MAZMUR 50
Teks
"Kamu mengira Aku seperti dirimu." Kalimat itu jatuh di ayat 21 seperti palu hakim, dan seluruh mazmur ini bergerak ke sana. Asaf melukiskan Allah yang datang dari Sion dengan api dan badai, memanggil langit dan bumi sebagai saksi, lalu menggelar sidang pengadilan, bukan terhadap bangsa-bangsa kafir, melainkan terhadap umat-Nya sendiri. Dakwaannya dua lapis: pertama kepada orang beribadah yang mengira Allah butuh daging kurban mereka (ayat 8-13), kedua kepada orang fasik yang fasih mengutip perjanjian sambil berkomplot dengan pencuri, berzina, dan memfitnah saudara sendiri (ayat 16-20). Tuntutan Allah ternyata sederhana dan justru karena itu menusuk: kurban syukur, nazar yang dibayar, seruan pada waktu kesusahan, dan jalan hidup yang ditata.
Inti
Mazmur ini membongkar ilusi transaksi. Agama transaksional berkata: aku memberi sesuatu kepada Allah, maka Allah berutang sesuatu kepadaku. Allah memotongnya dengan tawa yang dingin: "Jika Aku lapar, Aku takkan memberitahumu karena dunia dan segala isinya adalah milik-Ku." Kita tidak pernah memberi Allah apa pun yang belum menjadi milik-Nya. Persembahan kita, jam pelayanan kita, uang yang kita masukkan ke kantong kolekte, semuanya diambil dari gudang-Nya sendiri. Yang tersisa untuk kita berikan hanyalah syukur, kepercayaan, dan hidup yang ditata sesuai firman. Karena itu ibadah yang benar tidak pernah bisa dipisahkan dari etika. Allah tidak sedang membandingkan liturgi dengan moralitas; Ia menolak seluruh gagasan bahwa ibadah bisa menjadi tempat perlindungan bagi hidup yang tidak beres.
Benang Merah
Perjanjian di Sinai diikat "melalui kurban" (ayat 5), dan justru kurban itulah yang kini digugat penggunaannya. Pola ini terus berjalan sampai para nabi, dan berpuncak pada Yesus, yang datang bukan untuk menambah satu kurban lagi ke tumpukan, melainkan untuk mengakhirinya dengan diri-Nya sendiri. Ketika Ia mengutip Hosea, "Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan," Ia sedang berdiri persis di garis Mazmur 50. Dan perhatikan ayat 15: "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesusahan, Aku akan menyelamatkanmu." Itulah bentuk ibadah yang Allah cari, tangan kosong yang menadah. Injil bukan pembatalan tuntutan mazmur ini melainkan pemenuhannya: di dalam Kristus kita akhirnya bebas berhenti menyogok Allah dan mulai bersyukur kepada-Nya.
Cermin
Uji mazmur ini pada minggu Anda yang lalu. Anda melihat rekan kerja memanipulasi laporan biaya dan Anda diam, karena hubungan baik lebih mahal daripada kejujuran: "Saat kamu melihat pencuri, kamu berkenan padanya." Anda mengirim pesan tentang seorang saudara seiman yang tidak Anda sukai, dibungkus sebagai pokok doa: "kamu memfitnah anak-anak ibumu sendiri." Anda berjanji dalam doa akan mengubah sesuatu setelah masa sulit berlalu, dan masa itu berlalu, dan janji itu ikut menguap: "bayarlah nazarmu." Yang paling tajam adalah ayat 21. Karena tidak ada yang terjadi, kita menyimpulkan bahwa Allah tidak keberatan. Kesabaran-Nya kita baca sebagai persetujuan. Diam-Nya kita jadikan bukti bahwa standar-Nya sebenarnya sefleksibel standar kita.
Tokoh Utama
Allah dalam mazmur ini digambarkan dengan tiga nama sekaligus di ayat pertama, dan Ia datang bukan sebagai tamu melainkan sebagai Hakim yang membuka sidang atas umat-Nya. Namun perhatikan nada suara-Nya. Ia menyebut mereka "orang-orang yang Kukasihi" dan berkata "Aku adalah Allah, Allahmu." Ini bukan jaksa asing; ini Suami yang terluka, Pemilik perjanjian yang menuntut karena Ia terikat. Ada ironi getir dalam suara itu: "Apakah Aku makan daging sapi jantan?" Ada kesabaran yang panjang: "Aku tetap diam." Dan ada ancaman yang tidak dilunakkan: "jangan Aku merobekmu dan tidak ada yang menyelamatkan." Allah yang tidak marah pada dosa umat-Nya bukanlah Allah yang lebih baik, melainkan Allah yang lebih acuh.
Konteks
Asaf adalah pemimpin musik di rumah Tuhan, orang dalam, bukan nabi liar dari padang gurun. Mazmur ini kemungkinan dinyanyikan di pelataran Bait Allah, di tengah asap kurban dan bunyi ternak, tepat di jantung sistem ibadah yang sedang dikritik. Bentuknya mengikuti pola tuntutan perjanjian yang dikenal di dunia Timur Dekat kuno: raja besar memanggil saksi (di sini langit dan bumi), mengingatkan hubungan yang ada, membacakan pelanggaran, lalu menjatuhkan tuntutan. Bangsa-bangsa sekitar percaya dewa-dewa benar-benar makan dari kurban. Israel hidup di tengah cara berpikir itu, dan diam-diam terseret ke dalamnya, sampai Bait Allah terasa seperti dapur ilahi yang harus terus diisi supaya Allah tetap ramah.
Profil
Pendengar pertama adalah orang-orang saleh yang rajin. Mereka tidak absen dari ibadah; justru kurban mereka "selalu ada di hadapan-Ku." Mereka mengutip Taurat dengan lancar (ayat 16). Karena itu tuduhan ini pasti mengejutkan: mereka datang mengharap pujian dan mendapat surat panggilan pengadilan. Yang mereka dengar, dan yang sering luput dari kita, adalah bahwa keanggotaan dalam umat perjanjian tidak memberi kekebalan hukum. Sebaliknya, justru itulah yang membuat mereka bisa didakwa. Bagi mereka, api dan badai di ayat 3 membangkitkan ingatan akan Sinai; Allah yang dulu mengikat perjanjian kini datang menagihnya. Dan jalan keluar yang ditawarkan bukan lebih banyak ternak, melainkan syukur dan langkah yang ditata: "Barang siapa menetapkan jalannya, kepadanya akan Kuperlihatkan keselamatan Allah."
Refleksi
Di titik mana Anda diam-diam memperlakukan ibadah, pelayanan, atau persembahan sebagai kompensasi atas sesuatu dalam hidup Anda yang sebenarnya perlu dibereskan?
Adakah dosa tertentu yang Anda anggap ditoleransi Allah semata-mata karena selama ini tidak ada akibat yang terasa?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 50
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 50?
Tentang apakah MAZMUR 50?
Apa konteks historis dari MAZMUR 50?
Apa yang MAZMUR 50 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 50 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Psalms 50
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, aku sering sibuk sampai lupa mencari Engkau, dan baru sadar saat hidup terasa kosong. Tolong aku berhenti sejenak dan mengingat siapa Engkau bagiku. Jangan biarkan aku berjalan jauh sendirian; tarik aku kembali ke dekat-Mu.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
