YUDAS 1:3
Teks
Yudas menyapa para pembacanya dengan hangat, "Saudara-saudara terkasih", lalu mengaku bahwa surat ini bukanlah surat yang semula ingin ia tulis. Ia sedang bersiap, bahkan "berusaha keras", untuk menulis sesuatu tentang "keselamatan kita bersama": barangkali sebuah renungan yang meneguhkan, penuh sukacita atas apa yang telah Allah kerjakan bagi mereka semua. Tetapi sesuatu memaksanya mengubah rencana. Ia merasa perlu, ada desakan yang tidak bisa ia abaikan, untuk menulis hal lain: sebuah imbauan agar jemaat "berjuang sungguh-sungguh untuk iman yang disampaikan sekali untuk selamanya kepada orang-orang kudus." Nada suratnya berubah dari perayaan menjadi peringatan. Yudas menulis seperti orang yang sedang menyusun kata pengantar, lalu mencium bau asap dari ruangan sebelah dan langsung meletakkan penanya.
Intinya
Perhatikan susunan kalimatnya: iman itu "disampaikan", bukan ditemukan; dan disampaikan "sekali untuk selamanya". Kata Yunani yang dipakai Yudas untuk "berjuang sungguh-sungguh", epagōnizomai, berakar pada dunia arena gulat, dari sanalah kata "agoni" berasal. Jadi ada dua hal yang ditaruh berdampingan dan tidak boleh dipisahkan: sesuatu yang murni pemberian, dan sesuatu yang menuntut keringat. Iman bukan hasil kreativitas kita, sehingga tidak bisa kita perbarui sesuka hati; tetapi justru karena itu pemberian, ia layak dijaga mati-matian. Dan perhatikan kepada siapa iman itu dipercayakan: bukan kepada segelintir ahli, melainkan kepada "orang-orang kudus", yaitu seluruh jemaat. Anda termasuk di dalamnya. Yang dititipkan Allah kepada seluruh umat-Nya tidak bisa dialihdayakan kepada pendeta, penulis buku, atau pembicara favorit Anda. Titipan itu ada juga di tangan Anda.
Benang Merah
Yang dijaga di sini bukan sistem gagasan, melainkan seorang Pribadi. Lihat ayat berikutnya: para penyusup itu disebut "menolak satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Kristus Yesus." Jadi berjuang untuk iman berarti berjuang agar Yesus tetap menjadi Tuan, bukan maskot. Kata "sekali untuk selamanya" pun bukan istilah acak; itu bahasa yang di seluruh Perjanjian Baru melekat pada korban Kristus yang tidak perlu diulang. Karena karya-Nya selesai, kabar tentang karya itu juga selesai. Allah selalu bekerja begini: Ia memberi lebih dulu, lalu menitipkan pemberian itu kepada umat-Nya untuk dipelihara, dari Taurat yang dititipkan kepada Israel sampai Injil yang dititipkan kepada jemaat kecil yang membaca surat Yudas sambil ketakutan.
Cermin
Pertanyaannya sederhana dan tidak nyaman: kapan terakhir kali iman Anda memakan tenaga? Kita hidup di zaman yang menghargai keterbukaan lebih dari kesetiaan, dan diam-diam itu terasa lega. Di kantor, saat rekan menyindir orang percaya sebagai kolot, Anda ikut tertawa kecil. Di meja makan, ketika anak remaja Anda bertanya kenapa Yesus satu-satunya jalan, Anda mengalihkan pembicaraan karena tidak siap. Di grup jemaat, ada ajaran ganjil yang beredar dan Anda menunggu orang lain menegur. Kita menyebutnya kerendahan hati; Yudas menyebutnya melalaikan titipan. Ada juga kebalikannya: orang yang gemar bertengkar soal doktrin tetapi tidak pernah bergumul dalam doa. Yudas tidak menyuruh Anda menang debat; ia menyuruh Anda memegang erat.
Hari ini: tulis dengan tangan, di kertas atau di catatan ponsel, satu kalimat tentang Yesus yang belakangan ini Anda diamkan di hadapan orang tertentu. Sebut nama orang itu di bawahnya, lalu ucapkan kalimat itu keras-keras satu kali. Sepuluh menit, selesai.
Tokoh Utama
Yudas memperkenalkan diri bukan sebagai saudara Yesus, melainkan "pelayan Kristus Yesus dan saudara Yakobus". Ia memilih posisi rendah, dan justru dari sana ia berani keras. Perhatikan lanskap batinnya: ia sedang bersemangat menulis tentang keselamatan bersama, sesuatu yang ia nikmati, lalu ia harus menelan kekecewaan itu. Tidak ada kegembiraan polemik di sini. Ada seorang gembala yang mencintai jemaatnya, memanggil mereka "terkasih" sebelum memberi peringatan, dan yang mengakhiri suratnya bukan dengan kutukan melainkan dengan doksologi tentang Allah yang "berkuasa menjagamu tidak jatuh". Ia keras karena ia sayang. Itu kombinasi yang langka: orang yang berani menyebut bahaya tanpa kehilangan kelembutan.
Gema Kitab Suci
Paulus mengalami hal serupa di Galatia: ia bermaksud meneguhkan, lalu terpaksa terheran-heran karena jemaat begitu cepat berpaling kepada injil yang lain. Dua rasul, dua surat, satu naluri yang sama: kasih tidak diam ketika Injil digeser. Tetapi jangan lewatkan bagaimana Yudas sendiri menjelaskan bentuk perjuangan itu, beberapa ayat kemudian: "bangunlah dirimu sendiri di atas imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus." Jadi arena gulat itu ternyata berupa doa, pertumbuhan, dan belas kasihan kepada yang ragu. Perjuangan untuk iman dimulai di tempat yang tidak terlihat siapa pun, bukan di kolom komentar.
Detailnya
Ada satu surat yang tidak pernah kita terima: renungan Yudas tentang "keselamatan kita bersama". Ia sudah berusaha keras menulisnya, mungkin sebagian sudah jadi, lalu ia meninggalkannya. Detail kecil ini mengatakan banyak. Yudas mengorbankan surat yang ingin ia tulis demi surat yang perlu mereka baca. Kita cenderung sebaliknya: kita memberi orang lain apa yang nyaman kita berikan, bukan apa yang mereka butuhkan. Kata "aku merasa perlu" menandai titik balik itu, sebuah desakan yang mengalahkan rencana pribadi. Kadang kesetiaan berarti meletakkan proyek yang Anda cintai karena ada rumah yang sedang berasap.
Refleksi
Apa yang selama ini saya sebut "kerendahan hati" atau "tidak mau ribut", yang sebenarnya adalah rasa takut disebut kolot?
Jika iman ini dititipkan juga kepada saya, bukan hanya kepada para pemimpin, di mana titipan itu paling rapuh dalam hidup saya minggu ini?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Jude 1:3
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YUDAS 1:3?
Tentang apakah YUDAS 1:3?
Apa konteks historis dari YUDAS 1:3?
Apa yang YUDAS 1:3 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YUDAS 1:3 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Jude 1
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Yudas menyebut mereka "orang-orang yang bermimpi". Bukan karena tidur, tetapi karena hidup di dunia buatan sendiri, tempat suara Tuhan bisa diabaikan. Dari sana lahir tiga hal: tubuh dicemarkan, otoritas ditolak, kemuliaan dihujat. Kamu pun bisa bermimpi seperti itu, menata ulang kebenaran agar nyaman bagi keinginanmu. Siapa yang berani membangunkanmu?
Bapa, ada orang di sekitarku yang sedang bergumul dengan imannya, dan aku terlalu cepat menghakimi. Ajar aku untuk duduk bersama mereka dengan sabar, bukan menghakimi keraguan mereka. Kasihanilah aku juga, karena aku pun sering ragu.
Mikhael, penghulu malaikat, sedang berhadapan langsung dengan Iblis, dan yang keluar dari mulutnya hanya, "Kiranya Tuhan menegur kamu!" Ia punya kuasa, tetapi ia tidak merasa berhak menjatuhkan vonis. Sementara kita, dengan luka yang jauh lebih kecil, sering merasa wajib membalas sampai tuntas. Beranikah kamu menyerahkan satu nama hari ini kepada Tuhan, dan berhenti di situ?
Yudas baru saja bicara tentang orang-orang yang memecah belah, yang tidak memiliki Roh. Lalu nadanya berubah: "Akan tetapi, kamu, Saudara-saudara yang kukasihi, bangunlah dirimu di atas imanmu yang paling suci, berdoalah dalam Roh Kudus." Membangun itu lambat, batu demi batu, doa demi doa. Sementara banyak orang sibuk merobohkan, apa yang kamu bangun hari ini?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi