YOHANES 21:12
Teks
Setelah jala penuh ditarik ke pantai, Yesus tidak berkhotbah dan tidak menuntut penjelasan. Ia berkata singkat: "Mari dan makanlah." Kemudian datang catatan yang aneh dari Yohanes, bahwa tidak seorang pun murid berani bertanya, "Siapakah Engkau?" bukan karena mereka ragu, melainkan justru karena mereka tahu. Mereka mengenali-Nya, dan pengenalan itu membuat mulut mereka terkatup. Di pantai Danau Tiberias, di pagi yang masih berkabut, ada bara api, ada roti, ada ikan, dan ada Dia yang beberapa minggu sebelumnya mereka lihat mati di kayu salib. Undangan makan dan keheningan yang penuh hormat: dua hal itu berdiri berdampingan dalam satu ayat, dan keduanya sama-sama penting.
Inti
Perhatikan apa yang terjadi di sini secara teologis. Orang-orang ini gagal semalaman, dan salah satu dari mereka menyangkal Yesus tiga kali. Yang pantas mereka terima adalah pertanyaan, tuntutan, mungkin penghakiman. Yang mereka dapat adalah sarapan yang sudah disiapkan sebelum mereka tiba. Inilah anugerah dalam bentuknya yang paling telanjang: bukan sekadar pengampunan yang diucapkan, tetapi meja yang sudah siap sebelum kita sempat memperbaiki diri. Api itu sudah menyala, roti itu sudah ada, sebelum jala mereka sampai ke darat.
Namun ayat ini menolak menjadikan anugerah sesuatu yang murahan. "Tidak satu pun dari murid-murid itu berani bertanya" adalah bahasa kekudusan. Mereka berhadapan dengan Tuhan yang bangkit, dan yang bangkit itu tetaplah Allah yang di hadapan-Nya orang tidak bercakap sembarangan. Di sinilah dua hal yang sering kita pisahkan bertemu dalam satu kalimat: keakraban meja dan kegentaran hati. Injil bukan Allah yang menjadi lebih kecil supaya kita nyaman; Injil adalah Allah yang tetap Allah, dan justru Dia yang memanggil kita makan bersama-Nya. Keselamatan berarti diundang ke meja oleh Dia yang kekudusan-Nya membuat kita diam.
Benang Merah
Makan bersama adalah salah satu benang paling tua dalam Alkitab. Di Sinai, setelah darah perjanjian dipercikkan, para tua-tua Israel naik ke gunung, memandang Allah, lalu makan dan minum tanpa binasa. Itu bukan piknik; itu tanda bahwa perjanjian sudah sah dan bahwa manusia berdosa boleh hidup di hadapan Allah yang kudus. Di pantai Galilea, hal yang sama terjadi dalam bentuk yang lebih sederhana dan lebih mengejutkan: bukan di puncak gunung yang berasap, melainkan di pasir basah, dengan ikan bakar. Perjanjian yang dulu dimeteraikan dengan darah korban kini dimeteraikan oleh Dia yang tubuh-Nya sendiri menjadi korban. Dan benang itu belum berakhir; kitab terakhir menutup sejarah dengan perjamuan kawin Anak Domba. Sarapan di Tiberias adalah cicipan pagi dari pesta yang akan datang.
Cermin
Kita cenderung membalik urutannya. Kita ingin membereskan diri lebih dahulu, baru datang ke meja. Anda mungkin mengenali pola itu: menunda doa sampai suasana hati membaik, menghindari Perjamuan Kudus karena minggu ini kacau, bekerja lebih keras di gereja untuk menutup rasa bersalah yang tidak pernah Anda ucapkan kepada siapa pun. Petrus tidak diberi kesempatan itu. Ia diberi makan dahulu, baru ditanya (ayat 15). Anugerah selalu mendahului pemulihan, bukan menyusulnya. Di sisi lain, ada bahaya sebaliknya: begitu terbiasa dengan Yesus sampai tidak ada lagi yang membuat kita diam. Bila doa Anda tidak pernah lagi mengenal jeda karena hormat, mungkin bukan Yesus yang Anda ajak bicara, melainkan gagasan tentang Dia yang sudah Anda jinakkan.
Detail
Kata "berani" dalam ayat ini menerjemahkan kata Yunani tolmaō, yang berarti memberanikan diri, nekat, mengambil risiko. Yohanes tidak menulis bahwa mereka tidak ingin bertanya, atau tidak perlu bertanya. Ia menulis bahwa tidak seorang pun berani. Ada sesuatu di pantai itu yang membuat pertanyaan biasa terasa lancang. Perhatikan alasannya: bukan karena mereka bingung, "karena mereka tahu bahwa Dia adalah Tuhan." Pengetahuan itulah yang membungkam. Kita sering mengira bahwa semakin kita mengenal Allah, semakin santai kita jadinya. Yohanes menunjukkan yang sebaliknya: pengenalan yang sejati menghasilkan sikap hormat yang membuat mulut terkatup, bahkan sambil tangan menerima roti dari tangan-Nya.
Konteks
Ini penampakan ketiga kepada murid-murid setelah kebangkitan, di Galilea, jauh dari Yerusalem dan dari ancaman para imam. Danau itu disebut Tiberias, nama kaisar Roma, pengingat bahwa dunia mereka tetap dikuasai orang lain. Para murid kembali ke perahu, ke pekerjaan lama yang mereka kenal, dan gagal semalaman. Yang perlu Anda perhatikan: ada bara api di pantai. Terakhir kali Petrus berdiri menghangatkan diri di dekat bara api, ia menyangkal Yesus tiga kali di halaman imam besar. Bau asap arang itu pasti membangkitkan ingatan yang menyakitkan. Yesus tidak menghindari tempat luka itu; Dia menyalakannya kembali, kali ini untuk memasak sarapan.
Profil
Pembaca pertama Injil ini adalah jemaat yang hidup satu dua generasi kemudian, sering di bawah tekanan, dan yang berkumpul justru untuk makan bersama. Mereka mendengar kisah ini sambil memegang roti di tangan mereka sendiri. Sebagian dari mereka pernah mundur ketika keadaan panas, pernah diam ketika seharusnya mengaku. Bagi mereka, kalimat "Mari dan makanlah" bukan detail sejarah, melainkan jaminan bahwa Tuhan yang bangkit masih memanggil para penyangkal ke meja-Nya. Dan keheningan para murid mengajarkan mereka nada yang benar dalam ibadah: bukan basa-basi rohani, melainkan hormat yang diam di hadapan Dia yang mereka kenal.
Refleksi
Kapan terakhir kali Anda datang kepada Yesus tanpa lebih dahulu mencoba membereskan diri, dan apa yang menghalangi Anda melakukannya?
Di mana dalam hidup Anda pengenalan akan Yesus masih menghasilkan diam yang penuh hormat, dan di mana ia sudah berubah menjadi kebiasaan yang tak lagi menggetarkan?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 21:12
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 21:12?
Tentang apakah YOHANES 21:12?
Apa konteks historis dari YOHANES 21:12?
Apa yang YOHANES 21:12 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 21:12 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam John 21?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi