itu tetap milik-Nya.

Cermin

Mungkin Anda mengenali keheranan Allah itu dari sisi yang salah: Anda yang melihat ketidakadilan di tempat kerja dan berpikir, kalau bukan aku, siapa lagi. Lalu Anda mengenakan zirah sendiri, menjadi hakim di grup keluarga, menyimpan daftar kesalahan orang, dan pulang dengan punggung yang sakit karena logam itu terlalu berat untuk tubuh manusia. Atau sebaliknya: Anda sudah lama berhenti berharap, karena keadilan memang tidak pernah datang untuk kasus yang menimpa Anda. Ayat ini menyentuh keduanya. Allah tidak menyuruh Anda memakai pakaian pembalasan; Dia memakainya sendiri. Dan Dia tidak diam. Hari ini, tulislah di selembar kertas satu nama atau satu situasi di mana keadilan sudah terlalu lama terdesak ke belakang, letakkan kertas itu di depan Anda, dan ucapkan dengan suara keras: "Pembalasan adalah pakaian-Mu, bukan pakaianku."

Tokoh Utama

Allah dalam ayat ini bukan hakim yang dingin di balik meja. Dia melihat, Dia tidak berkenan, Dia heran, dan Dia marah. Kata yang diterjemahkan "kecemburuan" adalah qin'ah, gairah yang membara, jenis perasaan yang dimiliki seorang suami yang melihat istrinya dilukai, bukan sikap tersinggung yang picik. Allah terlibat secara emosional dengan dunia-Nya. Darah orang tak bersalah di ayat tujuh bukan statistik bagi-Nya. Dan perhatikan: kemarahan itu tidak meledak serampangan, melainkan dikenakan, seperti orang mengenakan pakaian dengan sengaja, di atas lapisan kebenaran dan keselamatan. Urutannya penting. Yang paling dekat dengan dada-Nya adalah kebenaran; murka adalah lapisan luar. Allah yang berperang adalah Allah yang pertama-tama ingin menyelamatkan.

Profil

Pendengar pertama adalah komunitas yang pulang dari pembuangan ke kota yang hancur, hidup di bawah kekuasaan asing, dengan pengadilan yang bisa dibeli dan tetangga yang saling menipu. Mereka tahu persis bagaimana rupa tentara berbaju zirah: itu pemandangan harian, tentara kekaisaran yang berbaris di jalan mereka. Jadi ketika nabi melukiskan TUHAN mengenakan ketopong dan zirah, mereka melihat sesuatu yang mencengangkan: Allah mereka tampil dalam sosok yang selama ini menindas mereka, tetapi kali ini berpihak kepada mereka. Namun ada sengatnya. Pasal ini baru saja menjelaskan bahwa musuh yang sesungguhnya bukan Persia, melainkan tangan mereka sendiri yang najis oleh darah. Allah berperang, ya, tetapi sebagian medan perang itu ada di dalam rumah mereka sendiri.

Detail

Kembalilah ke ayat 6: "Jaring mereka tidak akan menjadi pakaian, mereka tidak dapat menutupi diri dengan apa yang mereka buat." Manusia menenun, rajin sekali menenun, tetapi hasilnya jaring laba-laba, terlalu tipis untuk menutupi apa pun. Lalu di ayat 17 datanglah Allah, dan Dia berpakaian. Benar-benar berpakaian: zirah, ketopong, baju, jubah. Empat lapis, lengkap. Kontras itu sengaja. Yesaya menaruh ketelanjangan manusia dan kelengkapan Allah bersebelahan. Semua usaha kita menutupi diri, prestasi, reputasi, pembenaran diri yang kita rajut setiap hari, pada akhirnya setipis sarang laba-laba. Satu-satunya pakaian yang menutupi adalah pakaian yang Dia kenakan dan kemudian Dia bagikan. Telanjang di hadapan Allah bukan akhir cerita; ada Seorang yang datang berpakaian lengkap, demi kita.

Refleksi

Pakaian apa yang selama ini Anda tenun sendiri untuk menutupi diri, dan apa yang akan terjadi jika Anda melepaskannya di hadapan Allah?

Di mana Anda masih diam-diam mengenakan "pakaian pembalasan" yang sebenarnya bukan milik Anda, dan kepada siapa hal itu terasa?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Isaiah 59:17

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti YESAYA 59:17?
Allah melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapa pun. Tidak ada yang membela, tidak ada yang bersyafaat, tidak ada tangan manusia yang sanggup membereskan kekacauan yang dibuat manusia sendiri. Maka Dia bertindak seorang diri: "tangan-Nya sendiri memberi Dia keselamatan.
Tentang apakah YESAYA 59:17?
Ayat 16 mengatakan Allah "heran bahwa tidak ada seorang pun yang bersyafaat." Kalimat itu menggantung terbuka selama berabad-abad, sampai seorang Manusia berdiri di tempat kosong itu dan tidak beranjak. Yesus Kristus adalah jawaban atas keheranan Allah: Dia yang bersyafaat, Dia yang bertindak ketika tidak ada seorang pun yang mampu.
Apa konteks historis dari YESAYA 59:17?
Allah dalam ayat ini bukan hakim yang dingin di balik meja. Dia melihat, Dia tidak berkenan, Dia heran, dan Dia marah. Kata yang diterjemahkan "kecemburuan" adalah qin'ah, gairah yang membara, jenis perasaan yang dimiliki seorang suami yang melihat istrinya dilukai, bukan sikap tersinggung yang picik.
Apa yang YESAYA 59:17 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Kembalilah ke ayat 6: "Jaring mereka tidak akan menjadi pakaian, mereka tidak dapat menutupi diri dengan apa yang mereka buat." Manusia menenun, rajin sekali menenun, tetapi hasilnya jaring laba-laba, terlalu tipis untuk menutupi apa pun. Lalu di ayat 17 datanglah Allah, dan Dia berpakaian.
Bagaimana YESAYA 59:17 masih relevan hari ini?
Di mana Anda masih diam-diam mengenakan "pakaian pembalasan" yang sebenarnya bukan milik Anda, dan kepada siapa hal itu terasa?
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Isaiah 59

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 15

Siapa yang menjauhi kejahatan menjadikan dirinya mangsa." Kalimat itu mungkin terasa terlalu akrab bagimu. Kamu memilih jujur, lalu justru kamu yang dirugikan. Tapi jangan berhenti di situ. Ayat yang sama berkata, "TUHAN melihatnya." Integritasmu tidak jatuh ke ruang kosong. Ada Mata yang mencatat, dan Dia tidak tinggal diam.

Syukur Editorial pada ayat 17

Terima kasih, Tuhan, Engkau sendiri yang mengenakan kebenaran sebagai baju zirah dan ketopong keselamatan. Engkau tidak berdiam diri melihat ketidakadilan, tetapi turun tangan dan berperang bagiku. Aku bersyukur keselamatanku bergantung pada kekuatan-Mu, bukan pada kekuatanku.

Wawasan Editorial pada ayat 4

Mereka mengandung kejahatan dan melahirkan kedurhakaan." Kejahatan tidak lahir mendadak. Ia dikandung dulu, diberi tempat, dirawat diam-diam dalam pikiran sampai cukup kuat untuk keluar jadi perbuatan.

Yesaya juga menyebut: tidak ada yang menyerukan keadilan. Diam pun bisa jadi bagian dari dosa itu. Apa yang sedang kausimpan dan kaubiarkan bertumbuh sekarang?

Wawasan Editorial pada ayat 18

Sesuai dengan perbuatan mereka, demikianlah Dia akan membalas," kata Yesaya 59:18. Allah tidak menutup mata pada ketidakadilan yang kamu alami. Tapi ayat ini juga menggeser tempat dudukku: apakah aku selalu berdiri di pihak yang dibela? Syukurlah, beberapa ayat kemudian datang Sang Penebus bagi mereka yang berbalik dari pelanggaran.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi