LUKAS 9:23
Teks
Sesudah Petrus mengakui Dia sebagai "Kristus dari Allah" dan sesudah Yesus berkata bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak, dibunuh, lalu dibangkitkan, Yesus berbalik dan berbicara bukan hanya kepada kedua belas murid, melainkan "kepada mereka semua". Syarat-Nya diucapkan dengan tenang dan tanpa pelunakan: siapa pun yang ingin mengikut Dia harus menyangkal dirinya sendiri, memikul salibnya setiap hari, dan berjalan di belakang-Nya. Tiga kata kerja, satu arah. Tidak ada penawaran, tidak ada versi ringan bagi mereka yang sibuk atau yang baru mulai. Dan yang membuat kalimat ini begitu tajam adalah letaknya: tepat sesudah Yesus mengumumkan jalan-Nya sendiri menuju kematian. Ia tidak meminta sesuatu yang tidak Ia jalani lebih dahulu.
Inti
Yang dibongkar di sini bukan perilaku kita, melainkan pusat gravitasi hidup kita. "Menyangkal diri" bukan berarti membenci diri, juga bukan sekadar berpuasa dari cokelat atau media sosial; kata Yunani arneomai adalah kata yang dipakai ketika Petrus kemudian menyangkal Yesus di halaman rumah imam besar, yaitu berkata "aku tidak mengenal orang itu". Yesus meminta kita mengucapkan kalimat itu kepada diri sendiri: aku tidak lagi mengenal diriku sebagai tuan. Salib di sini bukan metafora untuk penyakit kronis atau mertua yang sulit; bagi pendengar pertama, salib adalah kayu yang dipanggul terpidana menuju tempat eksekusinya. Maka mengikut Yesus berarti berjalan sebagai orang yang sudah kehilangan hak atas hidupnya sendiri. Keselamatan tetap anugerah murni, tetapi anugerah itu tidak pernah membiarkan kita tetap duduk di takhta kecil kita.
Benang Merah
Perhatikan kata "setiap hari" yang hanya ada pada Lukas. Kematian Yesus terjadi satu kali, tuntas, tidak terulang; tetapi kematian kita terhadap diri sendiri dicicil sepanjang pagi-pagi biasa. Lukas menempatkan ayat ini di ambang perjalanan besar: beberapa pasal kemudian dikatakan bahwa Yesus "meneguhkan hati untuk pergi ke Yerusalem". Seluruh Injil ini berbentuk perjalanan, dan syarat murid adalah berjalan di belakang-Nya di jalan yang sama. Di sinilah janji purba itu bermuara: Allah yang berjalan di depan umat-Nya melalui padang gurun kini berjalan di depan mereka menuju salib. Mengikut bukan menirukan pahlawan dari jauh, melainkan ikut serta dalam kematian dan kebangkitan-Nya.
Cermin
Anda mungkin tidak sedang menolak Kristus; Anda hanya sedang menegosiasikan Dia. Anda ingin Dia menyelamatkan karier Anda, bukan menuntutnya. Anda berdoa agar rumah tangga Anda pulih, tetapi bagian "menyangkal diri" Anda terjemahkan sebagai tugas pasangan Anda. Anda memberi, asal tidak sampai mengubah gaya hidup. Anda melayani, asal terlihat. Ayat ini mengambil semua kalkulasi itu dan menaruhnya di bawah kayu salib: yang harus mati bukan kebiasaan buruk Anda saja, melainkan hak Anda untuk menentukan arah. Itu menyakitkan, dan sekaligus membebaskan, sebab orang yang sudah menyerahkan hidupnya tidak punya apa-apa lagi yang bisa direbut orang lain darinya.
Hari ini, sebelum tidur, tulis di secarik kertas satu hal yang selama ini Anda anggap tidak boleh disentuh Tuhan, lalu ucapkan dengan suara terdengar: "Ini bukan milikku lagi."
Intertekstualitas
Ayat berikutnya menjelaskan logika yang mustahil ini: "siapa pun yang berusaha menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya." Genggaman erat justru yang meremukkan. Dan di akhir pasal yang sama, tiga calon murid muncul dengan alasan yang semuanya masuk akal, sampai yang terakhir mendengar kalimat keras itu: "Tidak seorang pun yang telah meletakkan tangannya pada bajak tetapi masih menoleh ke belakang yang pantas bagi Kerajaan Allah." Lukas sengaja menaruh keduanya berdekatan. Ayat 23 bukan seruan heroik sesaat, melainkan gambaran orang yang tangannya sudah di bajak dan matanya tetap ke depan. Menoleh ke belakang bukan dosa besar; itu hanya kerinduan lama yang tidak pernah dimatikan.
Pertanyaan
Lalu apakah keselamatan menjadi harga yang harus dibayar? Teksnya memang berbunyi "harus", dan kejujuran menuntut kita tidak melunakkannya. Namun perhatikan urutannya: Yesus lebih dulu berkata bahwa Anak Manusia harus menderita dan dibunuh. Salib-Nya yang menebus; salib kita yang mengikuti. Yang tetap tidak nyaman adalah bahwa Yesus tidak pernah memisahkan anugerah dari penyerahan, seperti yang sering kita lakukan agar Injil terdengar lebih ramah. Saya tidak bisa menyelesaikan ketegangan itu untuk Anda. Mungkin memang tidak boleh diselesaikan. Anugerah gratis, tetapi tidak murah, dan orang yang menerimanya berhenti menjadi pemilik hidupnya sendiri.
Profil
Pendengar pertama tidak perlu penjelasan tentang salib. Mereka pernah melihat barisan terpidana memanggul palang kayu melewati jalan desa, dikawal serdadu Roma, ditonton tetangga. Salib berarti kalah total dan dipermalukan di depan umum. Maka ketika Yesus memakai kata itu, tidak ada seorang pun yang berpikir tentang kesulitan hidup biasa. Mereka membayangkan aib. Dan bagi Lukas yang menulis untuk pembaca di dunia Yunani-Romawi, di mana kehormatan adalah mata uang sosial paling berharga, kalimat ini merobek segalanya. Mengikut Yesus berarti bersedia kehilangan nama baik. Itulah sebabnya ayat 26 langsung berbicara tentang rasa malu.
Refleksi
Apa satu keputusan konkret bulan ini yang akan terlihat berbeda jika Anda benar-benar bukan pemilik hidup Anda sendiri?
Di lingkungan mana Anda paling takut kehilangan nama baik karena Kristus, dan mengapa justru di sana?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Luke 9:23
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti LUKAS 9:23?
Tentang apakah LUKAS 9:23?
Apa konteks historis dari LUKAS 9:23?
Apa yang LUKAS 9:23 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana LUKAS 9:23 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Luke 9?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi