YAKOBUS 5
Teks Ini
Karat pada emas. Itu gambar pembuka Yakobus: logam yang secara kimiawi hampir tidak bisa berkarat justru dilukiskan membusuk, dan karat itu "akan menjadi bukti yang memberatkanmu serta akan memakan dagingmu seperti api." Pasal ini dimulai dengan ratapan atas orang kaya yang menahan upah pekerja, lalu berbalik kepada jemaat yang menderita dengan satu perintah: bersabarlah sampai kedatangan Tuhan, seperti petani menanti hujan. Dari sana Yakobus menutup suratnya dengan hal-hal yang sangat membumi: jangan bersumpah, berdoalah saat menderita, bernyanyilah saat bersukacita, panggil tua-tua saat sakit, akui dosa satu sama lain, dan kembalikan saudara yang tersesat.
Inti
Yang mengikat pasal ini adalah satu keyakinan: Allah mendengar. Upah yang ditahan itu "berteriak," dan teriakan itu "telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam." Yakobus memakai gelar perang Allah, Tuhan atas bala tentara langit, justru untuk soal gaji buruh tani. Itulah teologi Yakobus dalam satu kalimat: Allah yang memerintah semesta adalah Allah yang menghitung upah harian. Penghakiman bukan ancaman yang ditempelkan pada Injil, melainkan konsekuensi dari kesetiaan Allah terhadap ciptaan-Nya yang diperlakukan tidak adil. Dan sisi lain dari kesetiaan yang sama adalah belas kasihan: "Tuhan itu penuh belas kasih dan murah hati." Hakim di depan pintu dan Bapa yang berbelaskasihan adalah Pribadi yang sama.
Benang Merah
Teriakan upah yang naik ke telinga Allah bukan hal baru. Darah Habel berseru dari tanah; jeritan Israel di Mesir naik kepada Allah, dan Ia turun. Seluruh Alkitab bergerak dengan pola ini: Allah mendengar yang tak bersuara, lalu bertindak. Karena itu ayat 6 begitu menusuk: "Kamu sudah menghukum dan membunuh orang benar, dan dia tidak melawanmu." Pembaca Kristen tidak mungkin tidak teringat pada Yesus, Orang Benar yang dihukum dan tidak melawan. Kesabaran yang diminta Yakobus bukan pasrah tanpa daya; itu meniru cara Kristus menanggung ketidakadilan, dengan mata tertuju pada kedatangan-Nya. Antara hujan awal dan hujan akhir, gereja hidup sebagai petani: sudah menabur, belum menuai.
Cermin
Yakobus tidak menyerang kekayaan sebagai angka di rekening, tetapi kekayaan yang menumpuk sementara ada orang yang haknya tertahan. Pertanyaannya jadi sangat konkret: siapa yang bekerja untuk kenyamanan Anda, dan apakah mereka dibayar layak dan tepat waktu? Berapa lama Anda menunda pembayaran karena Anda bisa? Lalu ada teguran yang lebih halus di ayat 9: "janganlah kamu bersungut-sungut satu dengan yang lain." Menunggu membuat orang jadi masam. Kita menunggu kesembuhan, menunggu anak berubah, menunggu keadilan, dan sementara menunggu kita menggerutu tentang orang di sebelah kita. Yakobus menaruh Hakim tepat di ambang pintu ruangan itu, bukan untuk menakuti, melainkan untuk menghentikan gerutu yang menggerogoti persaudaraan.
Pertanyaan
"Doa yang dinaikkan dalam iman akan menyelamatkan orang yang sakit itu dan Tuhan akan membangunkannya." Kita semua pernah berdoa dengan iman di samping ranjang, memanggil tua-tua, mengurapi dengan minyak, dan orang itu tetap meninggal. Apakah imannya kurang? Yakobus sendiri tidak memberi jalan keluar yang mudah, tetapi ia meletakkan Ayub di halaman yang sama, orang yang doanya tidak mengubah penderitaannya selama berpasal-pasal. Yakobus juga menyebut pengampunan dosa dalam napas yang sama dengan kesembuhan, tanda bahwa "diselamatkan" di sini lebih luas daripada pulihnya tubuh. Yang dijanjikan adalah bahwa doa jemaat sungguh berkuasa dan sungguh didengar; kapan dan bagaimana Allah membangunkan, itu tetap ada di tangan-Nya. Mengaku itu jujur, bukan mengelak.
Profil
Penerima surat ini adalah orang-orang Yahudi Kristen yang tersebar, banyak di antaranya buruh tani harian di Palestina abad pertama, orang yang upahnya dibayar setiap sore karena kalau tidak, malam itu keluarganya tidak makan. Menahan upah bukan kelalaian administratif; itu membuat orang kelaparan. Mereka juga hidup di dunia di mana sumpah adalah alat hukum orang berkuasa, dan pengadilan lebih sering melindungi tuan tanah daripada penggarap. Ketika Yakobus berkata Hakim berdiri di depan pintu, telinga mereka mendengar kelegaan, bukan ancaman. Dan gambaran hujan awal dan hujan akhir bukan puisi bagi mereka; itu jadwal hidup mati, dua musim hujan yang menentukan apakah tahun ini ada panen.
Sang Tokoh Utama
Yang paling terang dalam pasal ini adalah Allah sendiri, dan Yakobus memperlihatkan-Nya dari dua sisi yang tidak boleh dipisahkan. Ia adalah Tuhan semesta alam yang telinga-Nya tertuju ke ladang, mendengar jeritan yang tidak masuk berita. Ia juga Hakim yang sudah berdiri di ambang pintu, dekat, siap. Tetapi kalimat kunci datang di ayat 11: setelah semua yang menimpa Ayub, yang terlihat pada akhirnya adalah "bahwa Tuhan itu penuh belas kasih dan murah hati." Elia disebut "manusia biasa seperti kita" bukan untuk memuliakan Elia, melainkan untuk memperlihatkan Allah yang membuka langit atas doa orang biasa. Itulah wajah Allah di pasal ini: keras terhadap penindasan, lembut terhadap yang letih, dan dekat.
Refleksi
Di mana dalam hidup Anda ada "upah yang tertahan," sesuatu yang berhak diterima orang lain dari Anda tetapi Anda tunda karena Anda bisa menundanya?
Yakobus menyandingkan menunggu dengan tidak bersungut-sungut. Terhadap siapa penantian Anda yang panjang mulai berubah menjadi gerutu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang James 5
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YAKOBUS 5?
Tentang apakah YAKOBUS 5?
Apa konteks historis dari YAKOBUS 5?
Apa yang YAKOBUS 5 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YAKOBUS 5 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang James 5
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, tegur aku kalau hatiku diam-diam bersandar pada apa yang kumiliki. Aku tidak ingin menumpuk sesuatu yang akan hilang dan lupa pada orang di sekitarku yang kekurangan. Ajar aku memegang uang dengan tangan terbuka.
Terima kasih, Tuhan, karena saat sakit aku tidak dibiarkan sendirian. Engkau memberi jemaat dan para penatua yang mendoakan serta mengurapi dalam nama-Mu. Terima kasih untuk tangan-tangan yang menopang dan doa-doa yang diucapkan saat aku terlalu lemah untuk berdoa.
Kemudian, dia berdoa lagi, dan langit menurunkan hujan, dan bumi menghasilkan buahnya." Perhatikan kata "lagi". Elia tidak berdoa sekali lalu selesai. Ada doa pertama, ada jeda bertahun-tahun, lalu doa berikutnya. Dan sesudah hujan pun, buah tidak langsung ada; bumi butuh waktu. Doamu yang kaupikir sia-sia mungkin sedang menunggu musimnya.
Terima kasih, Tuhan semesta alam, karena telinga-Mu tidak pernah tertutup bagi teriakan para penuai yang upahnya ditahan. Engkau mendengar setiap pekerja yang diperlakukan tidak adil dan tidak melupakan mereka. Aku bersyukur keadilan-Mu nyata, bahkan saat dunia diam.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
