MAZMUR 130
Teksnya
Seseorang berseru dari titik terdalam hidupnya, dari tempat yang dalam bahasa Ibrani terdengar seperti pusaran air yang menelan, dan yang ia minta hanyalah satu hal: agar telinga Allah terbuka. Lalu ia melontarkan pertanyaan yang membuat seluruh mazmur ini berputar pada porosnya, "Jika Engkau, ya TUHAN, mengawas-awasi kesalahan-kesalahan, ya TUHAN, siapa yang bisa bertahan?" Jawabannya tidak diberikan, karena jawabannya jelas: tidak seorang pun. Yang menyusul justru sebuah "akan tetapi" yang mengubah segalanya, yaitu pengampunan yang ada pada Allah sendiri. Dari situ pemazmur beralih ke penantian yang panjang dan tegang, seperti penjaga malam yang mengintai garis fajar, dan pada akhirnya ia menoleh ke seluruh umat: berharaplah, sebab penebusan pada TUHAN berlimpah.
Intinya
Ayat 4 adalah tempat di mana teologi mazmur ini paling terasa asing bagi telinga modern: "Akan tetapi, ada pengampunan pada-Mu, sehingga Engkau ditakuti." Kita akan menulis "sehingga Engkau dikasihi" atau "sehingga Engkau disyukuri". Pemazmur menulis "ditakuti". Ia tahu sesuatu yang mudah kita lewatkan: pengampunan bukan kelonggaran administratif, bukan Allah yang memutuskan bahwa dosa ternyata tidak seberapa. Pengampunan adalah tindakan berdaulat dari Pribadi yang berhak menuntut dan memilih untuk tidak menuntut. Justru di sanalah keagungan-Nya paling menakutkan, karena kita tidak memegang kendali apa pun atasnya. Allah yang menghukum bisa diperhitungkan; Allah yang mengampuni tidak bisa dimanipulasi. Dan perhatikan: pengampunan itu ada "pada-Mu", bukan pada tobat kita, bukan pada kesungguhan doa kita. Sumbernya sepenuhnya di luar diri kita. Kasih setia dan penebusan yang berlimpah di ayat 7 adalah bahasa perjanjian: Allah terikat pada janji-Nya sendiri, bukan pada prestasi umat-Nya.
Benang Merah
Perhatikan kata terakhir mazmur ini: "Dia akan menebus Israel dari segala kesalahannya." Penebusan, dalam bahasa Ibrani padah, adalah kata pasar dan kata perbudakan sekaligus: membayar harga agar seseorang yang terikat menjadi bebas. Israel mengenal kata itu dari Mesir. Yang mengejutkan di sini adalah objeknya. Bukan penebusan dari Firaun, bukan dari Babel, melainkan dari kesalahan. Pemazmur menemukan bahwa penawanan yang paling dalam bukan politik, melainkan moral, dan bahwa hanya Allah yang bisa membayar. Ketika Matius menulis bahwa Yesus akan "menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka", ia sedang menutup lingkaran yang dibuka mazmur ini. Salib bukan gagasan baru yang menyela Perjanjian Lama; salib adalah jawaban atas pertanyaan ayat 3 yang sudah lama menggantung tanpa dijawab.
Cermin
Ada dua cara menghindari mazmur ini. Yang pertama adalah menolak turun ke kedalaman: menyibukkan diri dengan pekerjaan, rapat, anak-anak, layar, apa saja asal jangan sunyi, karena dalam sunyi muncul wajah orang yang kita lukai atau kebiasaan yang tidak pernah kita akui. Yang kedua justru sebaliknya, tinggal di kedalaman dan menikmatinya, mengunyah rasa bersalah seolah penyesalan yang cukup lama akhirnya bisa membayar sendiri. Mazmur ini menutup kedua jalan itu. Pengampunan ada pada Allah, bukan pada kedalaman penyesalanmu, dan juga tidak pada kesibukanmu. Hari ini, sebelum tidur, sebutkan dengan suara keras satu kesalahan konkret yang selama ini kausimpan tanpa nama, lalu ucapkan setelahnya kalimat ayat 4: "Akan tetapi, ada pengampunan pada-Mu."
Pertanyaannya
Kalau pengampunan tersedia begitu berlimpah, mengapa pemazmur harus menunggu? Ayat 5 dan 6 bukan hiasan puitis; ada ketegangan nyata di sana, penjaga yang berdiri di tembok sepanjang malam sambil mengintai apakah langit di timur mulai memutih. Pengampunan itu pasti, tetapi tidak selalu terasa seketika. Kadang seseorang percaya bahwa Allah mengampuni dan tetap terbangun jam tiga pagi dengan dada sesak. Mazmur ini tidak menyelesaikan jarak itu. Ia hanya memberi arah pada penantian: "pada firman-Nya, aku berharap." Bukan pada perasaan yang berubah, tetapi pada janji yang sudah diucapkan. Fajar tidak datang lebih cepat karena penjaga menginginkannya; fajar datang karena matahari tidak pernah gagal terbit.
Tokoh Utamanya
Allah dalam mazmur ini digambarkan dengan telinga. Itu bukan kebetulan. Pemazmur tidak memohon kuasa, tidak meminta pembalasan atas musuh, ia meminta satu hal: didengar. Dan Allah yang dilukiskan di sini adalah Pribadi yang bisa mengawas-awasi kesalahan, artinya Ia memang mencatat, Ia memang menilai, Ia tidak buta terhadap yang kita lakukan. Kekudusan-Nya nyata dan berbahaya. Namun di dalam Diri yang sama ada pengampunan dan kasih setia, dan justru itulah yang membuat orang berani berseru dari pusaran. Inilah potret Allah yang tidak terbelah antara keadilan dan kasih, melainkan satu Pribadi yang kekudusan-Nya adalah alasan mengapa pengampunan-Nya begitu mahal, dan berlimpah.
Konteks
Mazmur ini adalah "Nyanyian Ziarah", salah satu dari kumpulan lagu yang dinyanyikan para peziarah yang mendaki ke Yerusalem untuk hari raya. Bayangkan jalan berdebu, keluarga besar, rombongan yang berjalan naik ke kota di atas bukit tempat korban dipersembahkan. Di tengah keramaian itu ada orang yang menyanyikan lagu tentang kedalaman air yang menelan. Ziarah bukan piknik rohani; orang naik ke Bait Allah justru karena ada yang perlu diselesaikan dengan Allah. Dan lagu ini berakhir tidak dengan "aku" melainkan dengan "Hai Israel". Pengalaman pribadi seorang berdosa berubah menjadi khotbah bagi seluruh umat, karena umat perjanjian itu tidak pernah berdiri di atas kesuciannya sendiri.
Refleksi
Di mana dalam hidupmu kamu masih mencoba membayar sendiri sesuatu yang sudah dibayar Allah?
Apa arti "menanti melebihi para pengawal menantikan pagi hari" dalam situasimu minggu ini: apa yang sedang kautunggui, dan pada janji mana kamu bersandar sementara menunggu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Psalms 130
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MAZMUR 130?
Tentang apakah MAZMUR 130?
Apa konteks historis dari MAZMUR 130?
Apa yang MAZMUR 130 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MAZMUR 130 masih relevan hari ini?
Apa yang menyentuh hati Anda dalam Psalms 130?
Belum ada wawasan yang dibagikan pada bagian ini. Jadilah yang pertama membagikan sesuatu: wawasan, doa, atau ucapan syukur.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi