MATIUS 27:9
Teks
Tiga puluh keping perak sudah berpindah tangan tiga kali: dari imam-imam kepala ke Yudas, dari Yudas kembali ke lantai Bait Allah, lalu dari tangan para imam ke sebidang tanah tukang periuk. Dan pada titik itu Matius berhenti bercerita dan menunjuk: "Dengan demikian, genaplah apa yang dikatakan Nabi Yeremia: 'Kemudian, mereka mengambil 30 keping perak. Itulah harga untuk diri-Nya yang telah ditaksirkan oleh orang-orang Israel.'" Satu kalimat yang mengikat uang pengkhianat, penyesalan yang terlambat, dan keputusan praktis para imam ke dalam sebuah nubuat tua. Seolah Matius berkata: yang baru saja Anda baca bukan kecelakaan sejarah, melainkan sesuatu yang sudah lama tertulis, dan baru sekarang kita mengerti bunyinya.
Inti
Kata yang dipakai Matius, eplērōthē, "digenapi," berarti sesuatu yang penuh sampai meluap, bukan sekadar cocok. Dan yang digenapi di sini bukan adegan mulia. Yang digenapi adalah harga. Firman Allah ternyata cukup luas untuk menampung uang darah, rasa jijik para imam terhadap kas Bait Allah, dan tali gantungan Yudas. Inilah yang menggetarkan: Allah tidak menunggu sampai manusia bersikap pantas sebelum rencana-Nya berjalan. Ia bekerja justru di tengah tawar-menawar yang paling kotor.
Tetapi perhatikan kalimatnya sekali lagi: "harga untuk diri-Nya yang telah ditaksirkan oleh orang-orang Israel." Ada penilaian yang terjadi. Umat perjanjian menaksir nilai Anak Allah, dan angkanya keluar: tiga puluh. Apakah Matius ingin kita marah pada mereka, atau diam-diam bertanya berapa angka kita sendiri?
Benang Merah
Nubuat tentang tiga puluh keping itu lahir di tengah gambaran seorang gembala yang ditolak oleh kawanannya sendiri, dan upahnya dihitung dengan nada menghina: harga seorang budak. Matius menaruh gambar itu di atas kisah Yudas seperti kertas kalkir, dan garis-garisnya berimpit. Gembala yang ditolak kini berdiri terikat di hadapan Pilatus. Tetapi ada yang lebih dalam lagi. Sepanjang Perjanjian Lama, darah selalu punya harga yang tidak bisa dibayar manusia; karena itu ada korban, ada penebusan, ada hari raya. Di sini manusia mencoba memberi harga pada darah itu sendiri, dan uang itu ditolak kembali: "Tidak dibenarkan untuk menyimpannya dalam perbendaharaan karena ini adalah harga darah." Kas Bait Allah tidak sanggup menampungnya. Yang ditolak oleh Bait Allah justru akan menebus dunia.
Cermin
Kita jarang menaksir Kristus dengan angka bulat. Kita melakukannya dengan cara yang lebih halus: lewat jam yang kita sisihkan, lewat keputusan di kantor yang kita ambil tanpa pernah menimbangnya di hadapan-Nya, lewat kejujuran yang kita gadaikan demi proyek yang hampir selesai. Tiga puluh keping bukan jumlah besar; itulah justru yang mengerikan. Pengkhianatan jarang terjadi karena tawaran yang menggiurkan, lebih sering karena harga diri kita yang sedang murah dan butuh dibeli cepat. Dan perhatikan Yudas: ia menyesal, ia mengembalikan uangnya, ia mengaku "Aku telah berdosa," tetapi ia tidak kembali kepada Yesus. Penyesalan tanpa arah bisa membunuh.
Hari ini, tuliskan di secarik kertas satu hal yang belakangan ini Anda letakkan di atas Kristus, sebutkan harganya dengan jujur, lalu bakar atau sobek kertas itu sambil mengucapkan dengan suara keras: "Engkau layak lebih dari ini."
Intertekstualitas
Dua jejak Perjanjian Lama bersilangan di ayat ini. Yang pertama Zakharia 11, tempat tiga puluh keping perak itu dilemparkan ke rumah Tuhan sebagai upah gembala yang dihina; itulah sumber kata-katanya. Yang kedua adalah Yeremia, yang berulang kali dikirim ke tukang periuk dan ke tanah pekuburan untuk memperagakan penghakiman atas Yerusalem, dan yang pernah membeli sebidang tanah justru ketika kota itu hampir jatuh, sebagai tanda bahwa Allah belum selesai. Matius menyebut nama Yeremia, bukan Zakharia, dan saya kira itu bukan kekeliruan melainkan cara menumpuk dua gema. Uang pengkhianatan berakhir sebagai tanah kubur bagi orang asing. Penghakiman dan janji berdiri di petak tanah yang sama.
Pertanyaan
Mengapa Yeremia? Pertanyaan ini sudah dua ribu tahun diperdebatkan dan tidak ada jawaban yang menutup semua celah. Mungkin Matius mengutip dari gulungan kenabian yang dibuka dengan kitab Yeremia; mungkin ia sengaja menggabungkan dua suara; mungkin ia mengandalkan pembaca yang tahu kedua teks itu di luar kepala. Saya tidak akan berpura-pura memiliki kuncinya. Tetapi ada baiknya kita duduk sebentar dalam ketidakpastian ini tanpa buru-buru menambalnya. Firman yang kita percayai ternyata tidak selalu rapi menurut ukuran kita. Ia menuntut kita membaca lebih lama, bukan lebih cepat. Dan barangkali itu sendiri sebuah pelajaran: Allah tidak berutang kejelasan kepada rasa aman kita.
Tokoh Utama
Di ayat ini Yesus tidak berbicara, tidak bergerak, bahkan tidak disebut namanya. Ia hanya "diri-Nya" yang ditaksir. Dan justru di situlah Ia menjadi pusat. Seluruh adegan berputar mengelilingi seseorang yang diperlakukan sebagai objek transaksi: diikat, diserahkan, dihargai, dibuang. Beberapa ayat kemudian Matius mencatat, "Ia tidak menjawab apa pun." Diam itu bukan kelemahan melainkan penyerahan yang disadari. Allah yang menjadi manusia membiarkan diri-Nya dinilai oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang sedang mereka pegang. Ada sesuatu yang nyaris tak tertanggungkan dalam kesabaran itu: Ia tidak membetulkan harga-Nya, tidak membela nilai-Nya. Ia menunggu sampai salib yang berbicara.
Refleksi
Kalau Anda jujur menimbang hidup Anda sebulan terakhir, berapa harga yang tersirat untuk Kristus di sana, dan di titik mana angka itu paling terasa murah?
Yudas menyesal tetapi tidak kembali kepada Yesus. Adakah penyesalan dalam diri Anda yang sedang berputar-putar sendiri, dan apa langkah kecil pertama untuk membawanya kepada Dia?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 27:9
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 27:9?
Tentang apakah MATIUS 27:9?
Apa konteks historis dari MATIUS 27:9?
Apa yang MATIUS 27:9 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 27:9 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 27
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Terima kasih, Tuhan, karena tirai Bait Allah terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Bukan tangan manusia yang merobeknya, melainkan tangan-Mu. Sekarang aku boleh datang mendekat kepada-Mu tanpa perantara, tanpa takut, karena Yesus sudah membuka jalan itu dengan nyawa-Nya sendiri.
Matius 27:27 mencatat, "Kemudian, para prajurit gubernur membawa Yesus ke markas dan mengumpulkan seluruh pasukan mengelilingi-Nya." Bayangkan sejenak: satu orang, dikelilingi seluruh pasukan. Bukan karena Ia berbahaya, tapi karena Ia diam. Kadang Tuhan membiarkan diri-Nya kelihatan lemah, supaya kita tahu kasih-Nya bukan soal kekuatan, melainkan soal kerelaan menanggung.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi